أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (العنكبوت:٢)
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
Setiap manusia yang diberikan kehidupan apalagi mereka yang sudah menagaku beriman, pasti akan diberikan ujian oleh Allah. Ujian terkadang berupa kekayaan, kebahagiaan, keberlimpahan harta benda dan ada juga yang berupa kemiskinan, kesedihan dan berbagai wujud kekurangan lainnya.
Agar ujian terasa lebih ringan, yakinlah bahwa apa yang sedang terjadi datangnya dari Allah. Maka hargai apapun yang datang dan bersumber dari Allah, jika kita berhasil menghargainya, semua masalah akan terasa ringan.
Tidak ada masalah berat jika kita sudah menganggapnya ringan dan tidak ada masalah ringan jika kita menganggapnya berat. Masalah berat ataupun ringan sangat tergantung pada anggapan kita.
Yakin pula bahwa kita tidak akan pernah diuji diluar batas kemampuan kita. fahamilah bahwa jika kita diuji berarti kita memang layak untuk naik derajat dan kelas. Lihatlah fenomena masyarakat dan alam secara keseluruhan, hanya mereka yang diujilah yang akan mungkin naik dan juga turun ataupun tetap pada posisinya. Sebab, untuk mengetahui kenaikan, tetap ataupun turun dari posisi sebenarnya dengan ujian. Maka nikmatilah ujian sebagai media menaikkan posisi (derajat) kita disisi Allah Subhanahu Wa ta’ala.
Dan yakinlah bahwa tidak ada ujian yang diberikan Allah kepada hambaNya kecuali dibarengi dengan jalan keluar (solusi) nya.
فإن مع العسر يسرا. إن مع العسر يسرا
Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.
Yakin dan fahamilah bahwa, semakin tinggi derajat yang ada pada diri seseorang, akan semakin dahsyat pula ujiannya. Inilah yang telah ditegaskan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya yang berarti:
“Ya Rasûlullâh, Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” (HR. al-Tirmidzi).
Jadi ujian dengan pelbagi dimensinya (bahagia dan sedih), jadikan media kenaikan derajat kita disisi Allah, syukur saat ujian berupa kebahagiaan dan keberlimpahan harta didapatkan, maka ziyadah (bertambah) nikmat (ujian) yang akan kita rasakan. Sabar ketika kesedihan dan kepapaan menghantam kehidupan maka akan Allah angkat derajat sehingga bernilai pahala Nabi Allah Ayyub Alaihissalam yang sabar atas penderitaan yang menahun.
Renungkan hadits Nabi
Sungguh mengherankan bagi (perkara) yang dialami orang2 mukmin, semua kejadian yang dihadapinya terdapat kebajikan. Jika mendapatkan kelapangan ia bersyukur, maka akan dicatat menjadi kebajikan dan saat dirundung kemalangan ia bersabar iapun akan mendapatkan ganjaran kebaikan atas sabar yang dijalankannya”.
Ya Allah Ya Rabb, berilah kami kekuatan dalam mengatasi semua ujian yang Engkau berikan. Amin.



