Quo Vadis NWDI: Catatan kecil Muktamar Perdana

Quo Vadis NWDI: Catatan kecil Muktamar Perdana

Oleh : Muhammad Haramain (Perwakilan NWDI Sulawesi Selatan)

Menuju 1 Abad Madrasah NWDI di tahun 2037, kita masih memiliki waktu bekerja kurang lebih 15 tahun. NWDI dengan semangat (himmah) baru dan fresh. Mutamar NWDI perdana ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk menguatkan kapasitas dan eksistensi.

Masih terngiang-ngiang, petuah mendalam Syaikh TGB, agar jamaah NWDI tidak terjebak pada tradisi ahlul kalam (tukang bicara), bukannya ahlul ‘amal (para pekerja keras).

Tradisi para murid menger (loyal dan dedikatif) di era Maulana Syaikh, harus menjadi teladan bagi kita saat ini.

Membangun NWDI yang berkemanfaatan, salah satunya diawali dari reaktualisasi secara massif eksistensi Batu Ngompal sebagai basis pendidikan karakter dan Literasi al-Qur’an, reformulasi pola mushalla al-Mujahidin sebagai embrio madrasah NWDI.

Di masa depan, urgensi pengarusutamaan madrasah diniyah atau lembaga ribath-ribath para Tuan Guru Muda sebagai lembaga pendidikan primer bagi kaderisasi NWDI;

Dinamika Islam Indonesia, salah satu masalah umum adalah menurunnya mutu literasi al-Qur’an dan pemahaman keagamaan. NWDI dengan visi kebangsaan religiusnya harus tampil mengawal perubahan paradigma keagamaan yang moderat dan tafaqquh fid diin.

Secara internal, salah satu masalah yang belum fixed yaitu eksistensi Jama’ah Wirid yang vakum pasca wafatnya Bapak Koordinator, Allahu yarham, TGH. Muksin Makbul. Padahal secara kesejarahan, simpul-simpul jamaah wirid merupan core (inti) kita berjam’iyyah. Muktamar I NWDI harus menuntaskan persoalan regenerasi koordinator jamaah wirid untuk memastikan kebutuhan spiritual nahdliyyin di level wirid khusus dapat diakomodasi.

Masalah krusial lainnya di level nahdliyyin, ber-NWDI dalam praktek ‘amaliyyah (pengamalan), tapi kurang peduli dengan prinsip dan aplikasi jam’iyyah (organisatoris). Kita masih ramai ber-hizib secara ritual, namun tidak ber-hizib secara ideologis. Bukankah hizib yang menyatukan kita betapa pentingnya berkumpul dan terorganisasi dalam satu hizb (barisan kelompok)?

Di sisi lain, dibutuhkan desentralisasi pengajian. Kesan umum bahwa pengajian umum hanya terpusat di Pancor harus diperhatikan. NWDI idealnya membangun simpul-simpul keummatan di level madrasah periferal (pinggiran). Membangun interkoneksi antara PB NWDI hingga ke pelosok negeri.

Mari merenung, energi perjuangan habis percuma mengurusi konflik internal organisasi. Fokus kita hanya tentang NTB. Padahal NWDI memiliki basis kultural yang mengakar di pelosok-pelosok daerah. Meruwat kembali bagaimana al-Magfurlah membangun kohevisitas jama’ah di pelosok desa dan dasan, setidaknya mari mengedepankan konsep helicopter view (meminjam istilah TGB), agar pengurus NWDI memiliki wawasan luas terhadap detail perkembangan organisasi secara komperehensif.

Baik Pilkada maupun pemilu telah berkontribusi besar sebagai asbab polarisasi mengerikan jamaah NWDI. Politik praktis telah menafikan kapasitas esensial ajaran al-Magfurlah agar nahdliyyin berpolitik secara hukumah. Tragedi minna-minhum dalam tubuh internal nahdliyyin sebaiknya menjadi fokus NWDI, baik dari level pusat hingga daerah. Mari menyembuhkan luka akibat polarisasi yang tak berkesudahan ini.

Mungkin saja kita terlupa, bahwa ber-NWDI itu kita sedang mengemban amanat perjuangan sosio-religius yang berat. Legacy (warisan) al-Magfurlah tidak hanya tentang sejarah, tapi keberbelanjutan atas mandat kebermanfaatan NWDI bagi agama dan bangsa.

Di sisi lain, beban kaderisasi juga bukan tanpa kendala. Mari merenung sejenak, seberapa persen pola kohesivitas kader serta jenjang keorganisasian menjadi prasyarat utama kepengurusan di lingkup NWDU? Bukankah kita seakan lebih suka rekrutmen pengurus kepada non kader, asal berharap kemanfaatan dan jejaring. Maka para kader pun susah naik kelas. Ibarat klub bola, lebih memilih membeli pemain luar atau manager eksternal, daripada alumni akademi (kader badan otonom).

‘Ala kulli hal, menuju 1 Abad NWDI Tahun 2037, mari bekerja mulai sekarang. Ber-NWDI tidak hanya berharap pada pusat, tapi bergerak massif dan berdedikasi di setiap level ranting, madrasah, musholla dan masjid. NWDI akan meraih kebangkitan eksistensial berkemanfaatan dan berkemajuan mulai dari ranah kultural kita.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA