40 Hadits As Shaulatiyah. Hadits Ke Sembilan

40 Hadits As Shaulatiyah. Hadits Ke Sembilan

عن أنس رضي الله عنه قال: « كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أَحْسَنَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَشْجَعَ النَّاسِ » . رواه البخاري ومسلم

Artiya :
Dari Anas radliallahu ‘anhu dia berkata ; Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik, dan paling dermawan dan paling berani .
Hr. Imam Bukhori dan Muslim.
==========
Penjelasan Hadits :
Pada hadits ke Sembilan ini As Syekh Abdullah Al Lahjiy mendatangkan hadits tentang bagaimana sifat rasulullah, seakan akan beliau mengingatkan kita mari kita kebali berpegang teguh untuk selalu berpatoak kepada tata cara kehidupan rasulullah. Karena pada hadits ke sembilan ini menjelaskan tentang :
Sebaik baik Sifat yang dimiliki Nabi swa, Baik dari Bentuk fisik dan Perilaku yang tak bisa digambarkan sakin memiliki sifat kesempurnaan.
Kedermawan nabi yang tidak bisa diukur apapun.
Begitu juga keberanian nabi saw, yang tak dapat diragukan lagi.
Dari segi ahlaqnya Rasulullah , Allah telah memujinya dan diabadikannya dalam Alquran sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al Qolam ayat 4 :
وَاِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
Dan sungguh engkau (Muhammad) benar-benar , berbudi Pekerti yang luhur.
Dari segi fisik nya : Ummul mu’minin saiyidat ‘aisyah r.a berkata saindainya perempuan peremuan yang mengiris jari tangannya ketika melihat ketampanan nabi yusuf masih ada , kemudian melihat akan ketampanan nabi saw, niscaya bukan jaai jemarinya saja yang akan mereka iris, melainkan hantinya pun akan mereka ikut iris sakalian sakin terperanjaknya melihat ketampanan Nabi Saw.

Dari segi pemberaninya : dalam sebuah riwayat dikisahkan pada suatu ketika kota madinah ditimpa gempa bumi, semua orang merasa ketakutan , lalau nabi saw dengan gagah berani bangkit seorang diri mencari suber gempa dengan menaiki kuda, sampai dia jumpai titik sumber gempa tersebut.

Anas Bin Malik :
Dari Usia 9 tahun menjadi Pembantu Rasulullah, dan dia Bertahun-tahun melayani Nabi Muhammad Saw, ujar Anas bin Malik, belum pernah ia mendapati kata-kata kasar keluar dari mulut majikannya itu. Bahkan, muka yang masam tak pernah ditunjukkan kepadanya, apalagi memukul. Muhammad memperlakukan pembantunya, Anas, dengan lemah lembut.
Suatu hari, ungkap Anas, ia diminta untuk menyelesaikan sebuah urusan. Namun, ia melakukan kekhilafan. Anas malah bermain-main di pasar bersama sejumlah anak. Tiba-tiba, majikannya yang mulia itu muncul dan memegang bajunya dari belakang. Anas melihat wajah Muhammad. Bukan amarah yang terlihat, melainkan senyum yang menghias bibirnya.
Dengan lembut, Nabi Muhammad Saw, berkata, “Anas pergilah ke tempat yang aku perintahkan.” Uqbah bin Amir Juhani, pembantu lainnya, juga merasakan kelemahlembutan putra Abdullah tersebut. Meski hanya berstatus sebagai pembantu rumah tangga, Rasulullah tak menginginkan Uqbah menderita.
Menurut Uqbah, dalam sebuah perjalanan, Rasul meminta dirinya untuk bergantian menunggangi keledai yang dijadikan kendaraan. Sebab, ia tak ingin Uqbah kelelahan berjalan kaki.

Imam Al Bukhori :
Bulan Syawal menjadi momentum beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam. Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah RA terjadi di bulan Syawal. Beberapa peperangan, seperti Khandaq, Uhud, dan Hunain, juga terjadi di bulan ini.
Salah satu tonggak bersejarah lainnya dalam bulan Syawal adalah kelahiran imam besar dalam bidang hadis. Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari atau yang terkenal dengan sebutan Imam Bukhari lahir di bulan Syawal.
Sang Imam lahir tepatnya pada 13 Syawal 194 H di Bukhara, sebuah daerah di tepi Sungai Jihun, Uzbekistan. Ayahnya, Ismail, adalah seorang ulama yang saleh. Bukhara, yang juga disebut sebagai daerah Ma Wara an-Nahr, memang banyak melahirkan ilmuwan-ilmuwan Muslim.
Ketajaman ingatan dan hafalannya melebihi anak-anak seusianya. Saat berusia 10 tahun, Imam Bukhari berguru kepada ad-Dakhili, seorang ulama ahli hadits. Sang Imam tidak pernah absen belajar hadis dari gurunya itu.
Setahun kemudian ia mulai menghafal hadits Nabi SAW. Saat itu ia sudah ditunjuk untuk mengoreksi beberapa kesalahan penghafalan matan maupun rawi dalam sebuah hadits yang diucapkan gurunya. Pada usia 16 tahun ia sudah mengkhatamkan hafalan hadits-hadits di dalam kitab karangan Waki al-Jarrah dan Ibnu Mubarak.

Allahu’alam Bisshowab.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA