وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِۦ نَفْسُهُۥ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ
Wa laqad khalaqnal-insāna wa na’lamu mā tuwaswisu bihī nafsuh, wa naḥnu aqrabu ilaihi min ḥablil-warīd
Terjemahan: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,
Ibadah mestinya dapat menjadikan batin tenang dan merasakan kehadiran Ilahi setiap waktu, tempat dan juga saat. Ketika kita bekerja Allah hadir melihat pekerjaan kita, ketika kita berhenti Allah hadir pula dengan melihat pekerjaan yang sudah kita lakukan, jadi kapankah kita akan terbebas dari pengawasanNya? tidak akan, oleh karena itu jadilah hamba Allah yang selalu merasakan kehadiranNya sehingga tidak ada pekerjaan apapun kita lakukan yang tidak disukaiNya.
Kadang manusia merasakan betapa jauhnya pertolongan Allah, karena apapun yang dilakukannya selalu saja mengalami kegagalan. Tapi setelah dia memperoleh kesuksesan dan terhindar dari semua kegagalan yang dialaminya, dia pun lupa dan menjauh dari Allah Sang Pemberi kebebasan.
Kesulitan dan kemudahan, kesedihan dan kegagalan jika direnungkan keduanya berasal dari yang Maha Tunggal yakni Allah, namun mengapa manusia berbeda sikap dalam menghadapi kedua hal tersebut.
Bukankah kedua-duanya sama, didatangkan Allah sebagai “ibtila’/ujian”. Coba renungkan nilai-nilai yang diberitakan Allah dalam surat al-Fajr:
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.
Kedamaian bukan bererti kita harus berada di tempat yang tiada keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian sejati itu hati yang tenang dan tenteram, meskipun berada di tengah-tengah keributan luar biasa. Ini hanya boleh dinikmati oleh hati yang taqwa kepada Allah.”
Jika dianugerahkan nikmat (kemudahan juga kesuksesan) kita beranggapan Allah sedang sayang dengan kita, namun jika yang datang adalah musibah (kegagalan juga kesedihan) kita merasa Allah benci kepada kita.
Padahal kalau sama-sama kita sadari bahwa keduanya dihadirkan Allah untuk menjadi “UJIAN” dariNya, baik yang berupa nikmat maupun musibah, maka sikap kita tentunya akan sama dengan mensyukuri nikmatNya dan bersabar terhadap musibahNya.
Manusia oh manusia, akankah engkau ingkari beragam nikmat yang telah Allah anugerahkan dengan kegagalan, kesedihan yang saat ini engkau hadapi?.
Akankah musibah yang saat ini engkau alami membuatmu ingkar terhadap berbagai nikmat yang sudah diberikannya?, bukankah selama ini engkau telah memperoleh berbagai nikmat dan anugerah?.
Manusia oh manusia, kapankah engkau menyadari bahwa hidup yang sedang engkau jalani merupakan salah satu ujian untuk memperoleh kenikmatan sejati di Akhirat kelak?, bukankah engkau sudah memahami bahwa setiap manusia akan kembali kepada yang telah menciptakamu?. sudah siapkah engkau menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir? dan sudah siapkah menghadapi hari akhir hayatmu? persiapan apakah yang telah engkau lakukan?.
Semoga semua nikmat ataupun ujian yang Allah anugerahkan dapat kita mensyukurinya dan terhitung menjadi ibadah kita kepadaNya. Amin




