Hikmah Pagi: Sesuatu Yang Nampak Tekadang Tidak Mewakili Kebenarannya (3)

Hikmah Pagi: Sesuatu Yang Nampak Tekadang Tidak Mewakili Kebenarannya (3)

Akhirnya pertemuan yang singkat antara Nabiyullah Khidir dengan Nabiyullah Musa meninggalkan kesan dan hikmah yang sangat mendalam. Nabi Khaidir mengatakan: sebelum kita berpisah akan saya sampaikan kenapa saya melakukan sesuatu yang diluar nalar dan kebiasaan:

1. Saya melakukan perusakan perahu tersebut, karena perahu itu milik orang miskin yang digunakan untuk mengangkut orang dari satu tepi ke tepi yang lain. Sedangkan dihadapannya ada bajak laut yang akan menghadang dan merebut perahu tersebut. Sebelum hal itu terjadi, maka saya merusak perahu tersebut. (Lihat: Tafsir al-Qasimi, Jilid: 11/67). Supaya tidak menyebabkan hilangnya keimanan kedua orangnya,

2. Saya membunuh pemuda tersebut disebabkan karena dia kafir, sedangkan orang tuanya seorang mukmin. Karena saking cintanya kedua orang tuanya dikwatirkan akan mengikuti jalan anaknya kepada kekafirannya, sehingga ia ditaqdirkan untuk meninggal. Supaya tidak menyebabkan hilangnya keimanan kedua orangnya,

3. Saya memperbaiki rumah yang hampir roboh, karena rumah tersebut milik dua anak yatim, yang keduanya merupakan anak seorang yang shaleh dan taat kepada Allah. Dan ini bukan keinginan saya melainkan keinginan Allah ta’ala, hal ini menunjukkan orang yang shalih akan dijaga keturunannya oleh Allah ta’ala dan supaya membuat ketentraman bagi orang tuanya. Maka sebagian ulama tafsir mengatakan: keshalihan orang tua akan berefek kepada keturunannya. (Lihat: Tafsir Ibn Katsir, Jilid: 3/99),

Hikmah yang bisa diambil dalam peristiwa ini:
1. Untuk terus berpositif thinking memang berat, yang lebih mudah adalah negatif thingking,

2. Di atas orang yang cerdas masih ada yang lebih cerdas (artinya di atas langit masih ada langit), sehingga apabila dititipi kelebihan itu adalah bagian dari karunia Allah tidak perlu disombongkan,

3. Meminta kepada Allah untuk ditambahkan ilmu terutama ilmu syar’I, sangat berbahaya adalah orang sudah merasa cukup dengan ilmunya sehingga tidak mau menimbah ilmu kembali. Maka kisah Nabi Musa ini cukup menyentil dan menohok kita, sekelas Nabi masih diminta untuk menuntut ilmu, apalagi kita yang masih sangat-sangat jauh. Maka harus tetap semangat menuntut ilmu sampai menghadap Allah,

4. Kesuksesan butuh kesabaran untuk menghadapi setiap kesulitan yang terjadi, karena Allah senantiasa melihat sampai dimana perjuangan dan usaha kita, tingkat kesulitan dalam perjuangan menentukan tingkat kesuksesan yang akan datang,

5. Apa yang dilihat seorang guru terkadang jauh ke depan sehingga terkadang kita tak bisa menggapai maupun mencernanya, sehingga kita patut mendo’akannya. Sebagaimana apa yang dilihat Nabi Khidir tidak mampu dilihat oleh Nabi Musa,

6. Keikhlasan bukanlah konsumsi publik, akan tetapi ia adalah ikatan seorang hambah dengan pencipta-Nya. Sebagaimana keikhlasan Nabi Khidir mengajari Nabi Musa,

7. Manfaat seseorang bukan karena kecerdasan maupun kekuasaan yang ia miliki. Akan tetapi, sampai di mana orang lain merasakan manfaat darinya. Sebagaimana Nabi Khidir melakukan apapun yang beliau lihat adalah manfaatnya untuk orang banyak apapun itu, tanpa melihat apapun (baik materi atau inmateri),

8. Keshalehan orang tua berpengaruh kepada keturunannya.

Semoga kisah-kisah para nabi terdahulu bisa menjadi inspirasi dan memberikan manfaat dunia akhirat Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir ila Allah, ZA.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA