Prof H Agustitin :Membangun Rasa Percaya Diri Bahwa Ekonomi Secara Nasional Akan Segera Pulih

Prof H Agustitin :Membangun Rasa Percaya Diri Bahwa Ekonomi Secara Nasional Akan Segera Pulih

Percaya Diri (Self Confidence) yaitu meyakinkan pada kemampuan dan penilaian (judgement) diri sendiri dalam melakukan tugas dan memilih pendekatan yang dirasa cukup efektif. Hal ini termasuk kepercayaan atas kemampuannya menghadapi lingkungan yang semakin menantang dan kepercayaan atas keputusan atau pendapatnya.

Kepercayaan diri menurut ahli bernama Anthony ( 1992 ) yaitu sikap pada diri seseorang yang dapat/bisa menerima kenyataan, mengembangkan kesadaran diri, berfikir positif, memiliki kemandirian dan mempunyai kemampuan untuk memiliki segala sesuatu yang di inginkan

Sedangkan Hambly ( 1992 ) berpendapat bahwa kepercayaan diri diartikan sebagai keyakinan terhadap diri sendiri sehingga mampu menagani segala situasi dengan tenang, kepercayaan diri lebih banyak berkaitan dengan hubungan seseorang dengan orang lain. Tidak merasa inferior di hadapan siapapun dan tidak merasa khawatir apabila berhadapan mmasalah seprti kondisi saat ini semua kita dihadapkan dengan wabah COVID 19.

Berbicara tentang COFVID 19 dikaitkan dengan “Hasil Riset IMF mencatat 75% negara-negara di dunia kini sudah membuka kembali perekonomiannya, meski pandemi masih belum terkendali.”

Hal ini di sebabkan karena sikap percaya diri untuk melawan COVID dengan pemberlakuan ‘Lockdown” untuk menghambat pandemi tsb.
Walaupun, telah menyebabkan perekonomian dunia terpuruk.

Dampaknya adalah Perekonomian mengalami kontraksi yang al:
1. pengangguran meningkat pesat,
2. jumlah penduduk miskin melonjak.
Dampak dari dua hal tsb tidak ada pilihan memberanikan diri untuk membuka ekonomi, sembari menata sektor kesehatan guna menekan angka positif COVID 19 hingga dampak kematian .

Perekonomianpun tergerus akibat , Pandemi COVID-19, yang telah mengubah total wajah ekonomi dunia. Selama satu semester yang lalu, IMF harus tiga kali mengubah proyeksinya. Pada Januari, IMF memperkirakan ekonomi dunia akan tumbuh 3,3%. April 2020, IMF menurunkan proyeksinya menjadi minus 3%, yang diubah lagi menjadi minus 4,9% pada Juni. Dengan proyeksi tersebut, IMF memperkirakan total kerugian ekonomi global selama dua tahun (2020-2021) mencapai 12 triliun dolar akibat krisis.

Perubahan-perubahan proyeksi itu menegaskan bahwa dampak pandemi terhadap perekonomian lebih luas dari perkiraan semula.

Pemerintah negara-negara dunia memang berkomitmen menggelontorkan berbagai stimulus untuk menggerakkan lagi perekonomian. IMF mencatat, dukungan fiskal secara global untuk mengatasi pandemi COVID-19 ini sudah mencapai 10 triliun dolar AS.

Beragam kebijakan moneter juga digelontorkan mulai dari pemotongan tingkat suku bunga, injeksi likuiditas, pembelian aset dll. Bank Dunia memperkirakan ekonomi dunia akan menyusut 5,2 persen pada tahun ini. Ini berarti merupakan resesi terdalam sejak Perang Dunia II. Demikian Global Economic Prospects yang dirilis Bank Dunia pada Juni 2020. Diperkirakan ekonomi akan rebound ke 4,2% pada 2021. Pelemahan ekonomi membawa dampak yang luas. Jutaan orang jatuh ke jurang kemiskinan. Pada April, Bank Dunia memperkirakan 40-60 juta orang terdampak kemiskinan.
Ternyata di bulan April pandemi beralih dari Eropa dan Amerika Utara ke belahan Selatan. Hal itu meningkatkan angka kematian di negara-negara dengan penghasilan rendah-menengah, sehingga memicu shutdown lebih lama akibatnya biaya ekonomi semakin meningkatkan .

Dengan demikian Bank Dunia memperbarui proyeksinya. Melalui Global Economic Prospect, Bank Dunia memperkirakan 72 juta orang akan terdampak kemiskinan. Kontraksi ekonomi mengakibatkan kemiskinan ekstrem diperkirakan hingga mencapai 100 juta orang,
dan juga menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaannya. ILO memperkirakan, 195 juta pekerja penuh waktu terkena dampak pada kuartal II. Setelah beberapa bulan ekonomi tersandera COVID-19, beberapa negara memutuskan membuka lagi perekonomiannya secara bertahap, meski kasus positif terus bertambah.

Tanggal 1 Juni, Singapura sudah masuk tahap pertama membuka ekonominya. Pereekonomiannya dijalankan dalam tiga tahap. Rencana itu dijalankan saat kasus positif Corona terus bertambah. Per 28 Juni, ada tambahan 213 kasus, sehingga total menjadi 43.459 di Singapura.

Di Australia. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan, pembukaan kembali perbatasan akan menyokong pertumbuhan lapangan kerja, meski wabah baru muncul di negara bagian dengan penduduk terpadat .
Australia dikategorikan dalam negara yang bisa mengatasi penyebaran virus Corona. Total ada 7.700 kasus, dengan 104 kematian. Namun, dalam beberapa hari terakhir ada peningkatan kasus di negara bagian Victoria. Hal itu mengancam rencana untuk menghapuskan pembatasan social distancing pada akhir Juli. Victoria berbatasan dengan New South Wales dan Australia Selatan. Pembukaan perbatasan dikhawatirkan akan memperluas penyebaran virus.

Tanggal 11 Juni, Beijing melaporkan kasus pertama virus Corona hampir setelah dua bulan tidak terdampak.
Tetapi Beijing tidak menerapkan lockdown seperti Wuhan. Yang dilakukan pemerintah Beijing adalah melakukan tracing, testing, kemudian karantina terhadap yang positif. Mulai 24 Juni, jumlah kasus positif mencapai 269, dengan kasus tambahan sudah cenderung menurun.

Di Cina pada kuartal I perekonomian mengalami kontraksi terburuk. Ekonomi Cina menyusut hingga 6,8 persen, menyusul penutupan ekonomi untuk meredam penyebaran COVID-19.

Begitu pula Indonesia. Per 30 Juni, kasus positif COVID-19 di Indonesia menembus 56.385, dengan 2.876 kasus meninggal.

Di saat kasus positif Corona mencapai 23.165, dengan jumlah kematian sebanyak 1.418 jiwa, namun demikian Perintah justru mempersiapkan pembukaan ekonomi, dengan memastikan kesiapan menuju “normal baru”, dengan harapan rrakyatIndonesia tetap produktif dan aman dari COVID-19.”

Karena itu sektor-sektor ekonomi secara bertahap harus mulai dibuka, dengan menerapkan protokol kesehatan. Faktor ekonomi menjadi prioritas pertimbangan utama, yang selama masa pandemi dan PSBB diberlakukan,oleh sebab itu perekonomian harus di tumbukan kembali , agar tidak semakin buruk.

Pada kuartal I, ekonomi hanya mampu tumbuh 2,97%. Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh di kisaran -0,4% hingga 1%. Pada tahun 2019, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,02%.

Hanya konsumsi pemerintah yang diharapkan masih mencatat pertumbuhan positif di kisaran 3,3% hingga 4%, sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 3,2%. Tak ada pilihan lain selain membuka perekonomian untuk menyelamatkan ekonomi.

Di saat yang sama, penyebaran virus secara masif masih terus berlangsung. Muncul kekhawatiran gelombang kedua akan lebih buruk. Meski demikian, dengan penuh percaya diri tidak akan dilakukan penutupan ekonomi.

“Dengan penuh kepercayaan diri pula dipastikan kits tidak akan melihat penutupan total ekonomi global,”dengan harapannya, perekonomian bisa pulih dan di saat yang sama, penyebaran virus bisa semakin terkendali dan perekonomian Nasional sedikit demi sedikit ekonomi akan membaik.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA