KESEDIHANMU TANPA DISERTAI KEBANGKITAN UNTUK BERAMAL ADALAH KETERTIPUAN. Oleh : Prof. Dr. H. Thib Raya, M.A

KESEDIHANMU TANPA DISERTAI KEBANGKITAN UNTUK BERAMAL ADALAH KETERTIPUAN. Oleh : Prof. Dr. H. Thib Raya, M.A

Ibn Atha’illah berkata dalam untaian kalimat HIKMAHNYA yang ke-111:

76- الْحُزْنُ عَلَى فُقْدَانِ الطَّاعَةِ مَعَ عَدَمِ النُّهوضِ إِلَيْهَا مِنْ عَلَامَاتِ الاِغْتِرَارِ.
“Kesedihanmu karena kehilangan kesempatan untuk beribadah yang tidak disertai dengan upaya untuk bangkit untuk beramal adalah tanda ketertipuan.”

Kata kuncinya: “Kesedihan, ketaatan, kebangkitan, dan ketertipuan.”

Usia manusia berjalan terus seiring dengan perjalanan jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Bertambah panjang umur seseorang berarti bertambah banyak waktu yang telah dilaluinya. Umur yang panjang dalam pandangan Islam adalah sesuatu yang terbaik dari satu sisi, dan sesuatu yang terburuk dari sisi yang lain. Sisi yang terbaiknya adalah kalau umur yang panjang itu dimanfaatkan untuk beramal saleh. Sisi terburuknya adalah kalau umur yang panjang itu diisi dengan amal-amal buruk, jahat.

Ada orang yang sudah berumur panjang selalu mengenang perjalanan umurnya dengan kenangan yang enak-enak, dan kenangan yang tidak mengenakkan. Kenangan manis dan yang tidak mengenakkan itu tercatat dengan kuat dalam memorinya, sehingga kadang kala sulit terlupakan. Ketika dalam umur tertentu dari perjalanan hidup yang panjang itu dengan melihat masa lalunya dan memandang ke masa depannya yang tidak sedikit lagi, maka pada saat itulah manusia menyesali sebagian dari waktu hidupnya yang lalu yang tidak digunakannya untuk meraih prestasi yang sangat baik, untuk beramal yang terbaik. Pada saat itulah dia merasa sedih dan menyesal, mengapa pada masa muda dahulu tidak menggunakannya untuk berbuat yang terbaik.

Merasa sedih dan menyesal pada masa kini karena kehilangan kesempatan untuk beramal pada masa lalu adalah sesuatu yang sangat baik, adalah sesuatu yang sangat terpuji. Memang sudah menjadi rumus hidup, bahwa semua penyesalan tidak akan pernah terjadi sebelum sesuatu yang disesali terjadi. Penyesalan pasti muncul setelah sesuatu yang kita sesali terjadi. Kesedihan seseorang yang sudah berusia yang tidak memanfaatkan masa mudanya untuk beramal dan beribadah kepada Allah adalah sesuatu yang baik.

Penyesalanmu pada masa kini karena engkau tidak dapat mengisi umurmu pada masa lalu adalah sesuatu yang sangat baik, jika penyesalan disertai dengan upaya untuk bangkit pada hari ini, untuk memanfaatkan umur yang tersisa untuk melakukan amal dan beribadah kepada Allah. Jika ini yang terjadi padamu, pada ini berarti engkau berada dalam keberuntungan dan kesuksesan. Akan tetapi, jika penyesalanmu pada masa kini karena engkau tidak dapat mengisi umurmu pada masa lalu adalah sesuatu yang sangat buruk, jika penyesalanmu tidak disertai dengan upaya untuk bangkit pada hari ini, untuk memanfaatkan umur yang tersisa untuk melakukan amal dan beribadah kepada Allah. Jika ini yang terjadi padamu, pada hari ini berarti engkau berada dalam ketertipuan dan kegagalan.

Itulah yang dikatakan oleh Ibn Atha’illah di dalam untaian kalimat hikmahnya: “Kesedihanmu karena kehilangan kesempatan untuk beribadah yang tidak disertai dengan upaya untuk bangkit untuk beramal adalah tanda ketertipuan.”

Karena itu, bersedih boleh dan menyesali boleh, terhadap apa yang telah berlalu karena engkau tidak sempat beramal lebih banyak dan lebih baik, karena mungkin kesibukannya, karena ketidaktahuan, atau karena halangan lain. Tetapi, dalam penyesalanmu itu engkau harus bangkit pada hari ini untuk mengisi sisa hidupmu untuk beramal sesuai kemampuanmu. Kesedihan dalam hal ini menjadi sesuatu yang baik jika engkau bangkit untuk beramal dan beribadah. Jika kesedihanmu tidak disertai dengan upaya bangkit, maka itu adalah suatu ketertipuan.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA