Setiap orang pasti pernah merasa benci terhadap dirinya sendiri. Sering orang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan internal diri mereka sendiri, melakukan sesuatu yang berlawanan dengan hati nurani misalnya–membuat setiap orang menyesali apa yang mereka lakukan. Dalam konteks ini, setiap orang penting melakukan sesuatu yang selaras dengan hati dan pikiran. Yang unik kemudian adalah ketika orang menyesali apa yang dilakukannya, mereka akan menemukan dirinya digerogoti oleh banyak perasaan yang membuat diri mereka merasa benci terhadap diri sendiri. Apa yang dikatakan Carl Jung, ahli Psikologi Universitas Yale, mungkin menarik untuk anda; tahukah anda setiap manusia itu pada dasarnya mudah terganggu. Carl Jung dalam bukunya Psikologi dan Agama menjelaskan bahwa diri kita sering sekali menjadi tamu pada diri sendiri. Tamu yang dijelaskan Jung dalam hal ini adalah bagian dari sesuatu yang membuat kita merasa tidak tenang. Terkadang karena satu hal, membuat kita merasa banyak rasa yang membuat kita tidak tenang. Anda akan menyadari bahwa diri anda mengalami sesuatu yang anda sendiri tak mampu menjelaskannya–yang anda tahu adalah anda tidak tenang karenanya. Inilah yang kemudian disebut oleh Jung sebagai penyusup dalam diri anda. Penyusup inilah yang kerap kali membuat anda tidak tenang–pikiran andapun terganggu–saat itu rasional anda tertutup dan anda harus segera menenangkan diri–camkan ini sebelum anda lebih jauh lalu menyesal.
Tidak tenang pada dasarnya disebabkan karena self esteem. Secara alami setiap kita mencintai diri kita sendiri. Cinta dalam konteks ini tentu tidak bermakna dalam konteks mereka yang pacaran, melainkan semacam naluri untuk menjaga diri kita sendiri dari segala yang mengganggu. Pada dasarnya setiap kita memiliki naluri untuk meyelamatkan diri. Karena inilah potensi ketidak tenangan dalam diri kita muncul. Anda mungkin pernah mendengar cerita orang yang berpegang pada sebuah rumput ketika menyelamatkan diri dari air banjir. Cerita ini adalah contoh yang baik untuk menjelaskan soal naluri yang dimiliki manusia untuk menyelamatkan dirinya atau jiwa anda sendiri. Sampai disini ketidak tenangan memang satu paket dengan naluri menyelamatkan diri. Satu sama lain tak terpisahkan semacam sebuah sistem. Seperti apa yang dikatakan cendikiawan Muslim, Al Ghozali juga mengatakan hal yang sama; tubuh manusia dengan segala kekompleksannya merupakan sistem. Tambahan penjelasan Al Ghozali yang menarik kemudian adalah tak hanya alam, namun fenomena alam jiwa merupakan semacam pisau bermata dua. Sehingga bisa kita simpulkan bahwa hal ini adalah soal “man behind the gun”. Sesuatu yang selama anda anggap negatif semisal nafsu anda, perasaan negative anda tetap meiliki hal baik bagi diri anda dan saya. Tugas anda bagi Al Ghozali adalah memimpin diri anda. Anda adalah pemegang kendali untuk diri anda sendiri–anda tak bisa dikendalikan oleh siapapun sebagaimana anda juga tak bisa mengendalikan orang lain. Begitulah filsafat Stoik menjelaskan perihal manusia. Segala yang di luar anda, tak bisa anda kendalikan.
Seringnya yang menjadi kesalahan kita adalah ingin mengatur segalanya sesuai dengan keinginan, harapan kita. Kesalahan inilah yang membuat kita tak tenang secara otomatis. Sistem perasaan manusia bekerjanya seperti itu. Dia adalah kumpulan akibat–selama ada sebab, ia secara otomatis meresponnya. Disini kemudian penting menyadari apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak bisa. Soal ketenangan adalah soal kerealistisan kita memandang sesuatu. Pernah mungkin anda mendengar Lao Tzu, seorang filsuf China, mengatakan jika anda hawatir, maka anda di masa depan, jika anda merasa depresi, maka anda di masa lalu, jika anda merasa tenang, maka anda berada di masa ini. Apa yang disampaikan Lao Tzu adalah soal kerealistisan. Penyebab orang tak tenang, merasa depresi, merasa hawatir, galau disebabkan karena orang tak bisa menyelasaikan masalahnya–orang tak mengada di masa lalu dan masa depan–orang akan tenang jika ia realistis dan logikanya tak tertutup, fokus mengikuti hati nurani dan tentunya menyelesaikan masalah dimana ia mengada.




