TGB PINTAR BERGELAR MASTER (Curhatan Ummuna)

TGB PINTAR BERGELAR MASTER (Curhatan Ummuna)

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

Tulisan ini masih dalam serial vidio curhatan Ummuna Hajjah Siti Rauhun Zainuddin Abdul Majid Pancor. Sebuah vidio yang mengulas seputar jejak pendidikan Tuan Guru Bajang dari Muallimin hingga meraih gelar Doktor.

Sebagai mana yang sudah maklum, bahwa TGB mengenyam pendidikan S1, S2 dan S3 di Al-Azhar Cairo Mesir. Sebuah Universitas terbaik dan tertua di dunia. Sebuah sumber ilmu yang bergengsi. Kualitas alumnusnya tak teragukan.

Namun, seperti apakah jejak dan lika liku pendidikan TGB hingga bisa meraih gelar akademik master di sana?

Alkisah, Ummuna bercerita. Setelah TGB selesai S1, beliau langsung memberi tahu Umminya, sembari meminta petunjuknya ke mana harus melanjutkan.

Sebab TGB sendiri mengetahui dan menyadari betapa sulitnya masuk jenjang Master di Al-Azhar. Sistem di sana berbeda dengan sistem Universitas-universitas lain yang –meski– sama-sama tenar.

Sebagai gambaran betapa sulitnya sistem kelulusan di Al-Azhar itu. Kalau –misalnya– ada sepuluh mata kuliah, maka Anda harus bisa lulus pada semuanya. Apabila Anda tidak lulus pada salah satunya saja, berarti Anda gugur dan harus mengulangi semuanya dari awal.

Karena itulah, maka TGB memberi tahu Sang Azimat hidupnya, sembari bertanya di mana harus melanjutkan.

“Ummi saya sudah selesai S1. Sekarang, di mana Ummi mau melihat saya S2? Apakah Ummi mau melihat saya sampai jadi Doktor?” Tanya TGB kala itu.

Pertanyaan TGB itu sekaligus sebagai permakluman kepada Umminya, bahwa melanjutkan S2 di Al-Azhar tidak mudah dan tidak gampang. Sebab, –cerita TGB ke Umminya– orang baru bisa diterima sebagai mahasiswa S2 kalau Toefl bahasa Inggris mencapai 575, dan harus mendapat predikat S1 “Jayyid Jiddan”.

Menyadari betapa sulitnya potensi orang bisa melanjutkan Master di sana, TGB pun memberitahu dan menawarkan ke Umminya, bahwa ada Universitas lain yang lebih mudah diterima dan lebih cepat lulus meraih gelar, seperti di Universitas Ibnu Khaldun dan beberapa kampus lain di sekitaran Cairo.

“O, jangan melihat cepat selesainya saja. Tapi, prioritaskan dan pikirkan ilmu, yang terpenting itu bisa mendapat banyak ilmu.” Jawab Ummuna kepada putra emasnya, sampai kemudian TGB melanjutkan S2 di Al-Azhar.

Nah, sampai di sini, apa pelajaran penting yang bisa dipetik dari sepenggal cerita tersebut?

Pertama, marwah dan kualitas sebuah institusi pendidikan (sekolah, madrasah dan atau kampus) adalah bergantung, bila mana ia mau lebih mengedepankan ilmu pengetahuan. Harus memiliki sistem rekrutmen yang originil dan berbobot. Tidak gampangan, sehingga layak dipertimbangkan. Itu yang dicontohkan Al-Azhar.

Kedua, anak saleh selalu melibatkan ibu kandungnya dalam perkara-perkara serius, besar dan penting. Bagi anak saleh, pertimbangan dan keputusan serta ridha ibu, adalah sebuah azimat yang cukup baginya. Cara ini yang diperlihatkan TGB kepada kita.

Walhasil, berkat kebaktian kepada umminya, TGB lulus jenjang master dengan predikat “Jayyid Jiddan” pada tahun 2001. Dengan kemampuan bahasa Inggris tingkat mahir (Advanced).

Ketiga, dari penggalan cerita di atas, Ummuna Hj. Siti Rauhun Zainuddin Abdul Majid memberi keteladan sikap dan prioritas kepada para ibu-ibu dunia, bahwa selakn memproteksi anak harus menjadi begini atau begitu, tapi harus menanamkan pada jiwanya untuk memilih yang prioritas.

Artinya, dengan sikap dan jawaban Ummuna kepada putranya, terlihat bahwa ilmu lebih utama dari hanya sekedar perolehan gelar. Rupanya, menurut hemat penulis, bahwa Ummi sejalan dengan pernyataan Maulana Syaikh, “Ijazah terbaik adalah ijazah masyarakat.”

Seakan Ummuna hendak berkata, “Wahai ibu-ibu (juga bapak-bapak), jangan tertipu oleh selembar kertas mengkilat, tanpa mementingkan nilai anakmu di tengah masyarakat (menjadi berilmu).”

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 22 September 2020 M.

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA