Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Pada perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. tahun 1440 H. Tuan Guru Bajang menghadiri undangan dari keluarga besar Yayasan H. Maming 69 di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu di wilayah Banjar Kalimantan Selatan.
Pada acara tersebut, saya rasa shahibul hajat sangat beruntung sekali, sebab perayaan maulid itu dari awal dihadiri TGB. Bayangkan saja, pembacaan maulid Nabi selama durasi 1 jam, 3 menit, 15 detik diikuti penuh khidmat oleh ulama jebolan Al-Azhar tersebut.
Acara berlanjut sampai menjelang TGB tausiyah, didahului pembacaan ayat suci al-Qur’an yang dilantunkan oleh qori internasional terbaik tiga tahun 2018 di Jakarta, kemudian acara diteruskan dengan sambutan Pak Bupati Tanah Kumbu dan sambutan ketua Yayasan H. Maming 69.
Sampailah pada giliran TGB menyampaikan tausiyah. Beliau dengan penuh adab dan sopan berdiri dan menghormati para Habaib, Syarifah, guru-guru, Kiyai, Ketua MUI dan keluarga besar Yayasan yang mengundang, sembari mendoakan agar tanah Banjar menjadi tanah yang berkah.
Pada kesempatan tersebut TGB menyampaikan bahwa kita sebagai umat Islam tidak sama semua. Ada yang alim karena sudah lama belajar. Ada yang saleh karena banyak ibadah yang pernah diperbuatnya, dan atau ada yang sangat dekat dengan Allah karena banyak taqarrubnya.
“Ulun (saya) ini sama seperti bapak ibu hadirin sebagai orang biasa. Kecuali para Habaib dan guru-guru kita yang di depan.” Kata TGB penuh tawadduk dan dan mentakzimi para habaib.
Namun meski demikian, “Walaupun kita orang biasa, kita tetap bisa mendapatkan peluang bersama dengan Rasulullah saw. kelak di akhirat dengan satu syarat, yakni dalam hati kita ada mahabbah dan cinta kepada Rasul”. Kata Tuan Guru Bajang memotivasi jamaah.
Rupanya TGB, sangat mengerti hakikat cinta. Bahwa cinta selain butuh bukti berupa sikap dan perbuatan, juga penting diucapkan. Maka beliau mengajak para hadirin untuk mengikrarkan cintanya kepada sang Baginda junjungan alam semesta.
“Saya Cinta Rasulullah saw.” Kata TGB dua kali dengan suara meninggi dan mengepalkan tangan ke atas, yang diikuti para hadirin semua dari kalangan tua dan muda. Ramai dan serentak!.
ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد . (سورة ق : ١٨) .
Ayat tersebut dibaca TGB. Menjadi pengingat dari beliau, bahwa ikrar cinta yang terucap, seketika dicatat oleh para malaikat Ralib dan Atid. Sebagai sebuah tanda bukti dam bakti cinta kepadanya.
Selain itu, TGB juga mengingatkan jamaah bahwa pada hari akhir nanti, seseorang akan bersama siapa yang dicintai tatkala di dunia ini. Beliau mengutip hadis;
المرأ مع من أحب يوم القيامة . (الحديث) .
“Seseorang akan bersama orang yang paling dicintainya pada hari kiamat.” (Al-Hadis).
Makanya, kata TGB: kalau orang cinta dunia, maka ia akan lekat pada kehidupan dunia. Kalau cinta kepada Rasulullah melebihi kecintaan kepada yang lainnya, maka mudah-mudahan kita mendapat syafaatnya dan bersama Nabi di jannah-Nya.
اللهم شفعه فينا .
“Ya Allah, berilah kami syafaat Nabi Muhammad saw kepada kami.” Adalah doa yang dibaca TGB berulang-ulang sampai tujuk kali, sembari diaminkan para hadirin yang memenuhi arena dakwah yang seluas auditorium besar itu.
Semoga kita yang menulis dan membaca tulisan ini, juga memperoleh syafaat baginda semesta, sang sejati pemilik cinta.
Wa Allah A’lam!
PP. Selaparang, 18 Oktober 2020 M.


