Oleh : Sabila Ferisya (Siswi SMP Laboratorium Jakarta)
Ada sebuah mitos tentang air mancur di taman dekat rumahku. Mereka semua memanggilnya Fountain of Hope (Air Mancur Harapan). Air mancur ini adalah air mancur yang akan mengabulkan permintaanmu, jika kamu melemparkan koin ke dalam air mancur itu sambil berdoa—sama seperti ritual penghormatan air mancur lainnya yang sering kamu dengar sebelumnya.
Semua orang di lingkunganku percaya kepada mitos itu. Mungkin hampir semuanya. Karena ada banyak juga kejadian-kejadian mengenai harapan orang yang terkabul sehabis mereka melemparkan koin sambil berdoa. Seperti; kakek-kakek yang miskin yang tiba-tiba menjadi kaya, seorang anak yang terus-menerus di-bully sekarang sudah berhenti, dan gadis kecil yang mempunyai cacar selama berbulan-bulan—kini dia sudah sehat; semua ini karena berdoa pada Fountain of Hope.

Namun, entah mengapa, hanya akulah yang tidak percaya terhadap mitos ini. Orang-orang sekitar lingkunganku dan juga teman-temanku sering sekali memaksaku untuk percaya. Tapi tetap saja, aku tidak percaya. Aku pun tidak peduli. Bagiku; air mancur itu hanya sebuah cerita kanak-kanak yang konyol.
Tetapi, selain mitos itu; air mancurnya sendiri sungguh cantik. Warnanya Putih, terbuat dari marmer. Air dari air mancur-nya berkilap di bawah sinar matahari saat pagi dan sore. Banyak orang-orang mengunjungi Fountain of Hope saat waktu pagi, mungkin karena mereka ingin melihat Fountain of Hope yang berkilap.
Sekarang jam 8 pagi. Aku sedang duduk di bangku seberang Fountain of Hope sambil membaca buku. Pagi ini adalah pagi yang indah; banyak orang berkumpul di taman ada yang sedang berpiknik, ada yang duduk dan bersantai di air mancur, ada yang berolahraga, dan bahkan ada yang mengajak anjingnya jalan-jalan.
“Isla!!!” seseorang memanggil namaku. Aku mengangkat kepalaku dari buku yang sedang ku baca, melihat temanku—Tori—sedang berlari ke arahku. Sungguh… Aneh melihat Tori di sini pagi-pagi. Biasanya dia sering bangun tengah hari dan bukan orang yang menikmati hari pagi. Tapi aku tidak mengeluh. Aku senang melihatnya di sini.

“Bagaimana kau tidak percaya terhadap mitos air mancur itu?” tanya Tori selagi dia duduk di sampingku. Aku menutup bukuku, memiringkan kepalaku—merasa sangat bingung. “Apa?…” Cara yang bagus untuk memulai percakapan baru, Tori.
“Kemarin aku melempar koin ke dalam air mancur itu, dan doa ku terkabul!” lanjutnya. Aku mengerutkan alis, “apa?” aku bertanya lagi. Tori menghembuskan napasnya. “Kau tahu kan bahwa aku sering bangun terlambat? Sekitar jam 12 sampai jam 1 siang?” dia berhenti, aku memberinya anggukan. “Jadi, kemarin aku memutuskan untuk melemparkan koin ke air mancur itu—berharap bahwa semoga besok aku akan bangun jam 7 pagi. Dan tebak apa? Harapan ku terkabul! Makanya aku ada di sini!” Tori terkikik pada dirinya sendiri.
Aku menggelengkan kepalaku. “Ku mohon, tolong berhenti memaksaku untuk percaya kepada mitos itu. Aku sudah muak.” Aku membuka bukuku kembali, membacanya lagi.
“Oh, ayolah! Setidaknya, maukah kamu membantuku? Jika kamu menerima bantuanku, maka aku tidak akan membawa percakapan tentang mitos air mancur itu lagi!” Aku menoleh kepadanya.“Janji?” aku tanya “Janji!” jawabnya, tersenyum. Aku terdiam untuk sementara, berpikir apakah aku akan menerimanya atau tidak. Aku mengeluarkan napas berat. “Baiklah, baiklah… Apa yang kau mau?” akhirnya aku berkata.
Tori terkikik, “ikuti aku!” dia beranjak dan jalan mendahuluiku. Aku menutup bukuku lagi—meletakkannya di dalam tas kecil ku. Aku bangkit dari posisi duduk dan jalan mengikuti Tori sambil menggendong tasku. Tori berhenti di depan Fountain of Hope, menatap kepada air nya yang bersinar dan berkilau. Aku mendekatinya. Namun dia masih saja menatap atau lebih tepatnya mengobservasi ¬ air dengan kagum. Aku menyenggol bahunya.
Tori melirik ku. “Nyatakan sebuah harapan!” Aku terkejut, “nyatakan sebuah harapan?” “Kau benar! Itulah permintaanku padamu” ucapnya. “Dan juga, tidak ada ruginya untuk menyatakan sebuah harapan~” Aku mencemooh, “dompet ku nanti rugi.” Ujarku, mengerutkan alisku padanya. Tori memutar matanya. “Kau hanya butuh satu koin sen, ya tuhan.” Dia berkata sambil mengobrak-abrik saku belakangnya, mencoba untuk mendapatkan sesuatu. “Ini.” Dia memberi ku satu sen. “Berharaplah dengan mengucapkannya atau dalam hati saja.” Dia berkata. Aku mengambil koinnya dengan putus asa sembari menghela nafas.
Aku menghadap ke air mancur, mengepalkan tanganku yang menahan koin itu. Sebuah harapan yang sederhana tidak terlintas dalam pikiranku. Mungkin karena aku tidak memiliki apa pun yang di harapkan. Tori masih berdiri disampingku dengan sabar. Dia menyilangkan lengannya di dadanya, menungguku menyampaikan permintaanku. Akhirnya sebuah harapan muncul di benakku. Hanya sebuah harapan yang sederhana. “Aku berhadap aku bisa mempercayai mitos Fountain of Hope.” Ucapku, melemparkan koinnya ke dalam air mancur.
Suaranya terdengar saat koin menyentuh air. Koinnya perlahan-lahan tenggelam ke permukaan selagi kami memandangnya. Setelah sampai di dasar air mancur, Tori menatapku dan tersenyum. “Aku yakin pasti terkabul.” Ucapnya, menepuk pundakku. “Yah, terima kasih untuk semua ini…” Kataku. “Tapi sepertinya aku akan segera pergi. Aku ingin pergi ke toko buku.” Ucap ku. “Oh~ Buku macam apa yang kau akan cari?” “Aku tahu ini akan terdengar aneh, tapi aku sedang mencari buku psikologi.” Aku terkikik. Tori menatapku bingung.
“Psikologi? Sejak kapan kau tertarik mengenai psikologi?” Tanyanya, tertawa bersamaku. “Jujur, aku baru saja tertarik. Aku sedang membaca buku yang berdiskusi sedikit tentang psikologi. Dan aku mulai tertarik!” “Baiklah, kalau begitu. Aku juga ingin pergi membeli sarapan.” Ucap Tori. “Jadi… Kita bertemu lagi?” Tori mengangguk. “Kita bertemu lagi.” Ucapnya. Kami saling memberi senyuman terakhir sebelum kami memisahkan diri ke jalur yang berbeda.
Aku membuka pintu toko buku. Angin sepoi-sepoi AC yang dingin bertiup melewati wajahku selagi aku mencium aroma buku. Atau kata mewahnya; Bibliosmia. Aku memindai seluruh toko buku, mencoba menemukan bagian Psikologi. Setelah beberapa lama mencari, mataku akhirnya tertuju pada tanda Psikologi yang terletak di pojok kiri ruangan. Dengan cepat, aku mendekati bagian Psikologi tanpa ragu-ragu.
Sesampainya aku di sana, ada terlalu banyak buku-buku untuk aku pilih. Namun aku tidak bisa memilih semuanya, aku hanya butuh satu untuk sementara. Aku menelusuri tepi buku yang berdiri di rak dengan jariku. “Wow…” Aku bergumam pelan, masih menelusuri tepi buku dengan jariku. Aku berhenti saat aku sadar bahwa aku sudah sampai di akhir rak. Aku melihat buku yang terletak di ujung rak, terlihat menarik dari tepi sampul buku. Aku mengambilnya, membaca judul buku tersebut. Self-Fulfilling Prophecies: Social, Psychological, and Physiological Effects of Expectancies by Russell A. Jones (Ramalan Swawujud: Pengaruh Sosial, Psikologis, dan Fisiologis dari Harapan oleh Russell A. Jones).
Aku terkikik pada diriku sendiri, “judul yang sungguh panjang.” Aku membalik bukunya untuk membaca ringkasannya. Berdasarkan judulnya, bukunya membahas tentang ramalan swawujud. Yang membuat ku terkejut adalah buku ini awalnya dirilis pada tahun 1977. Aku memutuskan untuk menyimpan buku itu untuk mencari buku lain yang mungkin akan menarik perhatian ku. Aku terus mencari-cari sekitar rak, mencoba untuk mencari buku yang lain. Namun anehnya, aku tidak menemukan buku lain yang menarik.
Sebelum aku berubah pikiran, aku memutuskan untuk membawa buku ditanganku ke kasir dan segera bayar. Untung saja tidak ada barisan yang panjang di kasir. Jadi aku segera mendekati kasir. Aku tersenyum, memberi tukang kasir buku yang ku pilih. Dia tersenyum sopan kepadaku, mengambil buku yang kuberi—scan bukunya ke scanner. “Akankah ada yang lain?” dia bertanya. Aku menggeleng kepala, “tidak, terima kasih. Hanya itu saja.” Dia mengangguk perlahan, senyumannya masih ada di wajahnya. “Maka akan menjadi $7.99.” Ucapnya
Aku meraih dompetku yang berada di saku ku, mencoba menemukan jumlah uang yang harus ku bayar. Aku memberinya 8 dolar. “Ambil kembaliannya.” Aku bilang. Dia mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih…” Ia menerima uangnya dan meletakkan ke dalam kasir. Dia kembali melihat lu. “Apakah anda ingin— “Tidak, terima kasih. Tidak apa-apa, aku sudah bawa tas.” Aku menyela, mengarahkan jariku ke ransel kecil Pink-ku. Tukang kasirnya tersenyum dan mengangguk, mengasih kembali buku yang telah ku bayar. “Terima kasih sudah datang. Berkunjunglah kesini nanti!” Aku mengambil bukunya dan memberinya senyuman.
Sudah pukul 5 sore. Aku sedang baringan di ranjang, menghadap ke langit-langit sembari membaca buku yang barusan aku beli pagi ini (aku baru membaca buku ini beberapa menit yang lalu). Jujur, bukunya cukup menarik. Namun selain menarik, kadang ada juga kalimat atau sampai paragraf yang membuat ku sedikit kebingungan. Ini buku yang berat, banyak kata-kata besar yang sulit untuk dimengerti. Tapi sejauh ini, aku sekarang sih tidak kebingungan. Setidaknya untuk sekarang. Lalu aku sampai halaman 7, mendiskusikan mengenai Proses Konfirmasi dalam Pengaturan yang Diterapkan.
“….sejumlah studi terkait telah meneliti efek keyakinan yang terpenuhi dengan sendirinya dalam konteks terapan.” Aku mengangkat alis, mengubah posisi ku menghadap ranjang. “Menarik…” “Misalnya, Rosenthal dan Jacobsen (1968) memberikan informasi kepada guru yang menyarankan bahwa sekelompok siswa yang ditugaskan secara acak di kelas mereka adalah ‘orang yang terlambat berkembang’ dan akan meningkatkan kemampuan akademis selama tahun ajaran mendatang. “Dibandingkan dengan siswa yang tidak memberikan harapan baru, siswa yang diharapkan positif oleh guru ini benar-benar menunjukkan peningkatan kinerja. “Hasil ini sering disebut Efek Pygmalion.”
Tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu. Aku mendekatkan wajahku ke buku itu, menyipitkan mata pada setiap kata—mencoba membacanya lagi. Aku menyandarkan wajahku ke belakang, sekarang mengerutkan kening pada buku itu. “Tunggu… Jadi…” Aku mengambil ponselku yang berada di meja samping tempat tidur, membuka layar kunci dan bergegas ke Google—mengetik Efek Pygmalion. “Efek Pygmalion, atau Efek Rosenthal, adalah fenomena psikologis di mana ekspektasi tinggi mengarah pada peningkatan kinerja di area tertentu.” Aku membuka lebar mataku. Aku mulai scroll ke bawah untuk mencari beberapa artikel terkait tentang pembahasan ‘Efek Pygmalion’ ini.
Setelah beberapa scrolls, aku menemukan headline yang menarik; 6 Powerful Psychological Effects That Explain How Our Brains Tick (6 Efek Psikologis Kuat yang Menjelaskan Bagaimana Otak Kita Bekerja). Aku berharap artikel ini bukanlah artikel tipuan. Aku klik link nya. Untungnya, artikel ini memberikan kita 6 efek Psikologis, sama seperti judul artikelnya. Aku scroll ke bawah lagi, melihat 6 efek psikologis yang terdaftar. Tapi salah satunya menarik perhatian ku dari semuanya.
Setelah membaca itu, aku langsung melompat ke daftar nomor dua. “Inti dari fenomena psikologis ini adalah konsep ramalan swawujud: Jika kamu percaya sesuatu itu benar tentang dirimu, pada akhirnya itu akan terjadi.” Sekali lagi, aku tersadar akan sesuatu. Tapi aku membiarkan diriku terus membaca. Ini mendiskusikan tentang hal yang sama dengan buku yang ku baca, menceritakan tentang siswa yang mendapat harapan positif memang menunjukkan peningkatan kinerja—sedangkan siswa tanpa harapan yang diberikan tidak cukup meningkat.
Dan saat itulah aku baru sadar. Bahwa Fountain of Hope bukanlah keajaiban seperti yang diyakini orang. Itu bukan air mancur yang diberikan Dewa yang akan memenuhi keinginan kalian. Itu bukan air mancur dari dunia fantasi atau sejenisnya. Itu hanya air mancur biasa yang memiliki banyak rumor, memberitahu orang-orang bahwa itu akan memenuhi keinginan mereka dan orang yang mendengar rumor itu akan memiliki harapan yang tinggi pada air mancur itu begitu mereka mau dan melemparkan koin ke air mancur.
Air mancur itu adalah Efek Pygmalion. Itu akan mendorong orang ke kinerja yang hebat karena mereka memiliki harapan yang besar. Kakek-kakek yang miskin bisa menjadi kaya karena dia berpikir bahwa dia akan menjadi kaya. Jadi mungkin dia mulai bekerja lebih keras setiap hari, sampai akhirnya dia mencapai tujuannya.
Bagaimana cerita tentang anak yang sering di-bully? Dia mempunyai ekspektasi yang positif, membuatnya kuat menghadapi bullynya sampai akhirnya mereka berhenti mem-bully anak itu. Dan bagaimana dengan gadis kecil yang cacar? Terdengar tidak nyata, bukan? Namun orang-orang banyak mengatakan bahwa gadis itu mulai minum air lebih banyak dan mulai minum antibiotik sesuai jadwal setelah dia berdoa dan berharap kepada Fountain of Hope. Dan juga, cacar tidak dapat disembuhkan—hanya dapat mencegah berkembangnya infeksi. Dan gadis itu sukses mencegah berkembangnya infeksi di tubuhnya. Dan tentu saja, Tori. Dia memiliki begitu banyak harapan besar untuk bangun jam 7 pagi. Dan hasilnya; dia benar-benar bangun jam 7 pagi! Namun ini semua hanyalah teori ku. Aku tidak tahu apakah ini semua 100% benar. Tetapi aku mempunyai bukti dan argumen. Jadi ini mungkin memang teori.
Aku melirik ke jam dinding yang berada di depanku. Pukul 05:17 p.m. Mungkin aku bisa menggunakan waktu luang ini untuk mengunjungi taman. Mengapa tidak? Aku mengambil jaket ku dan tas Pink-ku. Aku meletakkan buku psikologi ku ke dalam tas dan aku segera pergi.
Aku berjalan melalui jalan berbatu. Sore ini berangin seperti hampir setiap sorenya. Lagi pula ini musim semi. Tapi aku bingung mengapa taman ini begitu sunyi dan sepi. Kurasa di taman ini tidak ada orang lain selain aku! Tapi aku baik-baik saja dengan itu, setidaknya aku tidak diganggu. Di sinilah aku, berdiri di depan Fountain of Hope.
Pemandangannya sungguh luar biasa. Aku bahkan tidak dapat menjelaskan betapa aku mengagumi pemandangan yang saat ini ku lihat. Air di air mancur memantulkan cahaya matahari yang akan segera terbenam, langit berwarna jingga tua, dan yang terpenting— bagaimana Fountain of Hope berdiri sendiri dari yang lain, menjadikannya satu-satunya hal yang menarik di taman ini.
Aku berbisik ‘wow’ sambil berjalan pelan menuju air mancurnya. Air yang menderu perlahan-lahan terdengar lebih jelas setiap aku mengambil langkah. Aku menghadap ke belakang, membaliki air mancur nya. Lalu aku menduduki di tepi air mancur. Angin yang dingin kembali menyerbu taman sekali lagi. Aku membuang muka, menyembunyikan wajahku dari angin sambil tertawa sendiri. Saat anginnya sudah hilang, aku menaruh tasku di bawah dan mengambil buku Psikologi ku. Aku lanjut membacanya lagi. Angin datang kembali, namun ini lebih tenang dari sebelumnya. Aku membiarkan diriku menikmati anginnya yang menyapu wajahku dan menembus melewati pakaianku.
Nantikan cerpenku selanjutnya….


