Pandangan KH. Saifuddin Amsir Terhadap Nahdlatul Wathan (Ketua MUI DKI Jakarta) SAYA SANGAT SENANG MAULANA SYEIKH MEMANGGIL SAYA DENGAN SEBUTAN YA WALADI ( Bagian I)

Pandangan KH. Saifuddin Amsir Terhadap Nahdlatul Wathan (Ketua MUI DKI Jakarta) SAYA SANGAT SENANG MAULANA SYEIKH MEMANGGIL SAYA DENGAN SEBUTAN YA WALADI ( Bagian I)

Sinar5news.com   (Dirilis dari tabloid SinarLima  edisi ke 8/03 Maret 2012) Dinamika dan perkembangan
Nahdlatul Wathan, secara obyektif
terus mendapat apresiasi dari berbagai
kalangan lintas generasi termasuk dari
Pimpinan Pondok Pesantren Ash-Syiratu
Syafi’iyah di Jakarta, KH. Saefuddin
Amsir. Menurutnya, kekuatan jiwa yang
terpadu dengan kecerdasan intelektual
serta komitmen keyakinanlah yang
menyebabkan Maulana Syekh TGKH.
Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di
sanjung oleh bukan saja ulama makkah
tapi juga ulama Indonesia.
Mengenal nama besar Maulana
Syekh sekitar tahun 1970-an ketika
masih duduk di bangku Aliyah Asy-
Syafi’iyah ketika beliau berkunjung ke
rumah KH. Abdullah Syafi’i Jakarta.
“Banyak teman-teman seangkatan
saya pada saat itu berasal dari Lombok,
sehingga saya tidak terlalu kesulitan
untuk mengetahui lebih jauh tentang
sosok Maulana Syekh” ungkapnya pada
tiem SinarLIMA yang bertandang ke
rumahnya.

 

Derektur Sinar5news berkunjung kekediaman KH Saifuddin Amsir

Saat itu, menurutnya banyak murid
yang belajar di Asy-Syafi’iyah bersal dari
Lombok dan hampir semuanya berasal
dari Pesanteren Nahdlatul Wathan
diantaranya adalah Muksin dan Said
termasuk dari Bali yang bernama Ketut
Daimuddin adalah alumni Nahdlatul
Wathan. Dari pergaulan dan diskusi
dengan teman-teman itulah beliau
banyak mendapat informasi tentang
sosok Maulana Syeikh dan mulai
memahami sedikit demi sedikit tentang
Hizib Nahdlatul Wathan.
Membaca tulisan Tuan Guru pada
pengantar Hizib Nahdlatul Wathan
cetakan tahun 1975 secara psikologis
dan keilmuan menjadi daya tarik
tersendiri bagi beliau. Tuan Guru
mengatakan bahwa “Apabila ada orang
yang kemasukan syeitan yang dalam
bahasa orang Jakarta kesurupan maka
cukuplah orang itu dibisikkan pada
telinganya, Tuan Guru pancor kirim
salam supaya anda keluar” maksudnya
jin-jin yang datang itu cukup disuruh
keluar dengan ucapan menyebut nama
Maulana Syeikh. Beliau terkejut waktu
itu karena ungkapan yang sama pernah
ditemukan di naktub Syeikh Abdul
Qodir Al-jaelani yang apabila ada yang
kesurupan katakan bahwa syeikh Abdul
Qodir Al-Jaelani mengatakan kepada
anda keluar dan jin itu pasti akan keluar.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA