Dalam acara Musyawarah Daerah PD NWDI Jakarta timur dan pengukuhan PD NWDI Depok kota serta PW Pemuda NWDI DKI Jakarta pada hari Minggu, 20/6/21, TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi ketua umum PB NWDI mengawali sambutannya dengan menyampaikan pentingnya memperhatikan protokol kesehatan di era pandemi seperti sekarang ini, karena diantara pesan almaghfurlah Maulana Syaikh adalah hendaknya menyelaraskan antara ikhtiar dan tawakal, yaitu tidak mempertentangkan keduanya, jangan sampai atas nama tawakal ikhtiar dibuang dan jangan juga menyepelekan ikhtiar karena tawakal, dua hal tersebut adalah merupakan sesuatu yang sejalan dan seiring yang tidak bisa dipisahkan dan saling menguatkan. Terangnya.
Disamping pesan tentang pentingnya memperhatikan kesehatan, TGB Muhammad Zainul Majdi juga mengingatkan kepada seluruh peserta musyda (musyawarah daerah), supaya memperbaiki niat dalam melaksanakan kegiatannya, yaitu menjadikan kegiatan ke organisasian ini sebagai bagian dari ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala yaitu menyebarkan nilai-nilai kebaikan.
Selanjutnya TGB menyebutkan tentang dua wadah perjuangan Nahdlatul Wathan. Keduanya akan seiring berjalan dalam langkah persaudaraan, yaitu organisasi NW dan NWDI, di mana keduanya memiliki kesetaraan dalam melanjutkan perjuangan Maulana Syekh. TGB menguatkan pernyataannya, bahwa keberadaan NWDI adalah meneruskan perjuangan Maulana Syaikh.
TGB melanjutkan pembicaraannya dengan menyampaikan do’a yang selalu dipanjatkan Maulana Syaikh “WANSYUR, WAHFADZ WA AYYID NAHDATUL WATHAN FIL AALAMIN” sebarkan, pelihara dan kokohkan Nahdatul Wathan yang bukan saja hanya sekedar ada di wilayah bumi Sasak, NTB, bahkan Indonesia, melainkan menyebar ke seluruh alam. Maka pengukuhan perangkat NWDI yang ada di Jakarta hendaklah diniatkan untuk mewujudkan ikhtiar do’a tersebut, yaitu bagaimana supaya nilai-nilai perjuangan NWDI yang digagas oleh Maulana Syaikh bisa dinikmati kebaikannya oleh semua orang di alam semesta.
Selanjutnya TGB, ketua umum NWDI menyampaikan pesan – pesan pamungkasnya, diantara pesan tersebut adalah :
Pertama, sebelum keluar mari kita konsolidasikan didalam, sebelum mengajak mari kita samakan visi yang berada di dalam satu organisasi. Semangat yang ada di antara kader organisasi harus dikokohkan, semua menyatukan diri dalam satu frekuensi yang sama, mempunyai mahabbah antara satu dengan yang lainnya, saling mengisi di antara yang lainnya. Sebagai mana firman Allah SWT.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. – (Q.S Al-Maidah: 2)
Kata “Taawun” menunjukkan adanya timbal balik, soliditas dan hubungan ukhuwah dengan saling menggali nilai-nilai positif yang dibungkus dengan nilai mahabbah.
Kedua, mari memperhatikan surat an-nisa ayat 58 dan 59 yang berbicara tentang hubungan antara yang memimpin dengan yang dipimpin, di mana keduanya dipandang sebagai satu kesatuan. Annisa ayat 58 mengingatkan tentang orang-orang yang diberi amanat memimpin dengan menunaikan amanah dengan baik. Masuk di dalamnya bagaimana memanage organisasi dengan baik, mengarahkannya kepada visi misi yang telah dicita-citakan, termasuk apabila terjadi permasalahan, maka hendaklah diselesaikan dengan menjunjung nilai-nilai keadilan. Dalam kata “keadailan” mengandung makna menghormati, makna adab dan akhlak, makna proporsionalitas yang harus dikembangkan bagi yang diberikan amanah.
Pada ayat 59 Allah memberikan pengingat terhadap orang yang dipimpin supaya taat kepada pimpinan, yaitu taat kepada arah organisasi, taat kepada program yang sudah disepakati. Memaknai organisasi sebagai ruang bersama, menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya tanpa merasa diri lebih baik dari yang lainnya.
Yang ketiga, Ketahuilah bahwa Jakarta itu adalah etalase republik, bahwa Jakarta adalah ibukota tempat berjumpa dan bertemunya banyak pemikiran-pemikiran, gagasan-gagasan dan pergerakan-pergerakan. Karena itu, supaya NWDI bisa eksis dengan baik maka hadirkan pemikiran yang konstruktif untuk kemaslahatan masyarakat, umat, bangsa dan Negara, dengan program yang riil dan konkrit. Misalnya keadaan yang sedang kita rasakan pada masalah kesehatan, bagaimana NWDI bisa berkontribusi dalam bidang kesehatan, membuat program yang terkait dengan penyadaran bagi masyarakat,pentingnya menjalankan protokol-protokol kesehatan dengan baik sebagai upaya menjaga kesehatan. Melalui pendidikan, bagaimana NWDI bisa memberikan pendidikan yang memanusiakan, yaitu pendidikan yang bisa menyadarkan bahwa manusia adalah hamba Allah. Dengan kesadaran itu, dia akan siap memakmurkan bumi Allah sebagai tanggung jawabnya sebagai hamba Allah SWT. bukan pendidikan yang melahirkan orang yang seperti robot atau mesin yang tidak memiliki rasa dan hati. Agenda keumatan yang perlu mendapatkan perhatian adalah perekonomian, apa yang bisa dilakukan NWDI dari sisi ekonomi untuk umat. Kemudian sisi tafaqquh fiddin (memahami agama dengan baik). Maulana Syaikh memesankan supaya pintar-pintar dalam mencari guru, karena agamamu adalah siapa gurumu, kalau salah memilih guru maka akan keliru dalam menjalankan tuntunan.
Keempat, bahwa Al maghfurlah Maulana Syaikh memahami ikhtiar dengan dua tataran yaitu :
1. Ikhtiar maddi dan
2. ikhtiar maknawi/bathini.
Ikhtiar maddi yaitu ikhtiar yang dapat diukur dan dikuantifikasi oleh manusia, seperti membangun gedung sekolah, membuat majelis taklim, membuat panti asuhan, membuat sarana ekonomi umat. Semuanya dapat dihitung secara kuantitatif dan kualitatif. Adapun ikhtiar maknawi/bathini adalah upaya ikhtiar perjuangan yang sifatnya tidak bisa dikuantifikasi atau kualifikasi. Misalnya seperti wirid-wirid yang di ijazahkan oleh Maulana Syaikh, Hizib, shalawat serta do’a dan bacaan yang di ijazahkan oleh almagfurullah Maulana Syaikh yang merupakan bagian dari ikhtiar maknawi/bathin sebagai upaya memperkuat perjuangan dengan tawajjuh kepada Allah SWT. Dua ikhtiar tersebut tidak boleh timpang dan hendaklah terus diperkuat.



