Sinar5news.com – Jakarta – Dalam perjuangan panjangnya, tanpa terasa majelis ulama Indonesia sudah memasuki usia ke-46 Ucapan Selamat Milad MUI banyak berdatangan dari beberapa tokoh negara tak luput pula dari Anggota Pengurus MUI Komisi Ukhuwah Islamiyah yakni TGH. Muslihan Habib.
TGH. Muslihan Habib turut serta menyampaikan ucapan milad kepada MUI atas prestasinya selama 46 tahun berkiprah di negara Indonesia, saat dijumpai team SinarLima pria kelahiran Lombok ini menyampaikan puji syukurnya atas hal tersebut.
“Alhamdulillah, Tanpa terasa sudah 46 tahun lamanya MUI berkiprah di Indonesia, saya selaku Anggota Pengurus MUI Komisi Ukhuwah Islamiyah mengucapkan selamat milad kepada MUI semoga Ulama, Umara, dan juga masyarakat dapat terua bersinergi dalam membangun negeri.”,. Ucap TGH. Muslihan Habib
MUI adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang mewadahi ulama, zuama, dan cendikiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia.
Majelis Ulama Indonesia berdiri pada 7 Rajab 1395 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta, Indonesia.
Lembaga ini berdiri sebagai hasil dari pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan dan zuama yang datang dari berbagai penjuru tanah air, antara lain meliputi dua puluh enam orang ulama yang mewakili 26 Provinsi di Indonesia pada masa itu, 10 orang ulama yang merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat pusat, yaitu, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti.
Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI dan Al Ittihadiyyah, dan empat orang ulama dari Dinas Rohani Islam, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Polri serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang merupakan tokoh perorangan.
Dari musyawarah tersebut, dihasilkan adalah sebuah kesepakatan untuk membentuk wadah tempat bermusyawarahnya para ulama. zuama dan cendekiawan muslim, yang tertuang dalam sebuah “Piagam Berdirinya MUI,” yang ditandatangani oleh seluruh peserta musyawarah yang kemudian disebut Musyawarah Nasional Ulama I.
Momentum berdirinya MUI bertepatan ketika bangsa Indonesia tengah berada pada fase kebangkitan kembali, setelah 30 tahun merdeka, di mana energi bangsa telah banyak terserap dalam perjuangan politik kelompok dan kurang peduli terhadap masalah kesejahteraan rohani umat.


