Diantara Contoh Mukasyafah Maulana Syaikh.
Dengan terbukanya kasyaf bagi Guru Besar kita, al-`Allaaamah al-`Aarifu billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, maka tentunya sebelumnya itu bagi diri beliau telah menempel pada dirinya al-Mukasyafah, sehingga mampu melihat dengan mata hati atau cahaya yang berasal dari Allah Subhanahu wa ta`ala. Dan al-Mukasyafah seorang hamba sebagaimana yang terjadi pada diri Maulana Syaikh, tentunya setelah melalui proses mujahadah, pembersihan dan pensucian hati untuk terpancarnya nur (cahaya) dari hatinya, sehingga tersibaklah seluruh rahasia-rahasia alam ghaib dan bahkan bisa berkomunikasi langsung dengan para Rasul dan ruh-ruh yang lainnya, termasuk Nabi Khidhir `alahissalam. Tidaklah bisa diraih ilmu ini, kecuali setelah mencapai tingkatan ma’rifat melalui latihan-latihan (al-Riyadhah), amalan-amalan, ataupun dzikir-dzikir tertentu.
Diantara bentuk hal-hal al-Mukasyafah yang terdapat pada guru besar kita Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dapat kita perhatikan dengan kemampuan beliau dalam berkomunikasi langsung dengan para nabi dan rasul, seperti nabi Khidhir `alahissalam dan termasuk berkomunikasi dengan al-Imam al-Ghazali misalnya.
Adapun sebagai gambaran bentuk al-Mukasyafah yang diberikan oleh Allah Subhananhu wa ta`ala bagi Maulana Syaikh sebagai kekasih-Nya, dapat kita simak dalam beberapa item cerita dan penjelasan berikut.
a. Maulana Syaikh bertemu al-Imam Al-Ghazali
Untuk kisah atau cerita Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bertemu dan berkomunikasi dengan al-Imam al-Ghazali, diceritakan oleh salah seorang murid dekatnya, yakni Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi, pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, dengan kisah seperti berikut ini.
“Pada suatu ketika, Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi datang menghadap Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di kediamannya di Pancor, Lombok Timur untuk menyampaikan perkembangan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta yang dipimpinnya. Saat masuk menghadap itu, ia lagi mendapatkan Maulana Syaikh lagi asyik ngobrol atau berbicara dengan seseorang. Tapi lawan bicaranya, seperti tidak jelas.
Tidak lama kemudian, Maulana Syaikh memanggil salah seorang murid dekatnya yang bernama al-Ustadaz Nahar yang mungkin berada di sekitar rumahnya.
“Nahar, Nahar, Nahar !!!”, teriaknya.
Teriak Maulana Syaikh yang memanggil sang murid yang bernama Ustadz Nahar ini, rupanya tidak mendengar panggilan beliau itu. Namun demikian, tidak lama berselang, Ustadz Nahar yang dipanggil ini, datang juga. Tapi kedatangannya sudah terlambat. Dan ketika datang dan telah berada persis di depan Maulana Syaikh, maka beliau (Maulana Syaikh) berkata;
“ Waduh, kamu terlambat datang, Imam al-Ghazali sudah pergi”. Ungkapnya, dengan sedikit kecewa juga.
Terkait cerita yang satu ini diatas ini, lebih jauh, Al-Ustdaz Haji Muhammad Suhaidi menambahkan penjelasannya dengan mengatakan, bahwa maksud Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memanggil Ustdaz Nahar dalam cerita di atas adalah beliau ingin menyuruhnya mengambil pulpen. Dan rupanya, saat itu beliau sendiri lagi ngaji atau berkomunikasi dengan al-Imam al-Ghazali. Dan beliau hendak menulis atau mencatat beberapa pointer penting dari isi pengajian atau pembicaraan yang disampaikan oleh al-Imam al-Ghazali itu. “
b. Gusdur Bertemu dengan Maulana Syaikh
Pada tahun 1987, Gusdur (KH.Abdurrahman Wahid (Allahu yarhamhu), mantan Presiden RI ke-4, sengaja shilaturrahim menghadap kepada Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid untuk menanyakan tentang persoalan yang ghaib. Jadi, Gusdur sengaja datang ke Pancor, karena yakin bahwa dengan kompetensi Maulana Syaikh yang mampu mengungkapkan atau menyingkap hal-hal yang bersifat ghaib (tersembunyi). Dan beliau yakin juga bahwa pada diri Maulana Syaikh itu al-Mukasyafah, sehingga mampu melihat dengan mata hati atau cahaya yang berasal dari Allah Subhanahu wa ta`ala, dan mampu pula untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui segala hal-hal yang bersifat ghaib (tersembunyi) tersebut.
Terkait shilaturrahim Gusdur (KH.Abdurrahman Wahid) ke Maulana Syaikh pada tahun 1987 tersebut, penulis sempat melakukan wawancara dengan Drs. Ibrahim Husni (alm) seorang mantan wartawan kawakan majalah Tempo yang mendampingi Gus Dur ketika menghadap itu. Adapaun diantara isi waancara penulis tentang hal tersebut, terekam dalam cerita seperti berikut ini;
”Suatu ketika Gus Dur pernah melakukan wirid di masjid Agung Demak (Jawa Tengah). Lalu setelah wirid selesai, beliau mendapatkan sesuatu yang aneh, yakni suara atau bisikan yang beliau sendiri tidak memahami isi dan maksudnya. Lalu dengan segera beliau tanyakan ke beberapa kyai sepuh NU di Jawa, tapi rupanya belum juga mendapakan jawabannya. Dan ada diantara para kyai sepuh tersebut justeru mengarahkan Gus Dur untuk bertanya langsung ke Syaikh Zainuddin di Lombok dan mengatakan bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut ada sama beliau.
”Tanyakan ke Kyai Zainuddin Lombok sana dan jawaban ada sama beliau”. begitu pak Ibrahim meniru arahan Kyai Sepuh tersebut kepada Gusdur.
Terhadap arahan kyai sepuh tersebut, Gusdur tetap mengamini dan mengatakan, in Syaa Allah saya akan menemui Syaikh Zainuddin Lombok. Dan memang ia sangat penasaran terhadap bisikan tersebut dan perlu mendapatkan jawabannya.
Singkatnya, suatu ketika dalam suatu perjalanan di pesawat, Gus Dur bertemu dengan kenalan dekatnya yang berasal dari Lombok dan memang ia seorang murid Maulana Syaikh juga, yaitu Drs. Ibrahim Husni (Allahu yarham). Dan Ia banyak bertemu dengan Gusdur ketika sebagai wartawan kawakan juga di Majalah Tempo.
Dalam pertemuan itu, Gus Dur langsung berkata kepada pak Ibrahim;
”Pak Ibrahim, Saya ingin ziarah dan ketemu dengan gurumu Syaikh Zainuddin. Apa bisa bantu saya?.”
Oo… Bisa Gus. Nanti saya bantu. Memangnya ada apa? Tanya balik dari pak Ibrahim Husni.
”Saya ada perlu dengan beliau”, Katanya singkat.
Pak Ibrahim menjawab, ”Baik Gus, saya bantu pertemuannya”.
”Kalau begitu, kapan bisa diatur waktunya?.” Tanya Gus Dur, dengan nada mendesak lagi.
”Pokoknya, tunggu kabar. Saya akan bantu dan bila perlu saya ikut dampingi Gus Dur untuk ziarah dengan guru saya”. Ungkap pak Ibrahim dalam meyakini Gusdur untuk kesiapannya membantu dalam menjembatani pertemuannya.
Akhirnya, pada bulan Januari 1997, Gus Dur didampingi pak Ibrahim Husni dan bersama dengan al-Ustadz Haji Rafi`i Akbar (Allahu yarhamhuma), berangkat bersama ke Lombok menghadap Maulana Syaikh langsung di kediamannya di Pancor, Lombok Timur.
Dalam pertemuan dua ulama khrismatis ini, pak Ibrahim tak lupa mengajak teman dekatnya juga, yaitu Al-Ustadz Rafi`i Akbar (alm) untuk ikut mendampinginya.
Namun demikian, pertemuan dilakukan tertutup, sehingga pak Ibrahim sendiri tidak mengetahui hasil pembicaraan beliau berdua. Tapi esensi pertemuan sudah jelas membiacarakan hal-hal yang bersifat ghaib.
Kata pak Ibrahim, ”Saya tidak memahami pembicaraan beliau berdua, karena kebetulan tertup juga”.
Dan setelah pertemuan usai, Pak Ibrahim dengan segera tanya Gus Dur. Dengan mengatakan;
”Bagaimana sudah selesai pembicaraannya Gus?.
”Alhamdulillah sudah selesai dan sudah terjawab. Saya sudah mendapatkan jawaban yang memuaskan dari gurumu Kyai Zainuddin. Terima kasih ya”, Kata Gus Dur menimpali dengan singkat.
Dan yang jelas, kata pak Ibrahim. Gus Dur sangat puas bertemu Maulana Syaikh, karena ia telah mendapatkan jawaban dari suatu pertanyaan yang bersifat ghaib yang tidak terjawab oleh para kyai sepuh di Jawa. Dan setelah mendapatkan jawaban tersebut, maka Gus Dur pun pamitan dengan Maulana Syaikh.
Menyimak cerita diatas, maka kita pun telah mendapatkan gambaran sebagai kesimpulan tentang eksistensi Guru Besar kita al `allaaamah al-`aarifu billaah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, sebagai seorang Wali Allah yang memiliki Ilmu al-Laduni atau ilmu al-Mukasyafah yang tinggi pula, sehingga mampu melihat dengan mata hati atau cahaya yang berasal dari Allah tentang hal-hal yang ghaib.
c. Gambaran al-Mukasyafah Maulana Syaikh dalam Buku Wasiatnya
Selain itu pula, diantara bentuk hal-hal yang Mukasyafah yang terdapat pada guru besar kita Sulthaanul Aulia, al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, antara lain dapat kita telusuri secara nyata dalam bukunya, ”Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru”. Substansi dari buku Wasiat tersebut adalah mengupas renungan masa yang telah selesai dan berlalu, masa sekarang dan masa yang akan datang (past, now and future).
Dalam mukaddimah atau pengantar buku Wasiat Renungan Masa ini misalnya, dengan jelas sekali kita dapat kita memahami pernyataan Maulana Syaikh yang sepertinya memperkenalkan atau menggambarkan tentang al-Mukasyafah tersebut. Dalam hal ini, beliau mengatakan dengan istilah atau kalimat; ”Perangsang nurani Rabbani-Qadra al-Mustatha’- DI ABAD FINAL INI ”ABAD KEBANGKITAN UMMAT ISLAM SEDUNIA”.
Untuk kata-kata, ”Nurani Rabbani”, yang memiliki arti secara bahasa, Cahaya Tuhan dan kalimat ”Qadra al-Mustatha’, yang artinya ”Menurut kemampuan yang ada”, adalah sebuah pernyataan Maulana Syaikh yang kita nilai sangat nampak maksud dan arah yang dituju, yakni hal-hal yang bersifat ilham dan ketersingkapan (al-Mukasyafah).
Selain itu pula, dalam analisis penulis, beberapa sajak dari bait syair yang tertuang dalam bait Wasiat Renungan Masa tersebut, banyak juga yang berdasarkan pada ilham dan al-Mukasyafah atau dalam bahasa beliau Perangsang Nurani Rabbani. Sebagai salah satu contohnya lagi, dapat kita lihat dalam bait syair yang membicarakan tentang penyebutan tentang seseorang bernama Imran yang memiliki karomah kilat angin, dalam bait syair Wasiat seperti berikut ini;
“Imran siap dengan kilat anginnya
Secepat kilat kemana perginya
Menjunjung perintah sepenuh ta`atnya
Fattah Badawi merstuinya
————
Berkelana ikhlas malam dan hari
Serta imannya mengabdikan diri
Ratusan ribu kilo dalam sehari
Di masjid jami` tempat kompromi
————-
Duplikat Ngampel dan Kalijaga
Berlaku lebih tiga bulan nyata
Memancar sinar di Nusantara
Menghdupkan Iman bersinar Taqwa.”
Sebagai salah satu contohnya lagi, dapat kita perhatikan dalam bait syair Wasiat yang membicarakan tentang penyebutan adanya dua buah pusaka di Lombok yang disebut dengan Pusaka Rabi`ah dan Pusaka Pejanggik. Bait syair wasiat tersebut mengatakan;
”Pusaka Rabi’ah bernama ”bayu”
Dipusakakan pada yang maju
Aktif berjuang siap selalu
Tahan- uji seribu satu
—————-
Pusaka Pejanggik mudah tibanya
Tidak disangka Sultan wasithnya
Ghaib Al-Jazair bertanda-mata
Dan kali Musa pun memberi tanda.”
Pada bait syair pertama dan kedua dalam Wasiat ini, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyebut suatu isyarat adanya dua macam pusaka, yaitu Pusaka Rabi`ah dan Pusaka Pejanggik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, bahwa yang dimaksudkan dengan istilah pusaka adalah harta benda peninggalan orang yang telah meninggal, warisan, barang yang diturunkan oleh nenek moyang. Sementara yang dimaksudkan dengan nama Rabi`ah, sebagai pemilik pusaka bernama, ”Bayu” adalah salah seorang puteri dari Ghaos Abdul Razaq yang bernama Puteri Rabi`ah. Dan yang dimaksudkan dengan Pusaka Pejanggik adalah pusaka yang ditinggalkan oleh kerajaan Pejanggik di Lombok Tengah, NTB.
Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyebutkan juga tentang adanya pusaka Rabi`ah yang bernama “Bayu”. Dalam hal ini, tentunya adanya barang pusaka sebagai peninggalan atau warisan yang ditinggalkan oleh Dewi Anjani bernama Bayu. Dan lebih lanjut, menurut Maulana Syaikh, barang pusaka tersebut, dapat dipusakakan atau diturunkan oleh pemiliknya pada seseorang yang ingin selalu maju. Dan tidak hanya itu, tapi juga harus aktif berjuang dan berdakwah dalam membela agama Allah Subahnahu wa ta`ala. Mereka siap selalu dan tahan uji seribu satu. Artinya pantang mundur dan menyerah dalam menghadapai medan juang.
Sementara itu untuk pusaka Pejanggik, Maulana Syaikh menjelaskannya sebagai sebuah pusaka yang mudah tiba. Artinya, mungkin saja terhadap pusaka yang satu ini, agak mudah untuk mendapatkannya. Dan pusaka Pejanggik ini, tidak disangka atau ternyata Sultan wasitnya. Dan yang dimaksudkan dengan Sultan disini adalah tentunya Sultan Rinjani, yaitu Datu atau raja kerajaan Selaparang, Ghaos Abdul Rahman. Dan Maulana Syaikh menyebut, Sultan sebagai wasitnya. Kata wasit disini, dapat kita artikan dengan padanan kata perantara, penengah atau penentu. Selanjutnta, kenapa Sultan sebagai wasitnya? Dalam hal ini, kalau kita runut akar sejarahnya, karena Datu Pejanggik yang bernama Sayyid Amir adalah putera kedua dari Sultan Rinjani. Lalu, diakhir bait syair, beliau menjelaskan lagi bahwa Pusaka Penjanggik itu ada dua macam, yaitu Ghaib Al-Jazair dan Kali Musa. Dan untuk kedua macam pusaka tersebut, telah memiliki tanda masing-masing. Dan khusus untuk pusaka Ghaib Al-Jazair itu memiliki tanda-mata.
Memerhatikan deskripsi bait syair wasiat seperti diatas ini, maka sudah sangat rinci sekali Maulana Syakih memberikan penjelasan kepada kita terkait hal-hal yang ghaib (tersembunyi) mengenai tempat dan posisi pusaka-pusaka lama yang masih banyak tersisih. Seperti di daerah Lobar (Lombok Barat), Loteng (Lombok Tengah). Namun pusaka yang ada di Lombok Tengah itu, berada ditempat terpilih. Dan terakhir ada di Lotim (Lombok Timur) yang penuh dijaga Patih dan lain-lainnya. Lalu, beliau menyebutkan dengan detail keberadaannya yang sering kali bertemu para patih tersebut, ditempat yang memang sudah tertentu juga. Hal ini, menurutnya bisa terjadi, karena mereka para patih tersebut telah mendaptkan restu, sehingga dengan mudahnya membuka pintu, maka kompetensi beliau yang mampu mengungkapkan atau menyingkap hal-hal yang bersifat ghaib (tersembunyi) seperti ini, maka kita dapat menyebut bahwa Guru Besar kita, al-`Allaaamah al-`Aarifu billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, menempel pada dirinya al-Mukasyafah, sehingga mampu melihat dengan mata hati atau cahaya yang berasal dari Allah Subhanahu wa ta`ala. Dalam hal ini, Allah membukakan tabir bagi beliau sebagai kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal ghaib (tersembunyi) tersebut.




