Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa Sallam sebagai cermin dan teladan
kehidupan, dalam setiap desah nafas mereka selalu ada dan hidup.
Sedikitpun mereka tidak merenggang dari Syariat Allah dan Sunnah
Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa Sallam. Dengan laku ini, mereka
mencapai keparipurnaan lahir bathin selaku hamba Allah dan ummat
Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa Sallam.
Diantara ayat-ayat al-Qur’an al-
avatavat al-Our’an al-Karim dan hadits al-Syarif yang
langsung bersinggungan dengan keberadaan wali Allah, antara lain adalah
QS. Yunus [10]: 62-64 berikut ini:
عليهم ولا هم يحزنون . الذين آمنوا وكانوا يتقون .
ألا إن أولياء الله لا خوف
لهم البشري في الحياة الدنيا وفي الآخرة لا تبديل لكلمات الله ذلك هو الفوز العظيم
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran
pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu)
orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka
berita gembira dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan) akhirat.
Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang
demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (QS. Yunus [10]:62-64)
Sementara itu, Diantara hadits Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam
yang menjelaskan tentang kewalian, salah satunya terdapat dalam hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi yang bersumber dari shahabat Ibnu
Abbas Radhivallahu Anhuma, sebagai berikut:
قال رجل: يارسول الله من أولياء الله ؟ قال: الذين إذا ؤوا ذكر الله (رواه البذار)
“Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah wali-wali Allah
itu?’Beliau bersabda, ‘Yaitu orang-orang yang bila kalian lihat, mereka
senantiasa menyebut nama Allah.” (HR. Al-Badzaar)
Selain itu, dalam Hadits al-Syarif yang diriwayatkan oleh Ubadah bin
ash-Shamit, Nabi Shallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
إن الله تعلي قال: من عاد لي وليا، فقد آذنته بالحرب، وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب مما افترضت عليه،
ومايزال عندي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحبته، كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يصربه
ويده التي يبطش بها، ورجله التي يمشي بها، وإن سألني لأغطيئه، ولين استعاذني لأعيذنه (رواه البخاري)
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; “Siapa yang
memusuhi waliKu, maka sungguh Aku memaklumatkan perang
padanya. Tidak ada sesuatu yang lebih aku sukai dari hambaKu yang
mendekat kepadaKu selain dari apa yang telah Aku wajibkan padanya.
Dan hambaKu yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan
perbuatan-perbuatan nafil (sunnah) sehingga Aku mencintainya.
Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya untuk
mendengar, menjadi matanya untuk melihat, menjadi tangannya untuk
memukul, dan menjadi kakinya untuk berjalan. Bila ia meminta
(sesuatu) kepadaKu, Aku pasti akan memberinya, dan bila ia meminta
perlindunganKu, Aku pasti akan melindunginya. “(HR. Bukhari)… _Bersambung_(ALSY)




