Adz-Dzikrol Hauliyyah ke-60: MDQH, Tradisi Ilmu dan Keberkahan

Adz-Dzikrol Hauliyyah ke-60: MDQH, Tradisi Ilmu dan Keberkahan

Sinar5news.com – Enam puluh tahun. Bukan waktu yang sebentar bagi sebuah lembaga pendidikan. Tapi bagi Ma’had Darul Qur’an wal-Hadits al-Majidiyyah asy-Syafi’iyyah Pancor, usia ke-60 bukan sekadar angka—ia adalah kesaksian. Kesaksian bahwa ilmu, bila ia dibangun di atas niat yang suci dan perjuangan yang tak kenal lelah, akan terus hidup, menyala, dan tumbuh, bahkan ketika zaman terus berubah.

Adz-Dzikrol Hauliyyah ke-60 tahun ini tak hanya menjadi momen mengenang. Ia adalah momen menyambung sunnatan hasanah—tradisi baik yang diwariskan oleh Muassis-nya, almagfurlah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (w. 1997). Haul adalah simpul spiritual, tempat kita mengingat bukan hanya sosok, tapi juga semangat. Bukan hanya cerita, tapi juga cita.

Dalam momen haul itu, Tuan Guru Bajang (TGB), Syaikhul Makhad, menyampaikan sebuah catatan penting. Bahwa MDQH kini tidak hanya mempertahankan tradisi, tapi sedang mentransformasikannya. Pesantren ini perlahan bergerak menjadi lembaga kajian keislaman yang memadukan semangat tafaqquh fi ad-din dengan pendekatan ilmiah yang segar. Karya-karya lahir, meski dalam bentuk ‘sederhana’ seperti pengabdian para mutakharrijin di segala penjuru. Tapi justru dari kesederhanaan itulah lahir keberanian berpikir, dan berbuat untuk umat. Sebuah pola baru tengah tumbuh dari akar yang sangat tua.

Transformasi ini bukanlah sekadar pembaruan administratif. Ia dilembagakan dalam pendirian Ma’had ‘Ali, sebuah wujud ikhtiar agar Islam tak hanya dibaca dalam teks, tapi juga dipahami dalam konteks. Islam sebagai jalan hidup, bukan hanya bahan hafalan. TGB lalu menggarisbawahi pentingnya Syari’atul ‘Ilm—paradigma keilmuan yang berlandas pada empat unsur: An-Nash (teks), Al-‘Aql (akal), Al-Lughah (bahasa), dan Al-Wāqi’ (realitas). Ini bukan sekadar pendekatan, tapi cara berpikir baru yang menghubungkan kitab dengan kenyataan, mushaf dengan masyarakat.

Sebagai seseorang yang pernah duduk bersila di serambi ma’had ini, haul ke-60 ini membangkitkan kenangan yang sulit dilupakan. Di antara dinding-dinding tua, di bawah rimbunnya pohon yang menaungi gedung tempat belajar, mushalla al-Abror, saya pernah menjadi bagian dari denyut kehidupan yang sederhana tapi penuh makna. Kami membaca matan, mengkaji ayat-hadis dan kaidah, tapi juga belajar hidup: dari para masyayikh yang tulus, dari kapasitas keilmuan, tawadhu’, istiqamah bahkan keikhlasan mereka. Di sanalah saya merasa ilmu bukan sekadar pelajaran, tapi cahaya.

Dan kini, ketika saya melihat MDQH bertransformasi, saya merasa bangga sekaligus terharu. Lembaga ini tidak tenggelam dalam nostalgia, tapi juga tidak terputus dari akar. Ia tumbuh, tapi tetap bersujud. Ia bergerak, tapi tetap dalam arah.

Semoga Allah terus menurunkan keberkahan kepada para masyayikh yang hidup dan yang telah wafat. Semoga haul ini tidak hanya menjadi peringatan, tapi pengingat. Bahwa ilmu bukan hanya ni‘mah yang membuat kita bersyukur, tapi juga amānah yang harus kita pertanggungjawabkan.

MDQH adalah mata air. Dan semoga kita semua tetap menjadi penadahnya.

Amin, ya Rabb al-‘Alamin.

Parepare, 3 Agustus 2025

Muhammad Haramain

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA