Khutbah Jum’at Edisi 20 Februari 2026 Ramadhan Kembali Menyapa, Sudahkah Hati Kita Bertaqwa”
بِسْمِ اللهِ وَبـِحَمْدِهِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ وَكَفٰى، وَسَلاَمٌ عَلٰى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفٰى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللهُمّ صَلِّ وَسَلّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ, اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فىِ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
اَللّٰهُمَّ اَصْلِحْ اُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَفَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَارْحَمْ اُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَانْشُرْ وَاحْفَظْ نـَهْضَةَ الْوَطَنِ فِى الْعَالَمِيْنَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Alhamdulillah kita bersyukur atas segala limpahan nikmat yang terus tercurah kepada kita, diantaranya nikmat iman dan nikmat Islam yang merupakan nikmat yang sangat tinggi nilainya. Semoga kedua nikmat ini dapat terus kita syukuri dari kita pertahankan hingga akhir kematian kita nanti. Sholawat dan salam tak lupa kita sampaikan kepada junjungan alam nabi besar muhammad shallallahu alaihi wasallam demikian, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya. Semoga kita yang hadir di masjid yang penuh rahmat ini kelak di hari akhirat mendapatkan syafaat dari beliau. Aamiin ya robbal alamin.
Ushikum wa nafsi bitaqwallah, saya wasiatkan kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi kesadaran yang hidup di dalam hati; rasa takut melanggar perintah-Nya dan rasa rindu untuk selalu dekat kepada-Nya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Alhamdulillahirobbil ‘alamin… akhirnya Ramadan tahun ini Allah pertemukan kembali dengan kita. Betapa sejak dua bulan yang lalu, di bulan Rajab dan Sya’ban, kita menengadahkan tangan, memohon dengan penuh harap:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadan.”
Doa itu kita ulang-ulang. Dalam sujud kita, dalam zikir kita, dalam doa-doa setelah shalat. Dan hari ini… Allah kabulkan doa itu.
Namun wahai kaum muslimin, pernahkah kita merenung sejenak? Berapa banyak orang yang tahun lalu berdiri di samping kita dalam shaf tarawih, kini telah tiada? Berapa banyak wajah yang dulu berbuka bersama kita, kini telah berbaring di alam kubur? Ajal menjemput mereka sebelum Ramadan kembali.
Ramadan adalah tamu agung. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk menyambutnya. Maka pertemuan kita dengan Ramadan adalah nikmat yang sangat besar. Dan setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ramadan bukan sekadar bulan lapar dan haus. Bukan hanya perubahan jadwal makan dan tidur. Ramadan adalah bulan pendidikan jiwa. Bulan pembersihan hati. Bulan pembentukan takwa.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuannya jelas: la‘allakum tattaqun — agar kalian bertakwa.
Tetapi takwa tidak tumbuh di hati yang kotor. Takwa tidak bersemi di hati yang penuh dendam, iri, riya’, sombong, dan maksiat yang belum ditaubati. Maka sebelum kita memperbaiki menu sahur dan berbuka, perbaikilah hati kita. Bersihkan ia dengan taubat yang sungguh-sungguh.
Karena jika tidak, bisa jadi puasa kita hanya rutinitas. Hanya tradisi tahunan. Bahkan Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dengan nada yang sangat tegas:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Na‘udzubillah. Jangan sampai kita termasuk golongan ini.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Imam Al-Ghazali رحمه الله menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan:
Pertama, puasa umum, yaitu menahan makan, minum, dan hubungan suami istri. Ini tingkatan paling dasar.
Kedua, puasa khusus, yaitu menahan seluruh anggota badan dari dosa. Mata tidak memandang yang haram. Telinga tidak menikmati ghibah. Lisan tidak berdusta dan menyakiti. Tangan tidak berbuat zalim.
Ketiga, puasa khususul khusus, yaitu puasanya hati. Hati dijaga dari selain Allah. Tidak dipenuhi ambisi dunia, tidak dipenuhi riya’, tidak sibuk memikirkan kedudukan dan pujian manusia. Hatinya hidup, khusyuk, merasakan kehadiran Allah dalam setiap detik puasanya.
Inilah puasanya para shiddiqin dan orang-orang saleh.
Maka tanyakan pada diri kita: di level mana puasa kita selama ini? Apakah hanya sekadar menahan lapar? Ataukah sudah sampai pada penjagaan lisan dan pandangan? Ataukah hati kita benar-benar hidup bersama Allah?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Puasa yang benar akan melahirkan perubahan. Orang yang puasanya berkualitas akan lebih sabar, lebih lembut, lebih jujur, lebih takut berbuat dosa. Jika Ramadan berlalu dan tidak ada perubahan pada akhlak kita, maka ada yang salah dengan puasa kita.
Mari kita hidupkan Ramadan ini dengan Al-Qur’an. Karena Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Jangan sampai Al-Qur’an hanya menjadi hiasan rak di rumah kita. Jadikan ia cahaya bagi hati kita.
Perbanyak zikir agar hati kita lembut. Hadiri majelis ilmu agar puasa kita sesuai tuntunan syariat. Luruskan niat kita, karena niatlah yang membedakan ibadah dengan kebiasaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan penuh pengharapan pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Imanan wa ihtisaban… dengan iman dan keikhlasan. Bukan demi gengsi sosial. Bukan demi pujian manusia. Bukan demi kepentingan dunia.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Barangkali ini Ramadan terakhir dalam hidup kita. Tidak ada yang bisa menjamin kita akan bertemu Ramadan tahun depan. Maka manfaatkanlah ia sebaik-baiknya. Jadikan Ramadan tahun ini sebagai titik balik kehidupan kita. Titik balik menuju taubat. Titik balik menuju kedekatan dengan Allah.
Semoga Ramadan ini benar-benar menghidupkan hati kita, mencerdaskan akal kita, dan mengantarkan kita kepada derajat takwa yang menjadi tujuan utama diwajibkannya puasa.
أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْر الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلـمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَـهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلـمُؤْمِنَاتِ وَاْلـمُسْلِمِيْنَ وَاْلـمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلـمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلـمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلـمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلـمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلـمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر.
Bekasi, 1 Ramadan 1447 H/19 Februari ari 2026 M
Penulis : Marolah Abu Akrom/Ust. Amrullah Hp. 087887270732 (Jurnalis media SinarLIMA/Sinar5News.com, guru BK SMP Nahdlatul Wathan Jakarta, guru BK SMP Laboratorium Jakarta dan staf pengajar Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta




