Tradisi Obrog Cirebon, Harmoni Tarling yang Menghidupkan Ramadan hingga Lebaran

Tradisi Obrog Cirebon, Harmoni Tarling yang Menghidupkan Ramadan hingga Lebaran

Tradisi Obrog Cirebon, Harmoni Tarling yang Menghidupkan Ramadan hingga Lebaran

Sinar5News.com | Ahad, 22 Maret 2026

Cirebon – Suasana Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri di wilayah Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terasa semakin semarak dengan hadirnya tradisi khas yang dikenal masyarakat sebagai obrog. Tradisi ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari kearifan lokal yang sarat makna kebersamaan dan nilai budaya.

Sujai, warga Blok Bentuk, Desa Gintung Tengah, Kecamatan Ciwaringin, menuturkan bahwa obrog merupakan tradisi turun-temurun yang biasanya dilakukan untuk membangunkan warga saat sahur selama bulan Ramadan.

Sujai pemerhati tradisi budaya Obrog saat wawancara dengan kru media SinarLIMA di kediamannya

“Biasanya mulai sekitar pukul 02.00 dini hari, mereka keliling kampung sampai menjelang waktu sahur. Ini sudah jadi kebiasaan masyarakat di sini,” ujarnya.

Menurutnya, obrog identik dengan bunyi alat musik tradisional seperti kentongan, gendang, serta alat musik sederhana lainnya yang dimainkan secara berkelompok. Suara khas yang dihasilkan menjadi penanda sekaligus pengingat bagi warga untuk bersiap sahur.

“Kalau secara bahasa memang tidak ada penjelasan pasti, tapi pemahaman kami, obrog itu cara membangunkan orang dengan alat-alat tradisional sambil menghibur,” jelas Sujai.

Yang menarik, dalam pelaksanaannya, tradisi obrog juga diiringi lantunan lagu khas Cirebon yang dikenal dengan tarling (gitar dan suling). Lagu-lagu tarling ini dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi lokal yang memiliki suara merdu, sehingga menambah daya tarik dan keindahan suasana malam Ramadan.

“Biasanya ada yang nyanyi juga, lagu-lagu Cirebon atau tarling. Suaranya bagus-bagus, jadi bukan hanya bangunin sahur, tapi juga menghibur,” tambahnya.

Tidak hanya berlangsung selama Ramadan, tradisi ini juga berlanjut hingga beberapa hari setelah Idul Fitri. Kelompok obrog biasanya kembali berkeliling kampung pada siang hingga sore hari untuk menghibur masyarakat.

“Setelah Lebaran, biasanya mereka keliling lagi sekitar tiga hari. Warga juga ada yang memberi uang, beras, makanan, atau minuman sebagai bentuk apresiasi,” katanya.

Tradisi ini juga melibatkan berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan, anak-anak sekolah dasar hingga menengah turut berpartisipasi secara mandiri dengan alat sederhana.

“Ini bagus untuk regenerasi. Anak-anak jadi belajar dan meneruskan budaya yang sudah ada sejak dulu,” ungkap Sujai.

Meski dilakukan oleh berbagai kelompok, suasana tetap kondusif tanpa persaingan. Jika bertemu di jalan, kelompok obrog justru sering berkolaborasi memainkan musik bersama.

“Tidak ada bentrokan. Justru kadang kalau ketemu, mereka main bareng. Ini murni hiburan, bukan kompetisi,” jelasnya.

Lebih dari sekadar tradisi, obrog dinilai memiliki manfaat sosial yang nyata. Selain membantu warga bangun sahur, juga menjadi sarana hiburan yang mempererat kebersamaan masyarakat.

“Yang tadinya susah bangun, jadi terbantu. Ada musik, ada nyanyian tarling, jadi suasana lebih hidup dan semangat sahur,” ujarnya.

Sujai berharap tradisi obrog tetap dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Cirebon dan sekitarnya. Ia menilai, meskipun zaman terus berkembang, nilai-nilai kebersamaan dan seni dalam tradisi ini harus tetap dijaga.

“Ini budaya kita. Selama masih membawa manfaat dan kebahagiaan, sebaiknya terus dipertahankan,” pungkasnya.

Dengan semangat kebersamaan dan sentuhan seni musik tarling yang khas, tradisi obrog menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi, sekaligus menghadirkan kehangatan di momen suci Ramadan dan Idul Fitri. (Amr/Redaksi Sinar5News.com

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA