TGKH Suhaidi, SQ: “Jadilah Cerita Baik bagi Anak Cucu,” Pesan Hangat di Halal bi Halal Masyarakat Lombok Rantau

TGKH Suhaidi, SQ: “Jadilah Cerita Baik bagi Anak Cucu,” Pesan Hangat di Halal bi Halal Masyarakat Lombok Rantau

Sinar5news.com – ​JAKARTA – Suasana kekeluargaan yang kental menyelimuti Kompleks Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan (NW) Jakarta hari ini. Ratusan warga asal Bumi Gora yang menetap di Jakarta dan sekitarnya (Masyarakat Lombok Rantau) berkumpul dalam bingkai Halal bi Halal, sebuah tradisi pasca-Lebaran yang menjadi momentum penguat tali silaturahmi antar-perantau.

​Acara yang berlangsung khidmat ini disambut langsung oleh pimpinan pondok pesantren, TGKH Suhaidi, SQ. Kehadiran tokoh agama karismatik ini memberikan warna tersendiri, mengubah pertemuan rutin menjadi sebuah refleksi mendalam tentang jati diri dan eksistensi masyarakat Sasak di tanah perantauan.

Dalam sambutan hangatnya, TGKH Suhaidi menekankan bahwa sejauh apa pun kaki melangkah dan sesukses apa pun seseorang di perantauan, akar budaya tidak boleh tercerabut. Beliau menyoroti tantangan modernitas yang seringkali mengikis nilai-nilai luhur adat istiadat.
​”Kita boleh berada di Jakarta, di pusat kemajuan dunia, namun jiwa kita harus tetap terpaut pada nilai-nilai kesantunan, religiusitas, dan adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita di Lombok,” ujar beliau di hadapan para jamaah.

​Menurutnya, mempertahankan adat dan budaya bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan upaya menjaga identitas agar anak cucu di masa depan tetap memiliki “rumah spiritual” yang jelas. Beliau berpesan agar bahasa daerah, etika ngiring, dan semangat gotong royong khas Lombok tetap dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di ibu kota.

​Puncak orasi TGKH Suhaidi menyentuh sisi emosional para hadirin saat beliau mengutip wasiat dari Guru Besar, Shultonul Aulia Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Pahlawan Nasional asal Nusa Tenggara Barat tersebut merupakan sosok sentral yang ajarannya terus mengalir hingga hari ini.
​Beliau mengingatkan sebuah filosofi mendalam dari Maulana Syaikh:

​”Setiap manusia pada akhirnya akan menjadi sebuah cerita bagi generasi mendatang.

​Pesan ini membawa perenungan kolektif bagi para perantau. TGKH Suhaidi menjelaskan bahwa setiap langkah yang diambil hari ini—baik dalam bekerja, bermasyarakat, maupun beribadah—adalah goresan tinta yang akan dibaca oleh anak cucu kelak. ​”Pertanyaannya, cerita seperti apa yang ingin kita tinggalkan? Apakah cerita tentang seorang perantau yang lupa daratan, atau cerita tentang sosok yang gigih berjuang namun tetap tawadhu dan taat pada agama serta mencintai budayanya?” tegas beliau.

​Selain pesan budaya, acara Halal bi Halal ini juga menjadi ajang penguatan ekonomi dan sosial. Masyarakat Lombok Rantau diharapkan dapat saling membantu (saling tulung) dalam menghadapi dinamika hidup di Jakarta yang keras.

​Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta sendiri terus berkomitmen menjadi wadah pembinaan mental dan spiritual bagi warga NTB di perantauan. Dengan semangat Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan), TGKH Suhaidi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berkontribusi bagi bangsa tanpa melupakan asal-usul.

​Acara ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah yang menyuguhkan hidangan khas Lombok, menambah suasana “pulang kampung” di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Pesan TGKH Suhaidi hari ini menjadi pengingat penting: bahwa di atas kesuksesan materi, menjaga warisan leluhur dan nama baik adalah investasi abadi.

​Bagi Masyarakat Lombok Rantau, Halal bi Halal kali ini bukan sekadar ajang bersalaman, melainkan momentum untuk menuliskan “cerita terbaik” sebagaimana yang diwasiatkan oleh Maulana Syaikh, demi masa depan generasi Sasak yang lebih bermartabat.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA