Khotbah Jumat di Masjid At-Tawwabin Bekasi: Ustadz Syahrul Hidayat Ingatkan Dua Syarat Mutlak Diterimanya Ibadah
Sinar5news.com – Bekasi | Umat Muslim di Perumahan Villa Gading Harapan (VGH) 2, Blok A Reamur, Sriamur, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, melaksanakan ibadah salat Jumat dengan penuh khusyuk dan tertib pada hari ini, Jumat (15/05/2026).
Bertindak sebagai Khatib sekaligus Imam dalam pelaksanaan salat Jumat di Masjid At-Tawwabin kali ini adalah Ustadz Syahrul Hidayat, S.Pd. Sementara itu, tugas Bilal dan Muazin diamanahkan kepada Arya Ahmad Syahreza, serta Ahmad Satria Wibawa yang memandu jalannya acara sebagai Master of Ceremony (MC).
Dalam khotbahnya, Ustadz Syahrul Hidayat pertama-tama mengajak seluruh jemaah untuk senantiasa bersyukur atas limpahan beribu-ribu nikmat dari Allah SWT, terutama nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga jemaah dapat berkumpul di rumah Allah guna menunaikan kewajiban salat Jumat berjemaah. Selawat serta salam juga tak lupa dicurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya.
Selaku khatib, ia memberikan wasiat takwa, khususnya bagi diri pribadi dan umumnya kepada seluruh jemaah yang hadir.
“Mari kita sama-sama meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah SWT, karena sebaik-baik bekal menuju akhirat adalah ketakwaan,” ujarnya.

Ustadz Syahrul kemudian mengutip ayat-ayat Al-Qur’an terkait keutamaan takwa, di antaranya bahwa Allah SWT akan memberikan jalan keluar atas segala permasalahan, memberikan kemudahan dalam setiap urusan, menghapuskan dosa dan kesalahan, serta melipatgandakan pahala dan meninggikan derajat orang-orang yang bertakwa.
Hak Prerogatif Allah dan Syarat Diterimanya Ibadah
Lebih lanjut, Khatib mengupas Surah Al-Qasas ayat 68 yang menegaskan hak prerogatif Allah SWT dalam memilih dan menciptakan segala sesuatu, termasuk dalam memilih Rasul, Nabi, maupun Wali-Nya atas kehendak-Nya sendiri, di mana makhluk tidak memiliki pilihan atas ketetapan tersebut.
Ustadz Syahrul menekankan bahwa Allah SWT telah memilih Nabi Muhammad SAW sebagai sebaik-baiknya contoh (uswatun hasanah) bagi umat manusia. Mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW merupakan salah satu syarat mutlak agar ibadah seorang hamba diterima oleh Allah SWT.
“Para ulama menjelaskan bahwa syarat diterimanya ibadah itu ada dua. Pertama, harus ikhlas murni karena Allah SWT. Barangsiapa yang tidak ikhlas, maka amalannya tidak akan diterima. Kedua, ibadah tersebut harus mengikuti petunjuk dan syariat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW (ittiba’),” jelasnya di hadapan jemaah Masjid At-Tawwabin.
Ia juga menyitir sebuah hadis di mana Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”
Pelajaran dari Zaman Khulafaur Rasyidin
Dalam khotbahnya, Ustadz Syahrul mengisahkan sebuah dialog menarik di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib RA. Saat itu, ada seorang jemaah yang bertanya mengapa keadaan masyarakat di masa pemerintahan Ali tidak seaman dan seharmonis di masa Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab.
“Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan bijak menjawab: ‘Ketika pemimpinnya Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar, masyarakatnya adalah orang-orang seperti saya (yang taat dan setia). Namun hari ini, ketika pemimpinnya adalah saya, masyarakatnya adalah orang-orang seperti kamu.’” kisah Khatib.
Kisah ini memberikan pelajaran berharga bahwa generasi awal Islam sangat ketat dalam mengikuti jejak langkah Nabi SAW. Khatib juga mencontohkan bagaimana Abdullah bin Umar RA selalu berusaha meniru setiap detail perilaku Rasulullah SAW demi kecintaannya yang mendalam kepada sang Nabi.
Meneladani Sifat Rasulullah di Zaman Modern
Menutup khotbahnya, Ustadz Syahrul mengingatkan bahwa meskipun jarak zaman kita saat ini sudah sangat jauh dari masa hidup Rasulullah SAW, umat Islam wajib mempertahankan sifat-sifat mulia Nabi, yaitu Siddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan kebenaran), dan Fathonah (bijaksana).
Rasulullah SAW merangkul semua kalangan, mulai dari kaum bangsawan hingga masyarakat miskin di pelosok, karena di hadapan Allah yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Khatib juga berpesan agar lisan umat Muslim dijaga dengan baik, sesuai dengan hadis Nabi: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.”
Khotbah Jumat diakhiri dengan doa bersama yang khusyuk, memohon agar Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, keistiqamahan, kesabaran, serta mengampuni seluruh dosa-dosa umat Muslim dan mengangkat derajat mereka agar kelak dapat berkumpul bersama Baginda Nabi Muhammad SAW di jannah-Nya. (S5N)
DATA PENULIS
-
Nama: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Ust. Amrullah)
-
Profesi: Jurnalis Sinar5News.com & Guru BK (SMP NW/Lab Jakarta)
-
Dakwah: Khatib Jum’at DKI Jakarta & Bekasi, Penulis Naskah Khutbah Nasional.
-
Spesialisasi: Penggagas Metode Al Akrom (5 Jam Bisa Baca Al-Qur’an) & Pengajar Tahsin/Tafsir.
-
Karya: Penulis puluhan buku & Pencipta 12 album lagu religi.
-
Media: YouTube: Abu Akrom Channel & SinarLIMA TV
-
Kontak: 0878-8727-0732





