Perkuat Daya Saing Sekolah, Yayasan Pendidikan Acprilesma Usung Inovasi Berbasis Data dan Program Sinematografi
JAKARTA, Sinar5News.com – Dalam upaya merespons dinamika dan peta persaingan dunia pendidikan yang kian kompetitif, Yayasan Pendidikan Acprilesma menggelar forum diskusi strategis dan pemaparan program inovasi di Aula Graha Acprilesma Lantai 1, Jakarta, Jumat (14/8/2026) sore.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 15.15 WIB tersebut menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Ketua Yayasan Pendidikan Acprilesma dr. Satria Ghaibi Saputra, S.AP., M.Si., Konsultan Yayasan Helmi Wahyudin, serta Kreator dan Pemateri Sinematografi Haikal.
Tantangan Pendidikan dan Evaluasi Berbasis Data
Dalam pemaparannya, Konsultan Yayasan Pendidikan Acprilesma, Helmi Wahyudin, menyoroti hasil riset terbaru dari Pusat Studi dan Kajian Pendidikan (PSKP) terkait fenomena penerimaan peserta didik baru tahun 2025. Data menunjukkan adanya penurunan signifikan jumlah pendaftar di sejumlah sekolah dasar (SD) negeri di beberapa daerah, seperti Bandar Lampung, Semarang, hingga Banjarmasin.
Namun, Helmi mengingatkan agar pengelola sekolah swasta tidak cepat berpuas diri atau terjebak pada asumsi publik yang menganggap sekolah swasta secara otomatis lebih berkualitas dibandingkan sekolah negeri.
“Berdasarkan data capaian nilai literasi dan numerasi selama lima tahun terakhir, perbandingan antara SD negeri dan swasta secara umum sebenarnya relatif berimbang. Sekolah swasta dengan nilai sangat tinggi umumnya merupakan kelompok sekolah berbiaya tinggi yang mencakup sekitar 16% dari total populasi. Artinya, kompetisi ke depan—baik antar-sekolah swasta maupun dengan sekolah negeri yang kini gencar melakukan revitalisasi—akan semakin tajam,” papar Helmi.
Survivorship Bias dan Pentingnya Inovasi Berdampak
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Yayasan Pendidikan Acprilesma, dr. Satria Ghaibi Saputra, S.AP., M.Si., menekankan pentingnya pengambilan keputusan berbasis data (data-driven decision making) serta keberanian dalam menciptakan inovasi yang memiliki konsep jelas dan dampak nyata.
Untuk menggambarkan pentingnya kecermatan dalam berinovasi, dr. Satria mengutip teori matematika dan statistik populer Survivorship Bias karya Abraham Wald pada era Perang Dunia II.
“Dalam perbaikan kualitas, kita tidak boleh hanya melihat bagian yang tampak di permukaan atau sekadar ‘menambal’ hal-hal yang umum. Kita harus menganalisis data secara utuh untuk menemukan titik krusial yang benar-benar menentukan keberhasilan. Program baru yang kita jalankan jangan hanya sekadar formalitas atau ‘yang penting ada’, melainkan harus memiliki konsep, prosedur, dan mekanisme yang berdampak langsung pada tujuan lembaga,” tegas dr. Satria.
Program Sinematografi: Wujud Value Baru Sekolah Laboratorium Jakarta
Sebagai bentuk langkah nyata dalam membangun keunggulan kompetitif, Yayasan Pendidikan Acprilesma siap meluncurkan program pelatihan Sinematografi dan Konten Kreatif di Sekolah Laboratorium Jakarta.
Kreator sekaligus pemateri program, Haikal, memaparkan bahwa program ini dirancang secara komprehensif mulai dari pemahaman dasar hingga tahap publikasi karya:
-
Dasar Fotografi & Videografi: Pemahaman komposisi gambar, pencahayaan (lighting), sudut pengambilan (angle), serta pergerakan kamera.
-
Tata Audio & Multimedia: Teknik perekaman dan penyuntingan suara untuk meningkatkan kualitas daya tarik konten visual.
-
Pra-Produksi: Penyusunan ide cerita, pembuatan storyboard, hingga penulisan naskah iklan dan narasi.
-
Pasca-Produksi & Pameran Karya: Penyuntingan video berbasis aplikasi (CapCut), transisi, pemberian teks, serta pameran karya akhir siswa.
“Setiap sesi akan digarap dengan pola 50% teori dan 50% praktik langsung menggunakan perangkat ponsel pintar (smartphone). Harapannya, para siswa tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga mampu menghasilkan konten yang mengangkat nilai (value) sekolah,” jelas Haikal.
Pembentukan Karakter dan Penguatan Nilai Tambah
Menutup rangkaian kegiatan, dr. Satria Ghaibi Saputra menyampaikan apresiasi dan arahan akhir terkait implementasi program sinematografi yang akan dijadwalkan setiap dua minggu sekali untuk siswa SD (kelas 4, 5, dan 6) serta siswa SMP (kelas VII, VIII, dan IX).
Ia menegaskan bahwa keberhasilan setiap langkah institusi berlandaskan pada komitmen niat yang baik, bimbingan para pakar, pertimbangan yang matang, serta hukum sebab-akibat.
“Langkah ini kita lakukan untuk memberikan daya jual dan ciri khas baru bagi Sekolah Laboratorium Jakarta. Dengan memaksimalkan media digital dan kreativitas anak-anak, kita optimis mampu menghadirkan pendidikan yang adaptif, visioner, dan relevan dengan perkembangan zaman,” pungkas dr. Satria. (Red/Mar)




