Sinar5news- Ahad 9 Agustus pagi itu TMII tidak sekadar taman. Ia berubah jadi nusa. Dari gerbang timur mengalir irama gendang beleq, menggetar sampai ke ujung danau. Warga Himalo Jakarta yang biasanya sibuk dengan layar, hari ini menoleh. Karena yang lewat bukan parade biasa. Yang lewat adalah Nusa Tenggara Barat, dibungkus tenun, diarak doa, disuguh dengan senyum.
Dari pukul 09.00 sampai sore menjelang magrib, Anjungan NTB menjadi rumah singgah. Rumah yang atapnya alang-alang, dindingnya anyaman, dan lantainya penuh tapak kaki perantau. Lantunan lagu lagu daerah terus menyambut para tamu. Mengenang daerah asal nan jauh di mata. Hari ini semua kita terasa di daerah sendiri.
Pagi: Napas Pertama dari Timur. Acara dibuka dengan Tari Mandalike dari Sasak. Gerak lembut penari perempuan seperti padi mengangguk ditiup angin Lombok. Di sampingnya, pemuda Bima mengacungkan parang dan perisai pada Tari Kabanca. Tegas. Membelah udara. Mengingatkan bahwa budaya bukan hanya indah, ia juga penjaga.
Ibu-ibu PKK dari pegawe kantor penghubung dan anjungan NTB menggelar tenun ikat di depan pengunjung. Benang ditarik satu-satu, warna indigo dan sogok bertemu.
Seorang nenek berbisik ke cucu Jakarta: “Ini tidak dicetak nak, ini didoakan.”
Dan sang cucu mengangguk, seolah baru mengerti arti sabar.
Siang: Dapur Menjadi Mimbar. Aroma ayam taliwang dan sate Rembiga mengepul dari bungkusan nasi yang sudah tersaji dijajakan pada meja kuliner samping arena panggung. Potongan cabai merah menari di atas nasi kaput.
Di sebelahnya, es cendol rumput laut Sumbawa dipotong kecil-kecil, manis dengan rasa laut yang tak pernah padam. Pengunjung antre. Bukan karena lapar saja. Tapi karena ingin mencicipi cerita.
Seorang bapak dari Bekasi berkata pelan: “Saya ke TMII tiap tahun. Baru kali ini rasanya seperti benar-benar jalan-jalan.” Mungkin karena hari ini TMII tidak menjual tiket. TMII menjual pulang.
Sore: Ketika Gendang Memanggil Pulang. Menjelang pukul 15.30, seluruh penampil berkumpul.
Gendang beleq, tari anggrek, prisian dan gamelan menabuh bersama.
Ribuan pengunjung ikut menepuk tangan. Irama NTB menular sampai ke anjungan tetangga.
Kepala perwakilan kantor NTB yang hadir berkata singkat: “Kami tidak membawa semuanya. Kami hanya membawa rasa.” Beliau juga turun berlaga. Dan rasa itu tertinggal. Di tapak tangan yang mencoba menjahit keberagaman. Di lidah yang kepedasan taliwang. Di mata anak-anak yang baru pertama kali melihat perangai penari anggrek dan prisean.
Ahad itu berakhir saat matahari condong ke barat. Taman budaya TMII saksi sejarah. Seluruh ruang tempat duduk penuh sesal mulai tribun timur barat dan tengah penuh sesak oleh warga NTB yang hadir menonton sampai akhir. Acara ditutup MC, alat musik dinaikkan.
Tapi TMII masih bergema. Karena budaya yang sungguh-sungguh disuguhkan tidak pernah benar-benar pergi. Ia menetap. Menjadi cerita yang dibawa pulang di tas belanja, di video ponsel, di dada.
NTB datang pagi.
NTB pulang sore.
Tapi jejaknya, insyaAllah, tinggal lebih lama dari itu. Lestarikan budaya cintai negri. Untuk NTB Makmur Mendunia.
( Oleh : Presiden Forum Kebangsaan



