JAKARTA TIMUR — Peringatan Maulid Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlangsung khidmat di Majelis Taklim Al Hidayah, Jalan Rengas Elok D2 Nomor 6, Cakung, Jakarta Timur, pada Sabtu, 26 September 2026.
Kegiatan keagamaan tersebut dihadiri para jamaah dan menghadirkan Ustadz Achmad Fitrah Assairi, S.Pd.I. sebagai penceramah. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan sejumlah pesan penting tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya memperlakukan orang tua, memperbanyak sedekah, serta menjaga hubungan baik dengan sesama.
Salah satu pesan yang ditekankan adalah pentingnya memiliki perhatian kepada orang tua. Menurutnya, seorang anak maupun menantu hendaknya tidak hanya datang kepada orang tua ketika membutuhkan sesuatu, tetapi juga berusaha memberikan perhatian dan berbagi ketika memiliki rezeki.
Ia menggambarkan perhatian sederhana kepada orang tua, seperti membawa makanan yang disukai orang tua ketika berkunjung. Meski orang tua sering mengatakan tidak perlu membawa apa-apa, perhatian tersebut tetap memiliki nilai kasih sayang.
“Kalau ada, bagi saja. Insyaallah berkah hidup kita,” pesan Ustadz Achmad dalam tausiyahnya.
Selain berbakti kepada orang tua, jamaah juga diajak untuk membiasakan diri bersedekah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ia mengingatkan bahwa sedekah tidak harus selalu dalam jumlah besar. Ketika seseorang memiliki kemampuan finansial, ia dapat membantu dengan harta. Jika tidak memiliki uang, seseorang masih dapat membantu dengan tenaga, pikiran, maupun doa.
Pesan tersebut disampaikan dengan gaya ceramah yang ringan dan diselingi humor sehingga membuat jamaah tertawa sekaligus merenungkan pentingnya keikhlasan dalam beramal.
Ustadz Achmad juga mengingatkan agar umat Islam tidak menjadi pribadi yang hanya pandai memberikan komentar atau mengkritik, tetapi enggan ikut membantu. Menurutnya, setiap orang sebaiknya mengambil bagian dalam kebaikan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
“Kalau bisa membantu dengan tenaga, bantu dengan tenaga. Kalau tidak bisa, dengan pikiran. Kalau itu juga tidak bisa, doakan dengan doa yang baik,” tuturnya.
Dalam tausiyah tersebut, ia juga menekankan pentingnya berbagi kepada orang tua, guru, saudara, tetangga, dan orang-orang di sekitar selama seseorang memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Menurutnya, sifat dermawan bukan hanya memberikan manfaat kepada orang lain, tetapi juga menjadi salah satu bentuk amal yang pahalanya diharapkan terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia.
Ia mengingatkan jamaah agar tidak membiasakan diri menjadi orang yang pelit, karena kehidupan bermasyarakat membutuhkan kepedulian dan saling membantu.
Pada kesempatan tersebut, Ustadz Achmad juga mengajak jamaah agar peringatan Maulid Nabi tidak berhenti sebatas kegiatan seremonial. Setelah mengikuti Maulid dan pengajian, hendaknya terdapat perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Setelah Maulid, setelah ngaji, biar ada atsarnya, biar ada bekasnya. Makin bagus habluminallah-nya, makin bagus habluminannas-nya,” pesan beliau.
Ia juga mendoakan agar almarhumah yang dihauli mendapat tempat yang baik di sisi Allah SWT, serta keluarga dan tuan rumah diberikan keberkahan, rezeki yang luas, dan keturunan yang saleh dan salehah.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Majelis Taklim Al Hidayah tersebut menjadi momentum bagi jamaah untuk kembali mengingat keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, khususnya dalam membangun kepedulian, menghormati orang tua dan guru, gemar berbagi, serta mempererat hubungan antarsesama.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan semangat Maulid tidak hanya dirasakan pada saat acara berlangsung, tetapi juga tercermin dalam kehidupan jamaah sehari-hari, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun dalam hubungan dengan keluarga, tetangga, dan masyarakat.





