Sinar5news- Jakarta- Sebagai catatan penting untuk peserta Muswil. Hari ini sabtu 3-4 Oktober sampai besok, Hotel Orchardz Kemayoran menjadi saksi penting. ICMI Korwil DKI bermuswil untuk memilih ketua baru.
Pertanyaannya bukan lagi _siapa_ yang akan terpilih, tapi _sosok seperti apa_ yang dibutuhkan ICMI DKI hari ini?
Jika dulu ICMI lahir sebagai kekuatan moral dan intelektual di tengah otoritarianisme, maka hari ini tantangan ICMI DKI jauh lebih kompleks. Jakarta bukan lagi sekadar ibu kota administratif. Jakarta adalah kota global, kota dengan ketimpangan yang tajam, kota dengan krisis ekologi, krisis moral generasi muda, dan kota tempat pertarungan gagasan paling keras terjadi.
Maka ICMI DKI tidak butuh ketua yang sekadar populer. ICMI DKI butuh ketua yang Transformatif dan Inspiratif.
Apa maknanya?
1. Transformatif: Dari Menara Gading ke Aksi Lapangan.
ICMI sering dicap sebagai organisasi elite, kumpulan profesor yang diskusinya berat di ruangan ber-AC. Ketua baru harus mampu mentransformasi citra itu.
Kita butuh ketua yang mampu menerjemahkan gagasan besar cendekia menjadi program yang menyentuh akar rumput. Bukan hanya seminar tentang ekonomi syariah, tapi inkubator UMKM halal di Tanah Abang, di Kalideres, di Marunda. Bukan hanya diskusi tentang stunting, tapi gerakan nyata cendekiawan ICMI masuk ke posyandu-posyandu di Jakarta Barat dan Utara.
Transformatif berarti berani keluar dari zona nyaman wacana, masuk ke zona tidak nyaman yaitu eksekusi.
2. Inspiratif: Merangkul, Bukan Mengkotak-kotakkan.
Jakarta adalah miniatur Indonesia yang paling bising. Ketua ICMI DKI yang inspiratif harus menjadi jembatan.
Ia harus mampu merangkul cendekiawan muda milenial dan Gen-Z yang lebih fasih bicara AI, climate change, dan startup, dengan cendekiawan senior yang kaya pengalaman kebangsaan. Ia harus mampu duduk bersama ulama kampung, dengan rektor universitas, dengan pengusaha, dengan aktivis LSM, tanpa merasa paling benar.
ICMI DKI tidak boleh menjadi organisasi yang eksklusif. Ia harus inklusif. Ketua yang inspiratif adalah ketua yang kehadirannya membuat orang lain ingin ikut berbuat baik, bukan ketua yang membuat orang lain merasa kecil.
3. Kriteria Non-Negotiable: Integritas dan Jejaring.
Di tengah temuan kamar mewah di Lapas, di tengah krisis kepercayaan publik pada elit, ICMI harus tampil sebagai antitesis.
Ketua baru ICMI DKI harus bersih, rekam jejaknya jelas, tidak tersandera kepentingan politik praktis sesaat. ICMI adalah organisasi cendekiawan, bukan underbouw partai.
Dan ia harus punya jejaring kuat: ke pemerintah pusat dan Pemprov DKI, ke dunia kampus, ke dunia usaha, dan yang paling penting, ke masjid-masjid dan majelis taklim serta paham betul masyarakat DKI yang beragam moderat.
Akhirnya, Muswil ini adalah Ujian.
Apakah ICMI DKI akan memilih ketua yang hanya pandai berpidato, Petualang politik atau ketua yang pandai bekerja dan teruji memiliki akar rumput/ basis Ummat ?
Apakah akan memilih figur yang hanya populer di media sosial, atau figur yang populer karena kerja-kerjanya dirasakan umat?.
Jakarta menunggu. Umat menunggu. Kita butuh Ketua ICMI DKI yang ketika ia bicara, Jakarta mendengarkan. Dan ketika ia bekerja, Jakarta merasakan.
Itulah makna sejati dari transformatif dan inspiratif. Ketua yang memiliki rekam jejak yang bersih, tidak pernah tersangkut masalah hukum, memiliki kedudukan yang jelas, visioner, berintegritas, bukan peliharaan oligarki/mafioso.
Bagi pemilik suara agar menghormati, mengedepankan rasionalitas, terukur, untuk kemajuan Ummat bangsa khususnya DKI dalam menentukan pilihan bukan semata mata permainan politik yang dapat merusak tatanan yang sudah kondusif. ICMI haruslah menjadi pionir perubahan dalam memilih ketua yang mengedepankan nilai kebangsaan berjiwa merah putih. ( red)





