Tepat hari ini Jumat, 3 April 2020 penulis genap berumur 46 tahun. Alhamdulillah syukur kepada Allah diusia penulis yang 46 tahun ini, masih dapat berkiprah menjalani aktifitas kehidupan. Sungguh ini adalah suatu nikmat besar yang wajib penulis syukuri, karena dengan rahmat Allah Yang Maha Bijaksana masih berkenan memberi kesempatan untuk menjalani hidup yang sangat singkat di atas muka bumi yang fana’ ini.
Penulis lahir pada tanggal 3 April 1974 di suatu gubuk kecil yang bernama Repok Bangket Lauk, Desa Sikur, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, NTB. Istilah Repok berasal dari Bahasa Lombok yang artinya rumah terpencil yang terdiri dari beberapa rumah tidak sampai 10 rumah. Bangket artinya sawah, Lauk artinya Selatan. Jadi melihat makna-makna ini dapat disampaikan bahwa, penulis dulunya lahir dan tinggal di suatu rumah terpencil di tengah-tengah sawah yang berada di sebelah selatan dari Dasan Luah, Desa Sikur tempat orang tua berasal.

Menurut cerita dari orang tua bahwa proses kelahiran penulis itu sangat mudah, tanpa lama-lama ibarat buang air besar keluar dengan sangat lancar. Ketika penulis lahir orang tua dan keluarga sangat senang dan bergembira, ayahandaku yang bernama Amaq Mainah segera mengazankan di sebelah telinga kanan dan mengiqamahkan sebelah telinga kiri.
Setelah itu orang tua memberiku nama “Marolah”. Tapi sayang nama ini tidak pernah dijelaskan apa artinya, bahkan penulis coba telusuri makna ini di berbagai sumber, ternyata tidak ditemukan artinya. Melihat kenyataan ini, akhirnya salah seorang guru saya waktu menimba ilmu di MA NW Ponpes NW Pancor Lombok Timur sekitar tahun 1989 mengganti nama saya dengan Amrullah yang artinya perintah Allah. Untuk lebih mamantapkan penggantian nama ini, penulis memohon doa restu kepada guru besar kami waktu itu yaitu Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pendiri organisasai NWDI, NWDi dan NW. Dari sejak itu resmilah nama penulis diganti dengan Amrullah dengan tambahan Amrullah Khair (Perintah Allah itu baik). Keluarga, jamaah dan beberapa teman memanggil penulis dengan nama Amrullah sampai saat ini.

Ketika penulis lahir dan dibesarkan di Repok Bangket Lauk, penulis merasakan adanya perhatian dan kasih sayang yang luar biasa dari kedua orang tua yaitu Amaq Mainah dan Inaq Ridoan. Juga mendapat perhatian dan kasih sayang yang luar biasa dari tiga orang kakak yaitu Ismail, Maryam dan Maroan.
Diantara bentuk perhatian dan kasih sayang orang tua adalah membimbing dan mengajarkan Al Quran dan ilmu agama dari kecil. Penulis banyak menimba ilmu agama dari orang tua, terutama Al Quran yang langsung diajarkan oleh Ayahanda tercinta yaitu Amaq Mainah. Ayahandaku dalam mengjarkan Al Quran sangat detail, teliti dan disiplin. Tidak boleh salah sedikitpun baik dalam penyebutan huruf, makhraj, panjang-pendek dan hukum-hukum tajwid yang ada dalam Al Quran. Sehingga buah dari ketatnya Ayahanda dalam mengajarkan Al Quran, Alhamdulillah penulis bisa menjadi imam, mengajarkan tahsin dan membimbing pelajaran tahfidz di SMP Laboratorium Jakarta hingga saat ini.
Memasuki usia 6 tahun, penulis sekolah di SDN 03 Sikur tahun 1980 dan tamat di SD ini tahun 1986. Setelah itu langsung melanjutkan di MTs NW Sikur selama tiga tahun dan tamat tahun 1989. Kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di MA NW Pancor sembari mondok di Pondok Pesantren NW Pancor Lombok Timur NTB selama tiga tahun dari tahun 1989-1992.
Pada tahun 1992 penulis berencana melanjutkan pendidikan dan sudah mendaftarkan diri di MDQH (Ma’had Darul Quran Walhadits) Pancor. Tapi sayang tidak berlanjut karena ada tugas pengabdian di Pondok Pesantren NW Jakarta. Waktu itu atas rekomendasi dari Kakanda Prof. Dr. H. Harapandi Dahri, M.Ag (sekarang bertugas sebagai dosen dan guru besar di Universitas Ugama Brunai Darussalam), beliau meminta penulis untuk ikut berjuang mengabdikan diri di Ponpes NW Jakarta. Dimana yang menjemput penulis waktu itu adalah pimpinan Ponpes NW Jakarta, Drs. KH. Muhammad Suhaidi, SQ. Singkat cerita penulis bersama Ayahanda Amaq Mainah dibawa menghadap Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainddin Abdul Madjid, untuk meminta doa restu dan berpamitan kepada beliau.
Dari tahun 1992 sampai sekarang 2020 ini, penulis masih aktif mengabdi di Ponpes NW Jakarta yaitu mengajar Bahasa Arab dan BK di SMP NW Jakarta. Juga mengajar tilawah Al Quran kepada santri yang muqim (menetap) menimba ilmu.
Di Ponpes NW Jakarta, penulis banyak mendapatkan pengalaman baik dalam mendidik, menata lingkungan, berorganisasi maupun berinstraksi langsung dengan masyarakat ibu kota khususnya yang berada di wilayah Pisangan, Penggilingan, Cakung Jakarta Timur. Sehingga dari pengalaman-pengalaman tersebut, penulis banyak mendapat pemberlajaran yang luar biasa untuk pendewasaan diri menuju pribadai yang lebih bijaksana.

Pada tahun 1995 penulis melanjutkan pendidikan S1 di IAI (Institut Agama Islam) Jakarta dan berhasil menyelesaikannya pada hari Sabtu, 25 September 1999. Sehari setelah diwisuda, keesokan harinya Ahad, 26 Septemer 1999, penulis menikah dengan seorang wanita terbaik pilihan hati bernama Fahrunnisa berasal dari Cirebon. Pada waktu menikah banyak sekali teman-teman sperjuangan yang mengantar ke Cirebon termasuk pimpinan Ponpes NW Jakarta, Drs. KH. Muhammad Suhaidi, SQ ikut menjadi saksi. Keluarga dari Lombok yang diwakili Kak Maroan dan Kak Ishak datang pula menghadiri sekaligus menjadi saksi pada pernikahan penulis yang sangat sakral pada waktu itu.
Pada saat pernikahan, itulah saat yang paling bahagia dan berkesan. Betapa lancarnya acara tersebut tanpa ada kendala yang menghalangi. Banyak sekali bantuan, dukungan dan doa yang disampaikan, sehingga sampai saat ini usia pernikahan penulis dengan istri tercinta Fakhrunnisa sudah berlangsung 20 tahun dan telah dikarunia 3 orang anak yaitu Muhamad Akromul Fithrah, Abdul Quddus Al Majidi dan Maulidia Fakhma Hayati.
Pada tanggal 19 Juli 2005, penulis diajak oleh Bp, Drs. Maolan, M.Pd mengabdi dan mengajar di SMP Laboraotium Jakarta Yayasan Pendidikan Acprilesma milik Prof. Dr. H. Agustitin Setyobudi, MM, Ph.D yang beralamat di Jalan Rawa Jaya No. 37, Pondok Kopi, Duren Sawit Jakarta Timur. Sampai saat ini penulis masih mengajar tiga mata pelajaran yaitu BK, BTQ dan Tahfizh.
Pada tahun 2008, penulis melanjutkan pendidikan S2 di Sekolah Tinggi Manajemen IMNI dan selesai pada tanggal 15 April 2010. Pada tanggal 13 Mei 2010 penulis diwisuda di Gedung Saseno Langen Budoyo TMMI (Taman Mini Indonesia Indah). Ikut hadir mendampingi adalah istri dan dua anak tercinta yaitu Muhamad Akromul Fithrah dan Abdul Quddus Al Majidi. Alhamdulillah selama kuliah S2 sampai dengan wisuda berjalan lancar, mudah dan sukses. Semua ini berkat doa kedua orang tua, keluarga dan teman-teman seperjuangan.
Pada tanggal 19 Mei 2012, penulis berangkat umrah bersama sopir dan 8 keluarga besar dari Prof. Dr. H. Agustitin Setyobudi, MM, Ph.D. Semua biaya umrah ditanggung 100% oleh Profesor. Yang ikut mengantar ke bandara Internasional Soekarno Hatta pada waktu itu adalah Istri, dua anak tercinta (Akrom dan Almajidi), Kang Sanuri, Kang Sukadi, Rodiyah, Bu Agus, Ibu Rani, Pak Nur Siddik dan Ahmad Yudho Baskoro.
Dalam keseharian ditengah-tengah kesibukan berkatifitas dalam mengajar, juga mengisi beberapa majlis ta’lim diantaranya mengajar tematik Al Quran dan tahsin Al Quran di Masjid At Tawwabin Bekasi di lingkungan perumahan Vila Gading Harapan 2 tempat penulis tinggal. Juga mengisi ta’lim di Masjid Darul Arqam, Jakarta Timur dari tahun 2006 sampai sekarang.
Pada hari Sabtu, 9 November 2019 penulis bersama Drs. Muslihan Habib, MA dan lain-lain dilantik sebagai pengurus media Sinar5News.com oleh Ketua Yayasan Mi’rajush Shibyan NW Jakarta, Drs. KH. Muhammad Suhaidi, SQ. Dimana dalam kepengurusan ini, Drs. Muslihan Habib, MA ditetapkan sebagai direktur, sedang penulis ditetapkan sebagai koordinator wartawan. Di media ini setiap hari penulis menuangkan berbagai macam tulisan baik berbentuk artikel maupun berita aktual yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Alhamdulillah tidak kurang dari 150 judul telah dipublikasikan secara luas dengan tema-tema yang bervariatif sesuai dengan kondisi yang ada.
Dalam menulis, penulis banyak mencantumkan nama dengan Abu Akrom (bahasa Lomboknya Amaq Akrom). Hal ini penulis lakukan sesuai dengan adat kebiasaan orang tua di Lombok, ketika sudah menikah dan punya anak biasanya dipanggil bukan nama aslinya tapi dipanggil dengan nama anak pertama. Ini sebagai julukan atau dalam rangka tabaruk (mengambil berkah dari Allah) sebagai tanda syukur karena telah dikarunia seorang anak pertama yang diharapkan menjadi generasi penerus yang lebih baik dan dapat melanjutkan kehidupan orang tuanya.
Tulisan dalam bentuk karya bukupun berhasil penulis lakukan, dimana terdapat 10 judul buku yang telah dibukukan yaitu; Bimbingan Tilawah Al Quran, Pedoman Ibadah, TGB Calon Pemimpin RI 2019, Kumpulan Syair 100 Karakter NW Sejati yang sangat menginspirasi, Mengenal Sosok Prof. Dr. H. Agustitin Setyobudik, MM, Ph.D Dalam Untaian Syair Yang Penuh Hikmah, 50 Karakter Insan Mulia, Makna Acprilesma Dalam Gubahan Syair, Kumpulan Syair Yang Mencerahkan dan Mencerdaskan, Metode Al Akrom 5 Jam Bisa Baca Al Quran dan PPOT 1 Syair Indah dan Inspiratif.
Semoga sekelumit kisahku ini membawa arti dan manfaat bagi pembaca, khususnya bagi diri pribadi dan keluarga tercinta baik yang ada di Lombok, maupun yang ada di Cirebon.
Bekasi, 9 Sya’ban 1441 H/3 April 2020 M




