Pemerintah pusat hingga daerah terus berupaya memutus mata rantai penyebaran covid-19 dengan segala cara, salah satunya adalah pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pelaksanaan PSBB dilapangan oleh para petugas gabungan tidak jarang mendapatkan kendala-kendala yang berujung pada perdebatan hingga perkelahian antara petugas dengan masyarakat. Seperti yang terjadi di Tol Satelit Kota Surabaya pada hari Rabu 20 Mei lalu. Dimana terjadi perkelahian antara petugas Satpol PP dengan seorang Habaib, tokoh ulama Habib Umar Assegaf.
Tidak selang berapa lama, kejadian ini kemudian viral di media sosial dengan beragam tanggapan dari para netizen. Ada yang mendukung Habib Umar dan ada pula yang mendukung petugas Satpol PP. Bahkan MUI Jawa Timur ikut serta memberikan tanggapan terhadap kejadian tersebut dan berharap kedua belah pihak bisa menyelesaikkan kasus ini secara kekeluargaan.
Apapun itu yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mengambil pelajaran penting dari setiap peristiwa, bukan sebaliknya menjadi propokator dan mengadu domba antara kedua belah pihak yang sedang bertikai. Sebaliknya kedua belah pihak juga harus bisa menahan diri, tidak kemudian justru terprofokasi oleh pihak-pihak yang tidak mengingkan bangsa ini aman dan damai.
Terkait kejadian tersebut, setidaknya ada dua sudut pandang yang ingin penulis utarakan dengan harapan kita semua bisa bersikap dewasa dalam menyikapi setiap kejadian yang ada.
Yang pertama: kita harus sama-sama memahami bahwa kita hidup di negara hukum. Maka setiap ranah dalam kehidupan berbangsa, telah diatur tata caranya. Oleh sebab itu tidak dibenarkan jika kita bersikap semau-maunya tampa mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Jika itu terjadi maka kita termasuk kelompok masyarakat yang tidak disiplin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam konteks kasus ini, kita sebagai warga negara harus peka terhadap situasi yang sedang terjadi. Wabah virus covid-19 saat ini telah menelan banyak korban jiwa. Sehingga pemerintah berupaya menekan penyebaran viris tersebut dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan penerapan PSBB. Dalam pelaksanaan PSBB, salah satu poin pentingnya adalah membatasi aktifitas masyarakat diluar rumah dan senantiasa menjaga jarak antara satu dengan yang lain. Maka jangan heran jika ada petugas menghentikan kendaraan di areal PSBB, ketika kendaraan tersebut tidak menjalankan peraturan PSBB.
Sebagai warga negara yang baik, kita sudah sepatutnya bisa mentaati aturan yang sudah ditentukan oleb pemerintah dan menghargai petugas yang sedang menjalankan tugas dilapangan. Mereka juga manusia yang sama seperti kita, rela meninggalkan keluarganya untuk menjalankan tugas memastikan semua dapat terkendali dengan baik. Ketika dihadapkan pada masyarakat yang ngeyel dan susah diatur, tak jarang mereka merasa sakit hati dan marah. Ini merupakan bagian dari naluri mereka sebagai manusia biasa.
Yang kedua: kita harus memahami bahwa kita hidup di negara yang bernama indonesia yang kaya akan adat istiadat. Karakter masyarakat indonesia tentu berbeda dengan negara-negara lain di dunia pada umumnya karena memiliki beragam adat, budaya dan bahasa. Sehingga pendekatan yang digunakan dalam menerapkan suatu aturan adalah pendekatan keindonesiaan. Apalagi yang dihadapi adalah seorang tokoh ulama, lebih-lebih seorang habaib yang memiliki nasab kepada baginda Rasulullah SAW. Tentu sikap yang ditempuh tidak boleh sekedar mengedepankan amarah.
Betul bahwa kita harus menegakkan aturan tampa pandang bulu, namun dalam menegakkan aturan juga harus melalui cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang.
Banyak cara-cara persuasif yang bisa ditempuh oleh petugas dilapangan untuk menegur warga masyarakatnya ketika mereka keliru. Sebab bisa jadi masyarakat tersebut belum sepenuhnya memahami secara utuh tentang peraturan PSBB yang sedang dijalankan. Sehingga penting kemudian petugas menjelasakan dengan baik kepada masyarakat sebelum mereka mengambil sebuah tindakan. Tidak dibenarkan apabila aparat hanya mengedepankan emosi ketika bertindak kepada warga masyarakat.
Kejadian ini semoga menjadi pelajaran penting dan menjadi bahan evaluasi untuk kita semua, baik pemerintah maupun masyarakat. Kita berharap pemerintah bisa selektif dalam menerjunkan aparatnya dilapangan dan memberikan bekal yang cukup untuk mereka. Sehingga kejadian-kejadian seperti ini tidak perlu terulang kembali di hari yang akan datang. Sebaliknya masyarakat juga harus belajar untuk tertib dan taat terhadap segala aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sebab aturan yang telah dibuat oleh pemerintah pada dasarnya bertujuan untuk kebaikan bersama. Masyarakat harus bisa menjadi pelopor utama keselamatan ditengah pandemi covid-19 saat ini.
#JagaJarak
#DirumahSaja
Mataram, 22 Mei 2020




