Baru saja kita memasuki tahun baru 2023. Bahkan, saat ini kita sedang berada di awal tahun dan masih dalam suasana tahun baru. Masih teringat bagaimana ekspresi di berbagai belahan wilayah dalam merayakan tahun baru, ada yang menyambutnya dengan membakar petasan kembang api, ada juga yang menyambutnya dengan makan bersama, membakar jagung, ayam ikan dan makanan yang lainnya. Dan ada juga yang menyambutnya dengan membaca rangkaian doa bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Pada masyarakat yang berada di daerah perkampungan biasa merayakannya dengan ramai-ramai menuju ke tempat rekreasi seperti pantai dan tempat-tempat rekreasi lainnya.
Seperti apapun ekspresi kaum muslimin dalam menyambut tahun baru, semuanya itu tidak boleh terlepas dari dua bentuk ekspresi iman yang sudah digariskan dalam Islam yaitu :
a. Ekspresi dalam bentuk syukur kepada Allah. Ekspresi ini biasa muncul disebabkan oleh adanya kebahagiaan dalam diri seorang muslim yang telah dipanjangkan umurnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala sehingga bisa bertemu dengan tahun berikutnya. Boleh dikatakan, ekspresi ini adalah sebagai ungkapan syukur atas nikmat umur yang telah diberikan Allah SWT.
b. Dan Ekspresi dalam keadaan bersedih (alhuzn). Ekspresi ini muncul karena didorong oleh adanya rasa sedih dari dalam hati seorang muslim setelah memperhatikan umur yang saat itu dirasakan telah semakin berkurang dengan masuknya tahun baru berikutnya. Umur tersebut digambarkan persis seperti lilin yang semakin lama menerangi ruangan bukan semakin panjang, akan tetapi semakin berkurang dan lama-lama menjadi habis.
Ekspresi bahagia yang dalam bahasa agama diungkapkan dengan kata syukur sedangkan ekspresi kesedihan biasa diungkapkan dengan kata sabar. Syukur dan sabar merupakan dua cabang iman yang senantiasa ada pada seorang muslim. Jika kedua cabang ini tidak dimiliki oleh seorang muslim, maka pengakuan dirinya sebagai hamba Allah perlu dipertanyakan, serta baik untuk diadakan muhasabah diri apakah sudah termasuk hamba Allah yang diakui oleh Allah, ataukah hamba Allah yang hanya mengaku diri sebagai hamba tapi Allah belum mengakui kehambaannya.
Untuk bisa memastikan diri sebagai hamba Allah yang sesungguhnya, maka ada baiknya seorang muslim memperhatikan sifatnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari apakah sudah masuk dalam kriteria hamba Allah yang sesungguhnya atau belum. Selengkapnya baca disini 👇
BULETIN JUM’AT HAMZANWADI EDISI 116
Donasi ke Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Jakarta melalui rekening resminya di – 32500 1002 159536 Bank BRI- atas nama PA.AS NAHDLATUL CQ SUHAIDI





