Salah satu bentuk kebodohan manusia yang sering kali tidak disadari adalah ketika seseorang mengaku yakin terhadap kekuasaan dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, ia tidak menjadikan keyakinannya itu sebagai dasar dalam bertindak. Ia percaya bahwa Allah Maha Mengatur segalanya, Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Mendengar setiap keluhan, dan Maha Kuasa atas segala urusan. Tapi anehnya, saat ia tertimpa masalah, hatinya justru panik, pikirannya gelisah, dan ia lebih memilih bersandar kepada makhluk yang lemah daripada kepada Allah yang Mahakuat.
Inilah bentuk keyakinan semu yang sering kali menjangkiti manusia. Ia tahu, tetapi tidak memahami. Ia mengerti, tetapi tidak mengimani. Pengetahuannya tentang Allah hanya sampai pada akalnya, belum sampai ke hatinya. Sehingga, dalam kondisi apapun, ia tidak menjadikan Allah sebagai tempat bergantung utama. Bahkan seringkali, ia baru ingat kepada Allah setelah semua jalan lain tertutup. Ini adalah sebuah kesalahan besar dalam memaknai iman.
Padahal, jika seseorang benar-benar menyadari kemahakuasaan Allah, maka sudah seharusnya keyakinan itu tercermin dalam sikap hidupnya. Ia akan menjadi pribadi yang tenang dalam menghadapi musibah, tabah dalam menerima cobaan, dan kuat dalam menjalani ujian kehidupan. Karena ia tahu, bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya, dan bahwa setiap kejadian pasti mengandung hikmah yang tidak selalu bisa dijangkau oleh akal manusia.
Cobalah renungkan, berapa banyak orang yang mengatakan percaya bahwa Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), namun masih saja merasa takut miskin dan menempuh jalan yang haram demi mengejar kekayaan? Bukankah ini menunjukkan bahwa keyakinan itu belum menjadi iman yang sesungguhnya? Iman yang sejati akan menumbuhkan keberanian dalam menjauhi yang haram, dan keteguhan dalam menjalani yang halal, meskipun terlihat lebih berat. Karena hati yang yakin tidak akan pernah ragu bahwa rezeki sudah ditentukan, dan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang berserah diri kepada-Nya.
Keyakinan yang sejati juga akan mendorong seseorang untuk senantiasa berdoa. Ia tidak merasa cukup hanya dengan usaha lahiriah, tapi ia melengkapinya dengan usaha batiniah—berdoa, memohon, dan bertawakal. Sebab ia yakin bahwa sekeras apapun usaha manusia, semua hasil tetap berada dalam genggaman Allah. Doa bukan sekadar ritual pelengkap, melainkan bentuk pengakuan bahwa manusia ini lemah dan tidak memiliki daya kecuali atas izin Allah. Selengkapnya baca disini 👇
Buletin Jum’at HAMZANWADI Edisi 244
Donasi ke Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Jakarta melalui rekening resminya di – 32500 1002 159536 Bank BRI- atas nama PA.AS NAHDLATUL CQ SUHADI





