Cerita Pendek Ke-10: Malam Pangkas Rambut di Gabus

Cerita Pendek Ke-10: Malam Pangkas Rambut di Gabus

Malam Senin, 11 November 2016, saya mengakhiri aktivitas hari itu setelah urusan pemasangan ban dalam motor Honda selesai. Perjalanan pulang terasa sedikit lebih ringan, meski ada satu hal yang sejak beberapa hari terakhir mengganggu pikiran dan kenyamanan saya: rambut yang sudah terlalu panjang. Setiap bergerak, terasa gerah dan kurang nyaman, seolah mengingatkan bahwa sudah waktunya dirapikan.

Tanpa banyak pertimbangan, saya pun melanjutkan perjalanan menuju tempat pangkas rambut Asgar, yang terletak di pinggir Jalan Gabus, tidak terlalu jauh dari rumah. Tempat itu sudah seperti langganan bagi saya, Bambang, setiap kali ingin mencukur rambut. Sederhana, apa adanya, namun selalu memberi rasa puas.

Lampu bohlam menggantung menerangi ruangan kecil itu. Suara gunting yang beradu pelan dengan sisir, berpadu dengan obrolan ringan, menciptakan suasana khas pangkas rambut malam hari. Asgar menyambut saya dengan senyum ramah, seolah sudah tahu maksud kedatangan saya tanpa perlu banyak kata.

Saat rambut mulai dipangkas, satu per satu helaian jatuh ke lantai. Ada rasa lega yang perlahan hadir, seakan beban kecil yang selama ini menempel ikut luruh bersama rambut yang terpotong. Di sela proses itu, pikiran saya melayang, merenungi hari yang telah dilalui—tentang kesibukan, tanggung jawab, dan rasa syukur atas hal-hal sederhana.

Tak lama kemudian, pangkasan selesai. Saya bercermin dan tersenyum kecil. Rambut lebih rapi, kepala terasa ringan, dan hati pun ikut lapang. Malam itu, dalam kesederhanaan pangkas rambut di pinggir jalan, saya pulang dengan perasaan nyaman dan tenang, siap menyambut hari esok dengan semangat baru.

Penulis: Marolah Abu Akrom (Jurnalis media SinarLIMA)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA