Oleh: Abah_Rosela_Naelal_Wafa
Alhamdulillah, Allah mengizinkan saya mengikuti Dakwah Nusantara TGB di Pulau Dewata Bali, tepatnya di Kota Denpasar dan Tabanan selama dua hari, pada 27-28 Nopember 2021 M.
Majlis dakwah dimulai pada malam Sabtu dalam rangka Peresmian Pendopo Wikondo. Acara diawali dengan makan malam bakda salat Magrib, disertai dengan acara ramah tamah dan foto-foto di sekitaran Pendopo yang bercorak Tionghoa tersebut.
Acara malam itu, berlangsung hingga pukul 11 malam. Peresmian Pendopo ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Syekhona Dr. TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA al-Hafidz.
Rangkaian acara pun selesai.
Setelah Syekhona TGB bersama ajudannya Gus Pebrian (Penulis Buku Dakwah Nusantara) naik mobil Alphard warna hitam yang ditumpanginya, saya dan rombongan Tim Media kembali ke Hotel dan sampai tujuan sekitar pukul 12 malam. Istirahat sampai jam tiga dini hari.
Sebelum jam empat pagi, kami Tim Media sudah harus ada di lokasi Dakwah Nusantara TGB yang kedua, yakni di Musala al-Hidayah di sebelah barat Pendopo Wikondo. Masih satu kompleks.
Selesai salat Subuh berjamaah, ulama alumnus al-Azhar Kairo Mesir tersebut mengisi tausiyah, dengan dihadiri langsung oleh Keluarga Besar Bapak H. Tresno Wikondo Rahardjo dan pembantu-pembantunya, juga masyarakat sekitar.
Siraman rohani pagi itu, menjadi medium Syekhona TGB mengingatkan hadirin akan beberapa hal terkait keutamaan waktu subuh dan beramal saleh di pagi hari.
Pertama, hendaklah bersyukur bisa memulai hari dengan kebaikan. Sebab, kebaikan yang dilakukan di awal hari adalah sebaik-baik penolong dalam perjalanan aktivitas seharian.
Penjelasan Syekhona tersebut sejalan dengan sebuah ungkapan, بدايتك نهايتك “Seperti apa awalmu, demikian akhirmu”. Spirit ibadah di pagi hari, menjadi energi atau ruh perjalanan aktivitas sepanjang hari.
Kedua, beribadah di awal hari, selain sebagai energi beraktivitas, padanya juga ada keberkahan yang menyelimuti. Bukankah, Nabi saw. pernah berdoa keberkahan untuk umatnya?
اللهم بارك لأمتي في بكورها .
“Ya Allah, berkahi umatku di pagi hari.” (Al-Hadis).
Nah, untuk memperoleh keberkahan itu, Rasulullah selalu mentradisikan dan mendidik kita dengan salat berjamaah Subuh di masjid, sebagai satu energi jiwa yang bisa melejitkan prestasi dalam semua ikhtiar keseharian.
Ketiga, menariknya, bacaan Alquran di pagi hari saat salat Subuh, disaksikan sebagai sebuah kebaikan dan suatu keistimewaan. Syekhona Tuan Guru Bajang mengutip ayat berikut sebagai hujjahnya.
اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا .
“Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. al-Isra’: 78).
Di sisi lain, salat subuh berjamaah sendiri memiliki keutamaan dan ganjaran yang amat besar.
Kata Syekhona TGB, Rasulullah sangat memaklumi dan mengetahui umatnya yang memiliki kekuatan atau kemampuan yang beragam dalam beribadah.
Ada orang yang bisa salat malam sampai sepuluh rakaat tahajud dan tiga rakaat witir. Ada pula yang sampai delapan rakaat tahajud, lalu witir tiga rakaat. Bahkan ada yang tak salat malam sama sekali.
Namun, pahala ibadah malam tersebut, bisa diraih dengan salat subuh berjamaah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ .
“Barang siapa yang melakukan salat Isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan salat setengah malam. Barang siapa yang melakukan salat Subuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan salat malam sepanjang waktu malam itu.”(HR. Muslim).
Walhasil, mari kita cas optimisme di pagi hari dengan ibadah di pagi hari alias salat Subuh berjamaah. Semoga, kesuksesan menyertai!
Keempat, yang disampaikan ulama yang pernah menjabat Gubernur NTB dua periode (2008-2018) tersebut ialah, bahwa bangun pagi yang diisi dengan amal saleh, adalah sumber energi lahir dan batin.
Sumber energi tidak hanya makanan dan minuman saja. Memang, kalau untuk pekerjaan lahiriah, sumber energinya dengan makan dan minum. Tapi, kehidupan tidak hanya lahiriah saja, tapi ada batiniah. Energi juga perlu dikirim ke otak, hati dan jiwa.
Bahkan menurut Syekhona, hati dan jiwa sangat penting diasah. Sebab Alquran sendiri menegaskan kecerdasan itu ada di hati. Dalil yang dikutip beliau ialah ayat:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ .
“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. al-A’raf: 179).
Kata Syekhona TGB, kecerdasan itu adalah kecerdasan hati. Jadi, yang diasah itu tidak hanya rasio otak saja, tapi mengasah hati dan jiwa kita tidak kalah urgen. Dan mengasahnya butuh energi dan bekal. Tidak ada bekal terbaik melainkan bekal takwa.
اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ .
“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS. al-Baqarah: 197).
Penegasan dari alumnus terbaik al-Azhar Kairo Mesir itu, antara lain bahwa, “Amal-amal ibadah yang kita kerjakan, tidak hanya untuk memantaskan diri kita di akhirat saja. Tapi, tidak kalah pentingnya ia merupakan bekal energi kita dalam kehidupan.” Tegas Syekhona TGB al-Hafidz.
Simpulannya, untuk menjadi “khairaummah” (umat terbaik) kita butuh energi dan bekal. Salah satu energi dan bekal itu ialah seperti salat Subuh berjamaah, kajian pagi dan amal saleh lainnya.
Wa Allah A’lam!
Paok Lombok, 11 Desember 2021 M.
#StafPengajardiPPSelaparang
#KetuaIMMZAHSelaparang
#SekretarisPCNWDIKediri


