Dakwah TGB (25) KEBINEKAAN VERSI ISLAM Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

Dakwah TGB (25) KEBINEKAAN VERSI ISLAM Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

“Tidak pernah ada masalah tentang kebinekaan atau keberagaman dalam Islam.” Demikian cuplikan ceramah TGB di Langkat Sumatera pada tahun 2017. Sekitaran bulan Agustus, karena momen ceramahnya masih tentang mensyukuri kemerdekaan.

Mengapa demikian?

Karena menurut TGB, kebinekaan atau keberagaman adalah perihal yang telah menjadi suaratan takdir (sunnatullah), atau ketetapan dari Allah. Kita semua hamba-Nya wajib menerima dan tidak bisa komplain. Jadi, tidak ada orang Islam yang protes terhadap kebinekaan.

Sesungguhnya kalau kita ingin mencari solusi dari masalah-masalah yang ada di Indonesia, TGB mengajak kita merenungkan kenyataan yang sesungguhnya.

Apakah umat Islam yang mencari-cari masalah, ataukah justru ada satu-dua orang yang kemudian menjadi pemicu masalah? Tanya Tuan Guru Bajang kepada jamaah yang hadir.

Setahu kita, sebelum itu ada (tanpa TGB menyebut secara vulgar peristiwa yang dimaksud), kita (rakyat Indonesia) aman-aman saja. Tapi, ketika tidak ada yang bisa menjaga mulutnya, lalu menyebut hal-hal yang tidak baik (perihal kutab suci orang lain), maka kejadianlah gelombang masa yang berkali-kali.

Rupanya –menurut hemat saya–, bahasan ceramah TGB ini terkait dengan pidato Mantan Gubernur DKI Jakarta di Pulau Seribu. Di mana pada waktu itu Pak Basuki Cahaya Punama alias Ahok –non muslim– mengutip al-Maidah 51.

Akibatnya, gelombang masa umat Islam Indonesia waktu itu sampai jutaan berkumpul di Monumen Nasional atau Monas. Peristiwa ini terjadi berjilid-jilid, yang kemudian dikenal dengan istilah 411 dan 212 (2 Desember 2016).

Dan, bahasan ini diperlukan –seperti pada ceramah TGB kali ini– agar tidak terjadi pembelahan umat dan rakyat Indonesia. Sekaligus sebagai pengingat bagi kita agar tidak terulang kembali. Gubernur NTB dua priode dari kalangan ulama ini mengutip sabda Nabi saw.:

ألفتنة نائمة لعن الله من استيقظها .
“Fitnah itu adalah ibarat singa yang tidur, Allah melaknat orang yang membangunkannya.” (Al-Hadis).

Bagi Ulama Tafsir alumnus Al-Azhar Cairo Mesir ini, bahwa dosa besar bagi orang yang berbuat fitnah, memunculkan atau membangunkannya. Karena itu, berhentilah dan berhati-hatilah dari fitnah. “Kita tidak mau gagah-gagahan seperti itu (berdemo berkali-kali).” Jelasnya.

Bagi TGB, umat Islam Indonesia telah dewasa menyikapi kebinekaan. Beliau membuktikan pernyataannya dengan mencontoh rakyat NTB di bawah kepemimpinannya. Katanya, kebinekaan tidak menjadi masalah di Nusa Tenggara Barat.

“Semua agama non muslim, meski minoritas tetap bisa beribadah dengan aman dan nyaman di NTB.” Terang Doktor di bidang tafsir ini.

Sebagai contohnya. TGB mengulas kedewasaan rakyat NTB dalam berbineka. Di mana saat MTQ Nasional diselenggarakan di Islamic Center Mataram, teman-teman Tionghoa, mereka juga ikut memeriahkannya dengan memasang 1.000 lampion di sepanjang jalan utama Kota Mataram.

Selain itu, menurut cerita TGB, teman-teman yang beragama Nasrani sampai berkirim surat kepada beliau, yang isinya minta petunjuk dirinya selaku Gubernur, agar mereka dilibatkan dalam MTQ tersebut. Mereka dengan suka rela ingin ikut terlibat membantu dan memeriahkan acara tersebut.

Contoh pengejewantahan nilai-nilai kebinekaan dari masyarakat NTB ini, cukup menjadi cermin bahwa umat Islam sudah khatam pasal keberagaman. Sebagai penguat hal itu, Ulama dan Umara yang santun tersebut mengutip ayat,

ولا تسبوا الذين يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم … الآية .
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, maka (akibatnya) mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. …” (QS. al-An’am: 108).

Setelah saya melacak dalam tafsir Al-Mishbah, Prof Dr. Quraish Shihab mengatakan, bahwa ayat ini ditujukan kepada kita kaum muslimin, bukan kepada Nabi saw. Hal itu dikarenakan, tidak mungkin Nabi Muhammad saw. yang sangat luhur budi pekertinya akan sampai menghina atau mencerca sesembahan agama lain, sesembahan berupa berhala-berhala atau lainnya.

Karena itu, penting menjadi perhatian kita bersama selaku umat Nabi Muhammad saw.

Kata Tuan Guru Bajang, ayat tersebut, senada dengan hadis yang membahas larangan Rasulullah saw. dari mencerca orang tua sendiri. Di mana seketika para sahabat heran dan bertanya, “bagaimana mungkin kami mencela ibu-bapak sendiri ya Rasulullah?”

Nabi saw. menjawab, “Dengan kalian mencela ibu-bapak orang lain, lalu orang itu mencela balik ibu-bapakmu, maka hal itu sama juga kalian telah mencela ibu-bapakmu sendiri.”

Dialog dalam hadis ini pun relevan bila diletakkan dalam persandingan keagamaan kita dengan lima agama resmi lainnya di Indonesia. “Demikian pun hubungan kita beragama. Jangan sampai agama kita terumpat, gara-gara kita mengumpat agama orang.” Tegas Tuan Guru Bajang.

Diujung bahasan ceramahnya, Ketua Umum PBNW ini, mengingatkan semua elemen masyarakat untuk tidak lagi coba-coba mengusik kitab suci orang. Apalagi bagi umat Islam, تعظيم النصوص al-Qur’an dan sunnah itu di atas kepalanya. Bahkan dua pusaka itu yang akan dibawanya hingga ke liang lahat nanti.

Sembari terus berusaha dan berikhtiar merawat kebinekaan kita, sebagai sebuah takdir (sunnatullah) yang tak terelakkan, maka berdoa juga bagian yang penting sebagai lem perekatnya. Karena itu TGB mengajak kita berdoa agar Indonesia yang kita cintai ini, semakin dikokohkan oleh Allah swt.

Semoga NKRI ini dipelihara dan dijaga oleh Allah swt. Semangat kemerdekaan yang dibawa oleh Rasul saw., baik itu dalam konsep tentang kehidupan, konsep hubungan sosial, dan konsep dalam membangun ekonomi yang berkeadilan. Mudah-mudahan di Indonesia semakin tersebar konsep-konsep yang baik itu, dengan ikhtiar kita semua. Amiin!.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 28 Agustus 2020 M.

*#Sekretaris_PCNW_Kediri
#Dakwah_Nusantara_TGB

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA