Alasan bersilaturrahim dan ajakan bersyukur adalah dua hal yang selalu menjadi pokok bahasan TGB dalam memulai setiap pengajian, lawatan dakwah Nusantaranya, atau terlebih dalam momen seperti pertemuan para kader NW di mana saja.
Termasuk salah satunya pada saat Tuan Guru Bajang berkunjung ke Komunitas Mahasiswa (KM) NTB di Al-Azhar Cairo Mesir, 19 Januari 2018 silam.
Di halaqah mahasiswa asal Indonesia itu, Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia ini mengajak para pelajar di sana untuk senantiasa bersyukur.
TGB selalu mengutip kata ulama, مناط البركة ألشكر على النعمة (Poros keberkahan itu adalah bersyukur terhadap nikmat Allah swt.).
Sejatinya memang, bersyukur adalah bagian dari perintah Allah. Tertera dalam kitab suci pernyataan Tuhan, bahwa potensi bertambahnya karunia-Nya, disebabkan oleh jiwa bersyukur. Dan telah ada azab pedih menanti, bagi siapa saja yang kufur.
Karenanya, –lanjut TGB–, وسع دوائر الشكر (Perluas spektrum kesyukuran kalian). Sebab, banyak hal yang harus disyukuri. Ada banyak nikmat dan karunia Allah yang berlimpah kepada kalian sebagai mahasiswa, yang tidak banyak orang-orang sebaya kalian dapat memperolehnya.
Ulama Hafidz al-Qur’an itu pun menyebut, di antara hal-hal yang wajib disyukuri bagi para mahasiswa asal NTB yang sedang menempuh study di Al-Azhar, adalah bersyukur sebagai bagian dari bangsa yang besar bernama Indonesia.
Kata TGB, الدائرة الوطنية (Spektrum kebangsaan) adalah spektrum kesyukuran yang harus dengan sadar kita syukuri. Mengapa demikian? Sebab, tidak semua orang di dunia ini yang menjadi bagian dari bangsa yang besar.
“Kita patut bersyukur, bangsa Indonesia yang sampai sekarang متوحد (bersatu). Dan tugas kita untuk memastikannya tetap satu.” Kata TGB menyuntikkan jiwa nasionalisme.
Kenyataan dunia Islam saat ini bisa disaksikan dengan seksama. Kata TGB, banyak umat Islam yang semula bagian dari bangsa yang besar, tapi mungkin karena ينسى أو يتناس هذه الدائرة (mungkin mereka lupa atau sengaja lupa akan pentingnya spektrum kebangsaan), akhirnya berkeping-keping.
Semua itu terwujud, boleh jadi, karena mereka menganggap bahwa berbangsa ini adalah أفوية . Bisa jadi mereka menyangka berbangsa adalah sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Terjadi otomatis tanpa ada ikhtiar perekatan. Padahal, berbangsa ini tidak terjadi dengan begitu saja.
“Berbangsa itu adalah hasil dari perjuangan sengaja yang dilakukan oleh banyak sekali kumpulan manusia, dari generasi ke generasi yang disebut dengan pejuang-pejuang (Pahlawan Bangsa).” Jelas TGB mengingatkan.
Haqiqah memang, bahwa dari تركب الجحود rentetan perjuangan sepanjang generasi ratusan tahun itu, maka barulah lahir satu bangsa, yang kemudian disebut sebagai bangsa Indonesia.
Jadi -TGB menyimpulkan-, دائرة الشكر كأبناء الوطن الواحد harus kita tanamkan betul-betul dalam jiwa kita.
Kita pun sebenarnya mengamini apa yang dikatakan TGB tersebut. Sebab, dengan stabilitas kebangsaan yang aman, situasi politik bangsa yang stabil, maka pendidikan bisa dinikmati oleh anak-anak bangsa, baik di dalam negeri maupun di luar.
Yang menarik menurut hemat penulis yang dhaif adalah pandangan TGB yang jauh ke depan. Apa yang diuraikannya hari ini di depan mahasiswa (di Al-Azhar ini maupun di semua kampus di Nusantara), adalah menjadi modal mereka pasca sebagai mahasiswa.
Dengan kata lain, uraian kebangsaan yang disuntikkan Alumnus Al-Azhar itu kepada mahasiswa (kalangan muda) adalah langkah yang sangat baik dan jalan paling efektif untuk meluruskan pemahaman kebangsaan kepada generasi di setelahnya.
Bukankah sopir-sopir politik bangsa, atau juru-juru dakwah di masa depan, adalah mereka-mereka yang sedang duduk dibangku kuliah?
Simpulan saya, bahwa langkah mencerdaskan pemahaman kebangsaan kepada kaum milenial hari ini, adalah investasi kader perekat bangsa di masa depan menuju Indonesia Emas 2045 atau satu abad Indonesia merdeka.
Wa Allah A’lam!
Bilekere, 12 September 2020 M.
*#Sekretaris_PCNW_Kediri
#Dakwah_Nusantara_TGB


