Dakwah TGB (41) MAULIDAN, EKSPRESI KESYUKURAN

Dakwah TGB (41) MAULIDAN, EKSPRESI KESYUKURAN

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

“Maulid itu adalah bagian dari kesyukuran dan kebahagiaan.” Kata TGB di Islamic Center Mataram (30 Oktober 2020 M.).

Pada kesempatan yang sama, Tuan Guru juga memberikan jawaban andai ada yang bertanya, siapakah yang maulid pertama kali? TGB menjawab, ya Nabi Muhammad saw sendiri.

Mana buktinya? Argumen beliau ialah jawaban Nabi saw. sendiri. Setiap kali insan mulia itu ditanya apa alasannya rutin puasa pada hari Senin, beliau menjawab: ذاك يوم ولدت فيه (Itu adalah hari saya dilahirkan).

Dari jawaban Nabi terakhir ini kita mengetahui, bahwa orang yang paling berekspresi dengan Maulid ialah beliau sendiri. Hebatnya pula, tak tanggung-tanggung Nabi maulidnya setiap sepekan. Setiap hari Senin ia berpuasa.

Sampai di sini, boleh jadi, masih ada orang yang melempar alasan menolak dengan mengatakan; kalau Nabi maulid dengan puasa, kenapa kita sebagai umatnya maulid dengan mengadakan acara pengajian, serakalan, barzanjian lalu ada acara makan-makan?

Mengapa tidak bermaulid dengan berpuasa seperti yang dilakukan Nabi saw.?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut atau –mungkin– ada yang semisalnya, TGB mentahkan dengan mengutip kata ulama, bahwa “Kalau pokok dari sesuatu itu sudah ada, maka cara melaksanakannya, selama tidak ada pembatasan, hal itu dimungkinkan.” Kutipnya.

“Jadi, cara kita bersyukur bisa 1001 cara.” Tegas TGB.

Ekspresi kesyukuran itu –lanjut TGB– ialah bisa dengan merangkai acara maulidan itu dengan acara makan-makan (bukankankah anjuran agama yang utama ialah memberi makan?), atau bisa juga dengan zikir, serakalan, membaca barzanji, pengajian dan acara-acara lainnya.

“Semua ini adalah bagian dari adab kita kepada Rasulullah saw.” Jelas ulama moderat tersebut.

Ulama yang juga Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar pengganti Prof. Dr. Quraish Shihab tersebut memberikan kita pembanding, betapa kita selama ini begitu bersyukur dengan karunia Allah bernama anak. Kalau anak –siapa pun kita– berulang tahun, malah kita buat acara dan ada (sedekah) makan.

“Sama anak saja begitu, masak sama Nabi Muhammad saw. kok bakhil?.” Celetuk Tuan Guru Bajang penuh mengena.

Padahal, –lanjut TGB– nanti di akhirat itu yang memberi kita syafaat bukan anak, tapi Nabi saw. sendiri. Berpikirkah kita betapa besarnya jasa insan mulia itu di الموقف atau المحشر yang demikian ngeri. Padangnya luas, tapi yang ada hanya panas dan tidak ada cahaya sama sekali. Panasnya luar biasa, dan gelapnya juga demikian dahsyat.

“Orang seperti itu, yang hidupnya itu memberikan kita kebaikan, darinyalah kita tahu bagaimana menjadi seorang hamba Allah, bagaimana bisa beribadah, menyembah Allah, mencari rizki yang halal, dan bagaimana membangun hubungan dengan wanita melalui pernikahan, semuanya kan dari Rasul saw.” Demikian terang TGB mengajak kita merenung sejenak.

Bahkan, tidak cukup sampai di situ, Nabi saw. sampai pernah mengatakan –terang TGB–: Bahwa di akhirat semua Nabi memiliki satu doa yang sangat makbul, tapi semua Nabi telah memakai doanya, hanya saya yang sengaja menyimpan satu doa itu, sebagai persiapanku memintakan umatku syafaat.

Ma syaa Allah demikian perhatian Nabi kita. Pantas TGB mengatakan, “Sama orang seperti itu, masak kita bakhil untuk memuliakannya, masak kita berat hati untuk mentakziminya.”

Hanya saja –memang– TGB tak menyangkal bahwa ada sebagian teman kita yang tidak senang dengan maulid, karena ulah atau cara-cara yang dilakukan sebagian orang di luar sana yang tidak mencerminkan Islam dan sunnah Rasul saw. seperti ada acara joget, bahkan ada pesta minum khamar dan lainnya.

“Benar-benar tidak pantas kalau kita memuliakan Nabi Besar kita Muhammad saw., tapi kita isi dengan hal-hal yang sama sekali tidak mencerminkan akhlak dan ajaran yang dibawa oleh Nabi besar Muahmmad saw.” Kata TGB menohok sebagian orang yang berperilaku demikian.

“Jadi, kalau bermaulid, isilah ia dengan hal-hal yang baik. Jangan namanya maulid tapi isinya jauh dari nilai-nilai Islam.” Pesan terakhir ulama kharismatik dari Nusa Tenggara Barat tersebut.

Wa Allah A’lam!

IC Mataram, 6 Nopember 2020 M.

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA