Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Di penghujung kajian tafsir kemarin di Islamic Center Mataram (6-11-2020), al-Mukarram Tuan Guru Bajang masih menyinggung bahasan terkait pembuatan karikatur Nabi Muhammad saw. di Perancis.
TGB –memang– menyambung apa yang disampaikan oleh Sang Khatib sebelumnya pada saat pelaksanaan ibadah jumat.
Pada kesempatan itu, Bapak TGB pun mematahkan argumen seseorang yang mengatakan, “Kita nggak usah marah dengan karikatur itu. Karena kita tidak tau wajah sebenarnya dari Rasulullah saw. Kita akan –logis– marah kalau karikatur itu terkait dengan sesuatu yang kita ketahui.”
Atau ada juga seseorang yang beralasan dengan akan semakin logisnya kemarahan kita, manakala karikatur itu mengkarikaturi orang yang sudah jelas rupa wajahnya, seperti rupa wajah ayah sendiri.
“Wajah yang kita tau rupanya, lalu dikarikaturi dengan bentuk yang tidak karuan, barulah di situ kita boleh marah, sebab ada acuan kita harus berikap demikian. Sebab karikaturnya tidak sesuai kenyataan dengan rupa ayah.” Kata TGB meniru argumen seorang.
Sementara “Kalau karikatur Nabi Muhammad saw, kenapa kita mesti marah?.” Tambahnya.
Begitulah sederet argumen yang memang –sepintas– terdengar masuk akal. Boleh jadi bagi sebagian orang awam, kalimat-kalimat tersebut akan diterima seketika, lalu dikonsumsi mentah-mentah. Padahal, itu kalimat yang menipu.
Kalimat semacam di atas –bagi saya– makna dan pengaruh serta tujuannya persis sama dengan ungkapan orang-orang Khawarij yang menolak Khalifah Ali bin Abi Thalib krw. yang mengatakan: لا حكم إلا الله (tidak ada hukum, kecuali milik Allah). Sepintas terdengar masuk akal dan sangat amat logis.
Namun, kalimat mereka dikomentari oleh Sahabat dan menantu Rasulullah saw. itu dengan mengatakan: كلمة حق أريد بها الباطل (Perkataan benar tapi dimaksudkan untuk keburukan). Dan nyatanya, orang-orang Khawarij pun mengkafirkan Imam Ali di kemudian hari.
Apa yang saya sampaikan ini pun sejalan dengan jawaban TGB terkait dengan sekian argumen yang berupaya mementalkan semangat pembelaan kepada Nabi Muhammad saw.
“Bagi saya (TGB) kita marah bukan semata karena ukuran sesuai atau tidak sesuai. Tetapi, melukis atau menggambar sesuatu, lalu menisbahkan kata Nabi di situ, bahkan gambar itu ditujukan kepada Rasululllah saw.” Demikian jawaban ulama jebolan Cairo Mesir tersebut.
Dan bagi TGB ternyata –lanjutnya–, kalau ukurannya seperti yang disampaikan oleh seseorang, hanya dengan alasan kita tidak mengetahui wajah sebenarnya dari Nabi kita yang mulia, maka itu adalah argumen yang sangat lemah.
“Lah, yang kita tidak tau bentuk (rupa)nya bukan hanya Nabi saw. sendiri. Sahabat-sahabatnya juga tidak kita tau bentuk wajahnya. Sayyidah Aisyah rha. dan semua istri Nabi yang lain juga sama. Tidak ada yang mereka kita ketahui.” Jelas TGB dengan tegas kepada kita.
Bahkan Ketua Umum PBNW tersebut menambahkan dengan beberapa pertanyaan yang –amat– monohok bagi mereka yang menolak pembelaan kepada Rasulullah.
Apakah dengan kita tidak tahu wajah sebenarnya dari Nabi Muhammad saw, lalu boleh dihina dan dilecehkan sekehendak hati?
Apakah boleh kita menggambar –mohon maaf– perempuan dengan raga yang seksi dalam bentuk dilecehkan, lalu gambar itu dinisbahkan ke Sayyidah Aisyah rha.?
Atau bolehkah menggambar lelaki dengan membawa pedang, dengan raut wajah bengis, kemudian menulis di bawah gambar itu dengan mengatakan “inilah gambar sosok Umar bin Khattab ra.?”
Bagi saya (TGB), menyebutkan atau menisbahkan kepada Rasulullah saw. itu sangat dilarang dalam Islam. Apalagi, “Ada niat meremehkan dan melecehkan, karena itu berhak kita protes, tapi tetap tidak boleh dalam bentuk kemungkaran.” Kata TGB.
Lagi-lagi Tuan Guru Bajang memperlihatkan sikap moderasinya, dengan mengatakan bahwa kita boleh marah, tapi dengan sikap terukur dan dengan sasaran yang tepat. Kata beliau, kita hanya marah kepada orang yang membuat karikatur dan Presiden Perancis yang menyetujuinya. Bukan kita marah kepada seluruh rakyat Perancis.
Mengapa harus terukur demikian? Sebab –lanjut TGB– pada kata “rakyat” itu ada sekitar 8 atau 9 juta umat Islam di Perancis, yang mereka juga tidak menerima dan ikut memprotes juga seperti kita. Dan banyak juga pemain bola dari negara tersebut yang Muslim. Dan tentu mereka juga tidak menerima pelecehan itu.
Semangat berIslam di Perancis juga cukup maju dan pesat. Banyak masjid-masjid besar dan bagus bisa kita dapati di sana. Termasuk Islamic Centernya yang di Paris itu juga sangat besar dan melambangkan bahwa Islam di sana mendapat tempat yang istimewa.
Selain itu, negara Perancis juga banyak menampung para imigran yang mengungsi dari Syiria akibat perang. Lalu, di Perancis mereka mendapat tempat tinggal yang aman.
“Jadi, yang kita protes dan ingatkan itu adalah si pembuat karikatur dan Presiden Perancis, bukan keseluruhan rakyatnya.” Kata TGB dengan demikian bijak dan terukur.
Demikianlah bijaknya bila yang bicara adalah sosok mufassir yang benar-benar mengerti isi dan kandungan kita suci. Ternyata, sikap dan pemikiran bijak ala TGB tersebut merupakan buah dan implementasi ayat:
لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين .
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.” (QS. al-Mumtahanah: 8).
Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
Wa Allah A’lam!
PP. Selaparang, 7 Nopember 2020 M.


