Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Boleh jadi konsumsi publik yang paling lezat di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah hidangan seputar agama dan negara. Mempertentangkan keduanya adalah isu paling hot dilempar ke permukaan.
Bagaimana sih sebenarnya pandangan agama terhadap negara, maupun sebaliknya; seperti apa negara memberikan porsi dan ruang bagi agama itu sendiri?
Temukan ulasannya pada sekmen kedua acara “Satukan Shaf Indonesia” disampaikan Syaikhuna Dr. TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA. yang dipandu moderator Muhammad Hizbullah yang disiarkan TVRI Nasional.
Saat sang pemandu acara menanyakan relasi agama dan negara kepada alumnus Al-Azhar Cairo Mesir tersebut? Sang Bintang Al-Azhar itu memulai jawabannya dengan menegaskan bahwa, “Islam itu agama yang mengajak kepada kebaikan”.
Bahkan –kata TGB– yang utama dari karakter umat Islam ialah mengajak kepada kebaikan. Menebar, merawat dan menyuburkan kebaikan bagi semua manusia, bahkan untuk lingkungan alam sekitar adalah identitas seorang muslim sejati.
Adapun kebaikan dalam lirikan bahasa al-Qur’an –sebut TGB– kadang-kadang menggunakan kata الخير atau المعروف . Karenanya, Islam adalah agama yang ikut menyambut, bahkan menanamkan serta menyuburkan nilai-nilai kebaikan dari manapun. Mengeksplorasi kebaikan dari manapun untuk semua.
Oleh sebabnya, kata Ketua OIAA itu– perlu kita ketahui dan camkan bahwa, “Islam itu tidak pernah hadir pada ruang hampa”. Maksudnya, Islam selalu hadir pada masyarakat yang sudah ada tatanan nilai-nilainya. Islam hadir melegitimasi semua nilai baik yang sudah ada tersebut.
Sehingga dalam pandangan Islam, selama tatanan nilai-nilai itu adalah nilai baik yang mengajak kepada kebaikan, menghadirkan kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama Islam, maka Islam menerimanya sebagai bagian dari tuntunan agama. Demikian ulas Gubernur NTB dua priode ini (2008-2018) tersebut.
Termasuk –lanjut Ketua Umum PBNW tersebut– di antara hal-hal baik itu ialah mencintai tanah air. Karena itulah, antara agama dan negara, kalau dalam Islam bisa diumpamakan seperti wadah dan isi.
Apa wadah dan isi itu? Tanah air seumpama wadah, sedang tuntunan-tuntunan dan ajaran-ajaran Islam yang dibawa Rasulullah saw. dari Allah swt. menjadi isinya.
Karenanya TGB mengajak kita merenung.
Bagaimana jadinya kalau isi tanpa wadah? Seperti apa jadinya, kalau ada air jernih nan bening yang mengandung vitamin dan mineral yang sangat baik sebagai suplemen buat manusia, tapi tidak ada wadahnya? Tentu –pasti– semua akan tercecer dan tumpah ke mana-mana tanpa ada yang bisa dinikmati.
Ilustrasi ini menggambarkan bahwa agama Islam yang sangat mulia dengan kemuliaan nilai-nilai yang dimilikinya harus memiliki wadah yang menampung semuanya atau mempasilitasi keseluruhannya. Dan –tegas TGB– wadah itulah yang disebut negara-bangsa dan tanah air.
Selain itu, penting bagi kita para generasi milenial, mengambil pelajaran berharga dari para pendahulu (pendiri bangsa), bagaimana mereka berjuang sejak Indonesia baru lahir, bahkan jauh sebelumnya pada abad-abad sekitar 19, 18 atau lebih awal lagi abad 17. Para pejuang bangsa terutama umat Islam (ulama dan santrinya) selalu berikhtiar memerdekakan tanah Nusantara yang subur ini.
Ketahuilah –tekan TGB–, bahwa mereka selalu di barisan terdepan.
Mengapa para pendiri bangsa (umat Islam) demikian gigih? Karena nurani dan hati mereka terpompa oleh kesadaran tadi, yakni Islam dan negara mesti sejalan beriringan. Negara menjadi wadah dan agama yang membawa kebaikan dan menyuburkannya.
Hebatnya, pada saat yang sama Islam juga sangat menentang segala kezaliman dan kejahatan dalam bentuk apapun. Salah satu bentuk kezaliman itu ialah الإسعمار (peenjajahan).
Oleh sebab itu –masih kata TGB, ketika kita sudah menyadari bahwa antara Islam dan nilai-nilai kebangsaan itu sudah bisa beriringan, maka tugas selanjutnya ialah memupuk dan memperkokoh bangsa ini dengan semangat keislaman.
Ulama tafsir tersebut membaca firman Allah swt. QS. al-Maidah ayat 2 berikut ini:
وتعاونوا على البر والتقوى .
“Semua kita anak bangsa (terutama) umat Islam harus siap berkolaborasi kebaikan dengan sesama”. Demikian jelasnya.
Bahkan TGB menegaskan betapa pentingnya berkolaborasi, “Tidak ada individu yang sempurna. Tidak ada kelompok yang sempurna. Dalam arti, dia sendiri yang bisa memajukan Inonesia”. Mengapa seperti itu? Karena kita ini masing-masing ada kelebihan dan kekurangan.
Saya –TGB menctohkan– sebagai ustaz di sini, saya ada memiliki sedikit kelebihan. Tapi, adik-adik juga memiliki potensi yang saya tidak miliki. Itulah keadilan Allah swt. Dengannya kita bisa saling berkolaborasi dalam kebaikan. Saling mengisi dan melengkapi.
Dengan ikhtiar itulah –TGB mengajak–, kita pupuk Indonesia dengan kebaikan nilai-nilai Islam, sehingga terwujud suatu negeri yang terpotret pada surah Saba: بلدة طيبة ورب غفور yaitu suatu negeri yang subur lahir-batin, dan nilai-nilai baik terdapat di dalam negeri itu, yang Allah swt. terus-menerus mengampuni penduduknya.
“Inilah harapan kita semua. Teladan yang terus-menerus diajarkan oleh para ulama kita. Nilai baik (merelasikan nilai baik Islam dan negara) yang senantiasa diajarkan di Pondok-pondok Pesantren, tak terkecuali di Nahdlatul Wathan.” Kata TGB mengingatkan kita semua.
Wa Allah A’lam!
Bilekere, 23 Desember 2020 M.



