Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa*
Pelajaran penting yang bisa diperoleh dari lahirnya buku “Dakwah Nusantara (DN) TGB Islam Wasathiyah” volume 1 yang ditulis oleh saudara Febrian Putra, bagi Tuan Guru Bajang minimal ada tiga, yakni:
Pertama, jangan pernah menunda kebaikan. Apabila pintu mengerjakan kebaikan telah terbuka lebar, maka masuki. Jangan beralasan belum waktunya atau momennya belum pas.
Kata Ketua PBNW tersebut, beliau sendiri sangat merasakan betul hikmah tidak menunda diri untuk mengerjakan kebaikan, seperti halnya Dakwa Nusantara ini.
Andai saja undangan safari dakwah yang demikian padat sejak awal 2017 itu dibengkailaikan oleh Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar tersebut, maka tidak akan ada buku yang dilaunching hari ini. Demikian ceritanya.
Apa pasal? Sebab, setelah paripurna atau diujung jabatan TGB sebagai Gubernur NTB dua priode 2008-2018 langsung NTB ditimpa musibah dahsyat. Bekas gempa masih berpengaruh, sekarang datang lagi pandemi global covid-19.
Dua peristiwa ini, sudah cukup kuat untuk membuat kita terasa berat untuk (andai) memulai Dakwah Nusantara sekarang.
“Kesyukuran bagi saya bisa menebar Islam Wasathiyah lebih awal, setelah mendapat restu dari Ummuna Hj. Siti Rauhun Zainuddin Abdul Majid dan dukungan istri Umum Azza.” Demikian pengakuan Doktor tafsir dari Al‐Azhar Kairo tersebut.
Dengan dua modal kuat dari internal keluarga itulah Ulama Nasional asal NTB itu memulai dakwah nasionalnya, dengan menyusuri sudut-sudut negeri dari ujung timur hingga barat Republik Indonesia ini.
Padahal, sejak pertama kali cucu Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid ini memulai dakwahnya, tantangan, rintangan dan bahkan ditentang oleh banyak pihak. Opini-opini liar pun bermunculan memojokkan beliau selaku Gubernur NTB. Dikatakan, menyia-nyiakan waktu tugas sebagai pemerintah daerah.
Kedua, hargai kontribusi orang lain. Bagi TGB dibalik lahirnya buku yang bercerita tentang perjalanan Daķwah Nusantara ini ada sekian banyak sosok yang amat berjasa. Ada Tim atau kelompok yang setia mengiringi.
“Buku ini bukan tulisan saya, tapi kumpulan coretan saudara Febrian.” Kata TGB.
Pada acara tersebut semua anggota tim safari dakwah tersebut mendapat kehormatan naik panggung mendampingi TGB memberi sambutan dan mereka diperkenalkan satu persatu. Ini bagian dari cara beliau menghargai timnya.
“Tak ada di antara kita yang bisa berbuat sendiri, tanpa melibatkan peran orang lain, maka di situlah kita harus bersyukur.” Katanya.
Terakhir, pelajaran ketiga, Islam itu tidak hadir di tempat yang hampa. Apa artinya? Menurut ulama yang terkenal moderat dan santun ini, bahwa Islam hadir di tengah manusia yang berakal dan telah memiliki sekian banyak budaya dan peradaban yang mereka sepakati baik.
Maka –Kata TGB–, ketika terjadi gesekan-gesekan antara sesama anak bangsa, kewajiban kita mengingatkan dan menyatukannya. Manusia Indonesia adalah manusia berakal dan beradab, maka mereka sangat mudah untuk disatukan.
Ruang penyatuan itu hanya bisa dilakukan oleh wadah Islam Wasathiyah. Moderasi beragama.
Wa Allah A’lam!
Bilekere, 24 Januari 2021 M.


