Diskusi Umum Konferensi Internasional Studi Islam, H. Muslihan Habib : Hakikat Manusia

Diskusi Umum Konferensi Internasional Studi Islam, H. Muslihan Habib : Hakikat Manusia

Sementara, kata al-insan dituturkan sampai 65 kali dalamAl-Qur’an yang dapat dikelompokkan dalam tiga kategori. Pertama al-insan dihubungkan dengan khalifah sebagai penanggung amanah (QS Al-Ahzab [3]:72), kedua al-insan dihubungankan dengan predisposisi negatif dalam diri manusia misalnya sifat keluh kesah, kikir (QS Al-Ma’arij [70]:19-21) dan ketiga al-insan dihubungkan dengan proses penciptaannya yang terdiri dari unsur materi dan nonmateri (QS Al-Hijr [15]:28-29).

Semua konteks al-insan ini menunjuk pada sifat-sifat manusia psikologis dan spiritual. Kemudian, untuk kata an-nas yang disebut sebanyak 240 dalam Al-Qur’an mengacu kepada manusia sebagai makhluk sosial dengan karateristik tertentu misalnya mereka mengaku beriman padahal sebenarnya tidak (QS Al-Baqarah [2]:8).

Dari uraian ketiga makna untuk manusia tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia adalah mahkluk biologis, psikologis dan sosial. Ketiganya harus dikembangkan dan diperhatikan hak maupun kewajibannya secara seimbang dan selalu berada dalam hukum-hukum yang berlaku (sunnatullah).

Tidak bisa dipungkiri, nilai-nilai humanisme universal memang menjadi pesan umum dari seluruh agama di dunia. Hanya saja dalam Islam, kita dapat menemukan contoh praksisnya dalam kehidupan Rasulullah di seluruh dimensi kehidupan, dari tingkat individu hingga level negara. Humanisme dalam bingkai tauhid itulah yang menjadikan daulah Islamiyah pada zaman Nabi hingga Khulafaurrasyidin menjadi negara egaliter meskipun kekuasaan sangat terpusat pada sosok khalifah dan lembaga penyeimbang eksekutif belum kuat, jika tidak dibilang belum ada.

Akan tetapi, sangat disayangkan, saat ini ketika berjuta manusia membutuhkan panduan yang rigid untuk kembali pada fitrah kemanusiaannya, Islam hanya ditonjolkan wajah ritual simboliknya. Bahkan tidak jarang justru ditafsirkan secara literal sebagai justifikasi berlangsungya suatu rezim feodal, kekerasan, dan teror.

Tauhid pun seakan dibatasi penerapannya hanya menjadi bidang kajian keilmuan, namun tanpa praktek nyata di lapangan. Sehingga pada akhirnya Islam tenggelam dalam kejumudan umatnya, dan kehilangan aura humanisme universalnya. Nah, jika dalam pandangan sains saat ini sedang ngetrend mengenai istilah integralisme agar sains lebih memberi sumbangan positif pada kehidupan manusia secara keseluruhan. Maka, tidak ada salahnya jika cara pandang integral tadi juga diterapkan pada pemahaman keislaman.

Mungkin ini saatnya pandangan fiqh-sentris, khilafah-sentris, tekstual-sentris, dan juga kontekstual-sentris mulai diintegrasikan agar aura keislaman yang manusiawi muncul kembali dan pada akhirnya akan memberikan kontribusi pada kehidupan manusia secara keseluruhan.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA