Dr. Hj. Rohmi Jalilah: Berfikir Positif Akan Melahirkan Perilaku yang Produktif

Dr. Hj. Rohmi Jalilah: Berfikir Positif Akan Melahirkan Perilaku yang Produktif

Oleh: Abdurrahman
> Wakil Ketua V PW Pemuda NW NTB

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّا بٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

Ayat tersebut memberikan kita petunjuk bahwa prasangka itu merupakan perkara yang tidak baik bagi seorang muslim karena sering kali menghadirkan keburukan bagi pelakunya. Sebaliknya islam mengajarkan kepada kita agar senantiasa berfikir positif dalam setiap tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam islam ia di sebut dengan istilah Husnuzan yang bermakna berbaik sangka. Berifikir positif atau prasangka yang baik sangat penting untuk manusia karena ia mampu menghadirkan energi-energi positif yang bermanfaat bagi pelakunya.

Bahkan Allah SWT dalam sebuah Hadis menjelaskan bahwa “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya apabila ia memohon kepada- Ku”. (HR Muslim). Hadis tersebut memberi penegasan bahwa setiap prasangka baik akan menghadirkan kebaikan pula, begitupun sebaliknya. Ibarat kita melempar bola di depan tembok maka pantulannya akan kembali kepada kita sendiri. Baik itu dalam perkara yang positif maupun dalam perkara yang negatif. Semuanya akan kembali kepada pelakunya.

Berangkat dari hal tersebut Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Siti Rohmi Jalilah dalam sebuah kesempatan di acara Talk Show bersama Ikatan Pelajar Nahdlatul Wathan (IPNW) NTB menjelaskan bahwa modal utama seorang santri adalah Ahlak dan salah satu bentuk dari Ahlak adalah berfikir positif. Beliau juga menegaskan bahwa sumber pola pikir yang positif adalah pondok pesantren karena di lingkungan pondok pesantren lah yang mampu menghadirkan ahlak dan tradisi-tradisi yang positif.

“Dengan ahlak yang mulia maka pikiran kita senantiasa tertuju kepada hal-hal yang positif. Jika pikiran kita positif, maka kita akan menjadi orang yang produktif”, ungkap Dr. Hj. Rohmi.

Perempuan yang akrab di sapa Ummi Rohmi ini mengingatkan kepada para santri agar mengupayakan pada setiap pandangan dalam persoalan apapun agar berangkat dari sudut pandang yang positif. Sebab segala persoalan apapun yang di hadapi, selama kita berfikir positif maka akan menghadirkan solusi dan kebaikan. Sebaliknya ketika kita menghadirkan pikiran negatif dalam persoalan apapun maka hanya akan menghadirkan keburukan dan tidak memberi solusi apapun pada persoalan yang ada.

Persoalan pandemi covid 19 misalnya, jika kita berangkat dari sudut pandang yang negatif maka akan muncul anggapan bahwa pandemi adalah hanya di buat-buat dan bukanlah sebuah ancaman dan sebagainya. Sehingga timbul kelalain dan tidak disiplin dalam menerapkan protokoler kesehatan sehingga pada akhirnya menimbulkan persoalan baru. Berbeda jika kita berangkat dari sudut pandang yang positif maka kita akan lebih terbuka dan mencoba mengkaji dan membaca jurnal-jurnal ilmiah tentang pandemi covid 19 sehingga sikap kita menjadi produktif. Berupaya mencegah dengan menjaga kesehatan dan menerapkan protokoler kesehatan dalam setiap aktifitas kehidupan sehari-hari.

Satu hal yang perlu di ingat bahwa orang berfikir positif akan selalu menemukan jalan keluar dalam menghadapi segala persoalan yang ada, termasuk musibah dan krisis yang sedang kita hadapi saat ini.
“Kalau kita mau selalu ada jalan. Hadirkan hal-hal yang positif dan persembahkan hal yang terbaik untuk orang tua melalui prestasi-prestasi yang baik”, beber Ummi Rohmi.

Beliau juga menyayangkan melihat para remaja masa kini yang lebih banyak santai-santainya dari pada keseriusannya terutama dalam hal menuntut ilmu dan kebaikan. Padahal seorang remaja santri hidup harus punya target dan tujuan sehingga ia punya langkah untuk menggapainya.

Sebagai penutup tulisan ini, penulis ingin menyampaikan bahwa:
“Berkatalah hal yang positif tentang orang lain, karena kata-kata positif selalu kembali pada sumbernya.” (Bong Chandra).

Wallahua’lam Bissawab
Mataram, 21 Desember 2020

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA