Pendiri Nahdlatul Wathan (NW) adalah TGKH Muh Zainuddin Abdul Madjid memprakarsai berdirinya Mahad Darul Qur’an Wal Hadits (MDQH) Al-Madjidiah Asy Syafi’iyah Ma’had sebagai lembaga pendidikan di ling kungan Pondok Pesantren Darunnahdlatain yang meng khususkan din di bidang ilmu ilmu agama, terutama telaah terhadap kitab kuning.
Lahirnya lembaga tersebut, tidak terlepas dari ketajaman intuisi Bapak Maulana Syeikh dalam mengantisipasi perkembangan zaman
Kenyataan membuktikan. telaah terhadap kitab kuning menjadi alternatif yang sangat tepat dalam menigkatkan kua litas sumber daya ummat Islam umumnya dan anggota NW khususnya Tidak kurang dari menteri agama pada Kabinet pembangunan IV & V Munawir Sadzali dalam setiap kunjung annya di berbagai pondok pesantren di seluruh Indonesia selalu menyatakan pentingnya mendalami kitab-kitab kuning sebagai sumber ajaran Islam yang autentik Ulama itu. manusia langka” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut pernyataan Munawir, maka pada tahun 1987 dibentuklah madrasah aliyah program khusus. (MAPK), sebagai tempat mempelajari kitab-kitab kuning (saat ini bernama Madrasah Aliyah Keagamaan) dan tersebar di sepuluh propinsi
Sementara pada saat yang sama terjadi integrasi kurikulum pada setiap lembaga pendidikan agama Is lam menuntut dibentuknya lembaga pendidikan alternatif Maka pada tahun 1965-an berdirilah Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits Al-Madjidiyyah Asy-Syafi’iyyah. Pada tahun pertama berdirinya Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits Thullabnya kurang lebih 150 orang Mereka terdiri dari mutakhar- njin tsanawiyah, muallimin dan PGA 6 tahun Khusus laki-laki (lilbanin) dan melihat perkembangan yang semakin tinggi dan perlu mendapat perhatian yang baik, maka sepuluh tahun kemudian tepatnya tahun 1975 berdirilah Ma had Lilbanat Generasi awal sudah mulai mengadakan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler atas inisiatif sendiri seperti diskusi kelompok, mengadakan koresponden dengan para mahasiswa dari perguruan tinggi lain, misalnya dengan ma hasiswa LAIN malang sebagaimana diungkap Bp. Masri Msc, alumnus Mahad angkatan ke II (baca “Kualitas Ma’had Tidak Kalah”).
Perkembangan selanjutnya setelah beberapa tahun didirikan. thullab dan tholibat Ma’had meng alami kemerosotan kuantitas. Ke munduran paling terasa terjadi pada tahun 1982 Melihat kondisi demi kian beberapa masyaikh meng adakan terobosan-terobosan guna mengatasinya, antara lain cara yang ditempuh yaitu dengan mengadakan study tour ke madrasah-madrasah se pulau Lombok.
Dalam acara tersebut dikemukakanlah keunggulan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh Ma’had misalnya. keutamaan orang-orang yang menuntut ilmu agama, tapi usaha itu tidak menam pakkan hasil yang memuaskan Maka dicobalah langkah baru yaitu dengan mengadakan libur umum pada bulan suci Ramadlan dengan kewajiban setiap thullab dan tholibat Ma had untuk melakukan da’wah Ramadlan paling tidak di kampung halaman masing-masing.
Hasilnya ternyata cukup meyakinkan terbukti dengan membludaknya thullab dan tholibat Ma’had, bahkan hampir tidak bisa tertampung Melihat hasil demikian, maka kegiatan dakwah Ramadlan oleh thullab dan tholibat Ma’had ditetapkan menjadi kegiatan rutin setiap bulan Ramadlan Daerah daerah operasinya diperluas hingga ke luar Pulau Lombok seperti Sum bawa, Sumba, Bali, Kalimantaan. Sulawesi dll. Walaupun hanya berbekal surat rekomendasi dari yayasan pendidikan Hamzanwadi.
Para masyaikh yang mengajar di Ma’had mempunyai kualifikasi (persyaratan) yang ketat, bukan saja keilmuan mereka mumpuni, tapi yang lebih penting adalah akhlak yang dimiliki Kebanyakan masyaikh Ma’had terdiri dari alumnus-alumnus universitas terkemuka di Timur Tengah seperti Assh-Shaulatiyah, Darul Ulum Universitas Islam Madinah dan Universitas Al Azhar Cairo Mesir, ditambah pula oleh alumnus Mahad sendiri yang dianggap memenuhi persyaratan.
Hingga saat ini thullab dan tholibat Ma’had sudah mencapai kurang lebih 1500 orang dari berbagai latar belakang pendidikan Madrasah Aliyah, SMA, STM, SMEA Jumlah thullab dan tholibat yang demikian besar jelas tidak tertampung dengan fasilitas yang ada. Oleh karena itu diusahakan sarana dan prasarana baru yang memadai sehingga dimungkin kannya membagi thullab dan tholibat dalam ruangan yang khusus Dengan demikian dapat pula dilakukan penjenjangan sesuai dengan tingkat atau leating masing-masing Ideal Mahad masa depan yang dilontarkan oleh berbagai kalangan baik dari luar maupun dari dalam. adalah bagaimana Mahad tetap dapat eksis di tengah-tengah masyarakat yang selalu dinamis.
Bagaimana Ma had bisa menjawab semua tantangan yang menjadi wilayah tanggung jawabnya. Ma had tetap dengan pijakan salafiyahnya tetapi bisa mengadaptasi perkembangan yang terjadi.
Harapan ini rupanya mendapat perhatian dari civitas akademika Dengan pengiriman para alumnus untuk ikut program da’i transimigrasi ke berbagai tempat di nusantara. Memperbanyak kegiatan ekstra yang mendukung program tersebut harus dilakukan sebagai antisipasi dari berbagai kegiatan di daerah tersebut, disamping kemampuan komunikasi ditingkatkan, agar mampu menter jemahkan berbagai persoalan secara sosiologis maupun politis, peningkatan dan pembinaan secara intens terhadap komunikasi antar civitas akademika sudah saatnya dilakukan terutama oleh senat Ma’had dan murakibul Ma’had.
Langkah-langkah kebijaksanaan terhadap kebijakan-kebijakan ekstra kampus harus mendapat prioritas utama dalam pengembangan dan pembinaan selanjutnya. (Har Hap YJml).
(No 2/Th 1/Sya’ban-Syawal/1415H – No. 2/Th I/Januari – Maret/’95)




