Sinar5news.com – Ketika buku perdana yang berjudul “Teologi Sufistik Shaikh Abdul Qadir Jailani” terbit. Amakku (bapak) melihat dan meneliti halaman demi halaman lalu sampailah pada Cover belakang, secara mengejutkan beliau berkata, “ini salah” dengan nada sedikit meninggi, lalu akupun mencari tahu apa yang salah.
Ternyata terdapat tulisan pada cover bagian belakang yang berisi sejarah singkat sang penulis, begitu sampai pada kalimat “Aku berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan”. Beliau bantah dan mengoreksi dengan kata-kata, mestinya kamu tulis “Dari tidak ada ekonomi “.
Rupanya beliau ingin mengekspresikan kemiskinan dengan kalimat yang jauh lebih dahsyat dan memang itulah yang sebenarnya. Segala usaha yang dijalankan sang ayah mulai dari menjual tikar anyaman hasil ibunda (inak) berkeliling kampoeng dengan berjalan kaki tak jarang sang ayah sampai ke kampoeng yang sangat jauh, bahkan sampai ke lombok tengah (aik bukak) dan juga ujung lombok Timur seperti labuan Lombok.
Ya Rabb, betapa perihnya hidup yang telah dijalankan oleh sang ayah demi menghidupi putra-putri tersayang. Ya Allah, kuatkanlah, sehatkanlah ibu bapak kami, berilah kami peluang agar dapat berbakti dan membahagiakan mereka.
Cinta kasih seorang ayah dan ibu tak akan pernah dapat dibalas dengan pengorbanan apapun, hingga –sekiranya mereka ditawan dan dijadikan hamba sahaya—lalu engkau membeli dan membebaskan mereka, perbuatan tersebut barulah –hampir—belum dapat dikatakan berbakti dan telah membayar kasih sayang mereka.




