Muhammad Fachri Mahardika, Hafal Juz Amma dalam Tiga Bulan: Kisah Haru dari SMP Laboratorium Jakarta

Muhammad Fachri Mahardika, Hafal Juz Amma dalam Tiga Bulan: Kisah Haru dari SMP Laboratorium Jakarta

Fachri Mahardika, Hafal Juz Amma dalam Tiga Bulan: Kisah Haru dari SMP Laboratorium Jakarta

Jakarta – Di tengah hiruk pikuk dunia pendidikan modern, hadir sebuah kisah yang begitu menyentuh hati. Muhammad Fachri Mahardika, siswa kelas 7 SMP Laboratorium Jakarta, berhasil menghafal Juz Amma hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Prestasi ini bukan hanya membanggakan, tetapi juga menjadi bukti ketekunan, kesabaran, dan keajaiban tekad seorang remaja.

Di balik capaian ini, ada sosok yang berperan besar: Ust. Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM, guru tahfizh yang membimbing Fachri dengan penuh kelembutan dan kesabaran.

Fachri, yang lahir pada 17 Agustus 2009, bukanlah anak yang sejak kecil mengikuti pendidikan mengaji formal. Orang tuanya bercerita bahwa ia belum pernah belajar ngaji secara khusus pada masa kecil. Namun, ada satu hal yang menonjol dalam dirinya: kemauan belajar yang kuat. Fachri belajar mengenal huruf-huruf Al-Qur’an secara mandiri lewat video YouTube — langkah awal yang akhirnya membawanya pada perjalanan besar.

Ketika memasuki SMP Laboratorium Jakarta, keinginannya untuk menghafal Al-Qur’an menemukan jalan. Bersama Ust. Marolah Abu Akrom, hafalannya berkembang secara mengejutkan. Dengan pendekatan yang sabar, penuh perhatian, dan memahami karakter Fachri, sang guru terus memotivasinya agar mencapai cita-cita besarnya: hafal 30 juz Al-Qur’an. Cita-cita itu bahkan diucapkan Fachri sendiri, dengan mata berbinar, ketika ditanya secara khusus oleh gurunya.

Ketika kru sinar5news.com menanyakan pendapat orang tua Fachri mengenai perkembangan putra tercintanya, tampak jelas rasa syukur dan bangga yang tak dapat ditutupi. “Alhamdulillah perubahannya jadi selalu semangat ke sekolah. Kemajuannya sudah banyak peningkatan dalam membaca atau menghapal bacaan-bacaan surat Al-Qur’an.” Demikian dengan jujur ibundanya menjawab.

Orang tuanya menyadari bahwa perjalanan Fachri berbeda dari anak lain pada umumnya. Karena itu, setiap perkembangan kecil pun terasa begitu bermakna. Dalam kondisi Fachri yang tidak seperti anak-anak lain, orang tuanya hanya memiliki satu permintaan yang luas dan mendalam: “Kami berharap Fachri dapat mencintai Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, karena dengan menghafal Al-Qur’an dapat memberikan ketenangan dan kedamaian dalam hati.” Bagi mereka, cinta Fachri terhadap Al-Qur’an adalah anugerah yang lebih berharga dari apa pun.

Orang tua Fachri berharap perjalanan ini tidak berhenti di Juz Amma. Mereka ingin putra mereka tetap berpegang teguh pada hafalannya. “Harapan kami agar Fachri tetap konsisten, sering-sering dibaca supaya tidak lupa. Kalau sering dibaca in sya Allah bisa merubah perilaku menjadi lebih baik lagi.”

Kini, Fachri melanjutkan hafalan ke juz sebelumnya yaitu juz 29. Di sampingnya, selalu ada bimbingan setia dari Ust. Marolah Abu Akrom, yang mendampingi langkah demi langkah dengan penuh kesabaran dan kasih seorang pendidik sejati.

Kisah Fachri Mahardika adalah kisah tentang ketekunan, ketulusan guru, dukungan keluarga, dan kekuatan Al-Qur’an yang menyentuh hati. Semoga Fachri menjadi inspirasi bagi banyak anak Indonesia. Semoga Allah menjaga hafalannya, menuntun langkahnya, dan mengangkat derajatnya melalui cahaya Al-Qur’an. Aamiin.

Penulis : Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM/Ust. Amrullah (Guru BK SMP SMP Laboratorium Jakarta, Guru BK SMP Nahdlatul Wathan Jakarta, penulis khutbah Jum’at, Penyair dan jurnalis media Sinar5News.com)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA