Haji Mabrur

Haji Mabrur

Oleh : Aida Maqbulah Hasyim Adnan (AMHA)

Pendahuluan

Hampir setiap muslim mendambakan untuk menjadi haji yang mabrur sepulangnya dari tanah suci. Hanya saja persoalannya, menjadi haji mabrur tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada hal-hal dan syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh seseorang yg ingin mendapatkan predikat mabrur, bukan hanya syarat fiqhiyah tetapi juga syarat batiniyah. Syarat kedua ini yg biasanya lebih berat dibanding syarat fiqhiyah. Batiniyah seseorang yang menginginkan haji mabrur bukan hanya persoalan kejiwaan secara medis, tetapi persoalan non medis seperti kesempurnaan iman dan kebulatan takwa pada Allah SWT merupakan prasyarat yang kelihatannya remeh tetapi sesungguhnya amatlah berat untuk dipenuhi.

Definisi Haji Mabrur

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai rukun dan syarat mencapai haji mabrur, marilah kita menelaah apa yang dimaksud dengan haji mabrur dalam berbagai perspektif tentunya. Haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan, terutama bagi mereka yang sudah mampu secara lahir maupun batin. Kata
haji sendiri berasal dari bahasa Arab الحخ yang dalam bahasa Indonesia berarti mengunjungi atau menuju. Namun banyak juga yang mengartikan kata haji sebagai ziarah tahunan umat Islam. Ziarah tersebut dilakukan di kota Mekah, Arab, kota paling suci bagi umat Islam. ketika seorang muslim sudah mampu secara fisik, ilmu, dan ekonomi untuk melaksanakan ibadah haji, hendaklah baginya untuk menyegerakan.
Sedangkan mabrur berasal dari kata بر يبر برا yang memiliki arti taat dan berbakti. Dalam kamus Al Munawwir Arab-Indonesia, Mabrur berarti ibadah haji yang diterima pahalanya oleh Allah SWT. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata mabrur dimaknai sebagai ibadah haji yang sempurna syarat dan rukunnya atau dalam definisi lain, haji mabrur adalah haji yang haji yang (pelakunya) menjadi baik.

Syarat dan Rukun Haji

Sebagaimana kita ketahui bahwa ibadah haji adalah merupakan Rukun Islam yang kelima yang wajib dijalankan oleh setiap muslim. Perintah untuk melaksanakannya pun jelas dan ini merupakan pijakan/ dalil yang kuat yang tidak dapat dibantah oleh siapapun.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Quran surah Ali ‘Imran Ayat 97

فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَا مُ اِبْرٰهِيْمَ ۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَا نَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّا سِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَا عَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِ نَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ
fiihi aayaatum bayyinaatum maqoomu ibroohiim, wa mang dakholahuu kaana aaminaa, wa lillaahi ‘alan-naasi hijjul-baiti manistathoo’a ilaihi sabiilaa, wa mang kafaro fa innalloha ghoniyyun ‘anil-‘aalamiin

“Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”

Sementara itu syarat sahnya haji adalah:
a. Islam
b.Baligh (dewasa)
c. Berakal sehat
d. Merdeka (bukan budak)
e. Istithaah (mampu)
Maka, setiap muslim yang belum memenuhi syarat tersebut belum wajib berhaji/umrah.
 
Sedangkan Rukun Haji sendiri ada enam. Yaitu:
a. Ihram (niat)
b. Wukuf di Arafah
c.Thawaf ifadah
d. Sa’i
e.Bercukur
f.Tertib, sesuai dengan urutannya.
Apabila tidak melaksanakan salah satu rukun haji tersebut, maka hajinya tidak sah.

Dan yang lebih penting lagi adalah Wajib Haji ada enam. Yaitu:
a. Ihram haji dari mīqāt
b. Mabit di Muzdalifah
c. Mabit di Mina
d. Melontar Jamrah
e. Menghindari perbuatan yang terlarang dalam keadaan berihram.
f.Thawaf  wada’  bagi  yang  akan  meninggalkan Makkah.
Apabila seorang muslim meninggalkan salah satu wajib haji, maka hajinya sah, akan tetapi  wajib  membayar dam (denda). Sedangkan jika meninggalkan thawaf  wada’  bagi jamaah haji yang uzur (sakit atau sedang haid) maka tidak dikenakan dam.

KeungguIan Ibadah Haji

Sebagaimana kita pahami bahwa ibadah haji ini sungguh amat berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Dari segi tempat dan waktunya saja sudah menunjukkan bahwasanya ibadah haji adalah ibadah terberat dari seluruh ibadah. Untuk melaksanakannya diperlukan kesiapan yang matang baik fisik maupun mental, moril maupun materil. Jika didalam ibadah lainnya hanya dibutuhkan kekuatan fisik saja, maka dalam ibadah haji akan sangat membutuhkan kekuatan mental. Jika dalam melaksanakan ibadah lain kita tidak harus keluar dari tempat kita tinggal, maka dalam ibadah haji kita harus keluar dari tempat kita tinggal menuju baitullah di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah serta Wukuf di Arofah. meninggalkan sanak famili yang tentunya akan sangat membebani fikiran dan perasaan kita mengingat sanak famili jauh di negeri kita demi menggapai ridlo Allah SWT. Selain itu bukan hanya kekuatan moril yang dibutuhkan untuk menuju Baitullah tetapi juga dibutuhkan kekuatan materil berupa harta sebagai bekal selama dalam perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji. Apalagi pelaksanaan ibadah haji bukan sejam dua jam tetapi berhari-hari yang tentunya akan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Waktu pelaksanaan ibadah hajipun telah ditentukan, dalam artian tidak dapat seorang muslim untuk melaksanakan ibadah haji kapan mereka mau, tetapi wajib melkasanakannya dalam waktu-waktu tertentu yaitu pada bulan-bulan haji, dimulai sejak Syawal hingga awal Zulhijah.
Didalam AlQuran surat AlBaqoroh ayat 197 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَا لَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِ نَّ خَيْرَ الزَّا دِ التَّقْوٰى ۖ وَا تَّقُوْنِ يٰۤاُ ولِى الْاَ لْبَا بِ
al-hajju asy-hurum ma’luumaat, fa mang farodho fiihinnal-hajja fa laa rofasa wa laa fusuuqo wa laa jidaala fil-hajj, wa maa taf’aluu min khoiriy ya’lam-hulloh, wa tazawwaduu fa inna khoiroz-zaadit-taqwaa wattaquuni yaaa ulil-albaab

“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!”

Ciri-ciri Haji Mabrur

Bila kita berkaca pada hadist Rasulullah SAW melalui sahabat terdekat beliau yang bernama
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Haji yang mabrur tiada balasan baginya kecuali surga”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka hal ini dapat diyakini bahwa semua umat Islam yang melaksanakan ibadah haji pastilah berharap mendapatkan haji mabrur karena akan dibalas dengan surga Allah SWT. Sebagaimana yang saya tulis diawal artikel ini, bahwa untuk mendapatkan haji yang mabrur tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Disini dibutuhkan perjuangan berupa keihklasan didalam menjalankannya hari demi hari. Melapangkan hati dan membenahi diri dari fikiran buruk dan prasangka jelek kepada Tuhan Sang Penentu jalan hidup seseorang, ini bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan. Belum lagi hubungan kita dengan sesama manusia dan makhluk lain tentunya. Setelah حبل من الله masih ada حبل من الناس yang harus dijaga. Setelah kita menjaga hati dan melapangkan hati kita utk hal-hal yang bersifat praduga kepada Allah, maka kita juga wajib menjaga prasangka baik kita kepada manusia. Hanya Allah SWT yang Maha Tahu siapa diantara manusia yang mekasanakan ibadah haji dan mendapatkan haji yang mabrur.
Namun kita sebagai manusi juga dapat mengukur atau melihat dengan prasangka baik kita kepada seseorang yang mendapatkan haji mabrur melalui ciri-ciri yang melekat pada diri mereka sepulangnya dari tanah suci.
Diantara ciri-ciri tersebt adalah :
1. Menebarkan Kedamaian.
Hal ini selaras dengan apa yang disabdakan Rasulullah SAW melalui Hadits Riwayat Ahmad bahwa suatu ketika sahabat Nabi berkata kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?”. Rasulullah pun menjawab, bahwa ciri haji mabrur adalah memberikan makanan dan menebar kedamaian disekitarnya.

2. Berbicara Santun

Ciri haji mabrur yang selanjutnya adalah berbicara dengan santun. Dalam sebuah riwayat lain, Rasulullah pernah ditanya mengenai ciri haji yang mabrur. Kemudian Rasul menjawab “Memberikan makanan dan santun dalam berkata”. Selain menebar kedamaian, seorang haji mabrur haruslah memiliki tutur kata yang santun, sopan dan mengedepankan kedamaian pada lingkunganya.

3. Memiliki Kepedulian Sosial

Sementara itu dalam riwayat sebelumnya, Nabi Muhammad telah menjelaskan dalam jawabannya kepada para sahabat, bahwa ciri haji mabrur diantaranya memberikan makanan kepada orang lain yang membutuhkan. Berdasarkan jawaban Rasulullah tersebut, dapat dikatakan bahwa haji yang mabrur adalah seseorang yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi kepada orang-orang yang berada di sekitarnya. Salah satu wujud kepedulian tersebut dengan memberikan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan.

4. Menghindari Perbuatan Maksiat

Ciri-ciri haji mabrur yang terakhir adalah menghindari perbuatan maksiat. Dalam hadits riwayat muslim, dikisahkan, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa haji mabrur adalah barangsiapa saja yang mengerjakan ibadah haji, dan menghindarkan diri dari perbuatan rafats dan juga fusuq, maka ia akan dikembalikan dalam keadaan dimana saat ia dilahirkan oleh ibunya. Rafats memiliki arti perbuatan yang keji dan tidak senonoh, seperti berzina. Sedangkan fusuq memiliki makna perbuatan maksiat atau perbuatan yang menodai akidah ataupun keimanan. Berdasarkan riwayat tersebut, dapat dipahami bahwa haji yang mabrur adalah seorang haji yang dapat menghindarkan dirinya dari perbuatan keji dan maksiat, baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatannya.
Itulah keempat ciri-ciri haji mabrur yang dapat dilihat pada seseorang yang baru saja melaksanakan ibadah haji.
Semiga apa yang saya goreskan pada tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Wallahu a’lam bis showwab.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA