Hikmah dibalik Santri Terlibat Memotong Kangkung

Hikmah dibalik Santri Terlibat Memotong Kangkung

Para santri ikut serta melibatkan diri dalam rangka mempersiapan konsumsi wirid tarekat Hizib Nahdlatul Wathan yang akan diadakan ntar malam, malam selasa 3/2/20 di Masjid Hamzanwadi setelah selesai melaksanakan shalat Isya’.

Persiapan konsumsi biasa dilakukan setelah para santri pulang dari sekolah, ganti baju, dan langsung menuju ke kediaman Kiyai untuk ikut serta memotong kangkung yang akan dijadikan sebagai sayur lauk setelah selesai acara wiridan.

Persiapan konsumsi seperti ini tidak dilakukan setiap hari, tidak juga setiap minggu. Ini merupakan kegiatan musiman, bukan rutinitas.

Dalam pelaksanaannya, para santri tidak diwajibkan untuk ikut membantu, karena kegiatan ini lebih menekankan terhadap penumbuhan kesadaran untuk terbiasa dan peka terhadap lingkungan. Dan diharapkan dari sini juga mereka mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya gotong royong.

Menumbuhkan sifat peka terhadap diri santri merupakan pembelajaran yang sangat penting. Karena pengalaman seperti ini merupakan ilmu pembiasaan yang akan berdampak positif terhadap diri Santri.

Diharapkan dari tumbuhnya kepekaan dan pembiasaan bagi santri akan dapat memberikan mamfaat, utamanya dilingkungan keluarganya dan dikalangan masyarakat kelak kalau sudah pulang dari pesantren.

Disamping menumbuhkan kepekaan dan pembiasaan, Santri juga diharapkan mendapatkan keberkahan dari Allah karena berkhidmah kepada guru dan lembaganya.

Mungkin kita pernah mendengar istilah berkhidmah (membantu/mengabdi). Mungkin juga kita pernah mendengar atau membaca tentang berapa banyak kisah orang-orang terdahulu yang menuntut ilmu dengan cara berkhidmah kepada gurunya. Misalnya saja kisah dua putra Harun Al Rasyid yang menimba ilmu kepada Imam Al Kisa’i, dimana mereka samapi berebut memasangkan sandal beliau sebagai bentuk khidmah kepadanya. Karena khidmah adalah salah satu cara mendapatkan keberkahan dari Allah.

Khidmah bagi Santri dapat dilakukan paling tidak dengan tiga cara.

Pertama; khidmah dengan diri. Yaitu Santri membantu guru atau mengabdi terhadap lembaganya dengan dirinya langsung. Seperti contoh diatas membantu memotong kangkung.

Kedua; khidmah dengan harta, dimana orangtua mengeluarkan sejumlah harta untuk guru atau lembaganya. Dengan harapan Allah memberikan keberkahan terhadap anaknya. Atau setelah santri memiliki harta sendiri, dia menyumbang kepada madrasahnya. Seperti inilah yang dilakukan oleh ayahandanya Syaikh Zainuddin Abdul Majid, beliu sering memberikan uang atau harta kepada guru-guru yang mengajarkan anaknya.

Yang ketiga; khidmah dengan do’a, dimana seorang santri memanjatkan do’a semoga yang maha kuasa mengampuni dosa gurunya. Seperti ini yang dilakukan oleh Imam Ahmad terhadap Imam Syafi’i. Fath.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA