-HIKMAH PAGI- PHILO SHOPIA “KERAJAAN PAJANG”

-HIKMAH PAGI- PHILO SHOPIA “KERAJAAN PAJANG”

Pada abad ke-14 Pajang sudah disebut dalam kitab Negarakertagama karena dikunjungi oleh Hayam Wuruk dalam perjalanannya memeriksa bagian Barat. Antara abad ke-11 dan 14 di Jawa Tengah Selatan tidak ada Kerajaan tetapi Majapahit masih berkuasa sampai kesana. Sementara itu, di Demak mulai muncul Kerajaan kecil yang didirikan oleh tokoh-tokoh beragama Islam. Ceritera mengenai sejarah Pajang malah termuat dalam kitab Babad Banten yang menyebutkan Ki Andayaningrat berputera 2 orang yaitu, Kebo Kenanga dan Kebo Kanigara.

Pajang terlihat sebagai kerajaan pertama yang muncul di pedalaman Jawa setelah runtuhnya kerajaan Muslim di daerah Pasisir. Menurut naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kerajaan Demak. Beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memberontak terhadap Demak. Putranya yang bergelar Jaka Tingkir setelah dewasa justru mengabdi ke Demak. Adapun Raja Raja Kerajaan Pajang antara lain : Sultan Hadi Wijya, Arya Pangiri, Pangeran Benawa dan lain-lain.

Kerajaan Pajang mencapai masa kejayaannya ketika dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya. Beliau memindahkan kekuasaan Kesultanan Demak di daerah pesisir pantai utara Jawa ke Kesultanan Pajang yang berada di pedalaman Jawa bagian selatan. Adapun kemunduran Kerajaan Pajang antara lain karena tanah Mataram dan Pati adalah dua hadiah Hadiwijaya untuk siapa saja yang mampu menumpas Arya Penangsang tahun 1549. Menurut laporan resmi peperangan, Arya Penangsang tewas dikeroyok Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga. Beliau naik tahta hanya sebentar karena beliau lebih memilih mengundurkan diri dan ingin hidup untuk mengabdi pada agama.

Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang mengalami kekosongan pemerintahan. Pada saat itu Sutawijaya enggan menjadi raja Pajang karena telah memiliki kesultanan Mataram dengan cakupan kekuasaan yang cukup luas. Akhirnya kerajaan Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram.

16 November 2020

Hipzon Putra Azma

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA