Setelah membahas makna sholat secara bahasa dan kaitannya dengaan kebahagiaan. Hari ini kita mencoba mengupasnya dari pengertian istilahiy—yaitu perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan memenuhi syarat dan rukun-rukunnya—lalu kita kaitkan dengan kebahagiaan. Sholat dengan pengertian seperti inilah yang dimaksudkan Rasulullah SAW dalam sabdanya:
وَجُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنٍ فِيْ الصَّلَاةِ
“dan telah dijadikan penghibur/penyejuk hatiku (kebahagiaanku) dalam shalat.” (HR. An-Nasai dan Ahmad)
Bagi Rasulullah SAW Sholat adalah kebahagiaan dan penyejuk hatinya. Hal ini bisa terjadi karena ibadah yang beliau lakukan dilandasi dengan penuh keridhoan yang merupakan salah satu makna dari “qurratu ‘ain” yaitu hushul al-Ridho (lihat *Tafsir Fath al-Qadiyr* atau yang biasa dikenal dengan nama *Tafsir asy-Syaukani* saat menjelaskan surat al-Furqan ayat 74) . Dengan demikian sholat bagi Rasulullah SAW yang dilakukan dengan penuh keridhoan tersebut mendatangkan kebahagian dan penyejuk hati bagi dirinya. Oleh karenanya kita tidak perlu heran bila Rasulullah SAW suka berlama-lama dalam sholatnya bahkan diriwayatkan sampai kakinya bengkak-bengkak. Dan itu tidak beliau rasakan, bahkan saat ditanya: “Mengapa engkau membebani dirimu, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan akan datang.” Beliau menjawab: “ Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur.” (HR. Muslim).
Kenapa beliau bisa seperti itu? Karena tingkat keridhoan yang luar biasa sehingga beliau merasakan kelezatan, kenikmatan yang luar biasa juga dalam beribadah. Ya Allah berikanlah kepada hamba-Mu ini dan sahabat-sahabat hamba agar bisa merasakan kelezatan dalam beribadah kepada-Mu. Kelezatan dan rasa bahagia dalam beribadah yang akhirnya melahirkan rasa rindu untuk bisa bermunajat dan berjumpa pada-Mu ya Rabb. Amiin.
Shalat yang dilakukan dengan penuh keridhaan, akan membuat hati bahagia, jiwa damai, dan menghilangkah kegelisahan hidup. Itu pulalah sebabnya mengapa Rasulullah SAW juga sangat bersungguh-sungguh dalam mengerjakan shalat baik dalam keadaan lapang, maupun saat terhimpit suatu masalah. Dalam satu hadits diriwayatkan:
كان النبي صلى الله عليه و سلم اِذَا حَزَبَهُ أَمْرُ صَلَّى
“ِNabi Muhammad SAW bila ada masalah, beliau mengerjakan shalat.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Dengan riwayat hadits di atas, sebagai teladan sebenarnya Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bila kita menghadapi persoalan mintalah pertolongan kepada Allah melalui sholat. Dan bukankah hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:
وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ
“Mintalah pertolongan kepada Allah dengan kesabaran dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Q.S al-Baqarah: 45).
Sholat yang benar bisa berperan sebagai piranti bagi kita dalam meminta pertolongan kepada Allah dan memohon perlindungan-Nya saat kita menghadapi berbagai permasalahan. Perasaan butuh kepada Allah yang kita manifestasikan dengan sholat dan berdoa kepada-Nya itu akan membawa rasa optimisme dalam hidup ini karena kita punya Rabb yang maha kuasa sebagai tempat kita bergantung dan berrmohon, yang dengan kekuasaan-Nya bisa merubah segala.
Jadi dalam sholat terdapat ‘ibrah’ yang luar biasa untuk kita meraih kebahagiaan, bukan saja di dunia tapi juga di akhirat. Yang pertama, ridho. Dengan ridho kepada Allah kita akan merasa ringan, tenang dan tidak terbebani dalam segala hal. Ringan dalam melaksanakan perintah Allah, ridho dalam menghadapi permasalahan sesulit apapun, ridho atas takdir dan ketentuan-Nya. Dan perasan ridho ini juga yang nantinya akan melahirkan ketenangan, suatu kondisi jiwa yang memang sudah selayaknya ada pada diri kita selaku seorang muslim yang selalu diingatkan untuk berzikir kepada Allah, minimal lima kali dalam sehari yaitu melalui sholat lima waktu.
Sholat ibarat kata, seperti kita men-charge jiwa kita untuk ingat kepada Allah. Di saat kita mau memulai aktivitas di pagi hari, kita mencharge diri kita dengan sholat subuh. Di saat hati kita sudah mulai ada tanda-tanda low batt karena aktivitas keduniaan kita, kita diminta men-charge kembali di waktu zhuhur dan asar, begitu pula di waktu magrib dan isya. Jadi memang sudah sepantasnya dan selayaknya seorang muslim itu tenang dalam hidupnya karena selalu diingatkan untuk berzikir kepada Rabb-nya. Dan salah satu cara untuk ingat kepada Allah yang kemudian melahirkan ketenangan hati, ya… melalui sholat.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Tegakkan shalat untuk mengingat-Ku.“ (QS: Thahaa: 14).
Dan mereka yang ingat kepada Allah, hatinya akan tenang.
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ketahuilah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS: Ar-Ra’du: 28).
Kedua, adanya perasaan bahwa kita tidak sendiri tapi ada yang maha kuasa yang senantiasa bersama kita ( Allahu ash-Shomadu : Allahu tempat kita bersandar/bergantung; Allahu musta’an : Allah yang kepada-Nya kita minta pertolongan). Perasaan ini juga akan melahirkan kenyamanan dan ketidakgelisahan dalam hidup. Karena kita yakin Allah pasti akan menolong hamba-Nya dengan cara-Nya.
Ketiga, Sholat memberikan ibrah agar kita tidak sombong dan merasa sangat butuh kepada yang maha kuasa. Dengan kalimat takbir di saat sholat menyadarkan kita sebagai hamba Allah yang lemah dan tidak layak untuk berlaku sombong. Lalu kita akhiri sholat dengan salam, itu juga menandakan kita butuh pada saudara-saudara kita yang ada di sebelah kanan dan kiri kita. Yang menyadarkan kita bahwa kita adalah bagian dari mereka, kita butuh mereka, dan tidak pantas kita sombong pada mereka. Oleh karenanya kita sapa mereka dengan kalimat salam yang melambangkan kedamaian. Dan bagi mereka yang ingin berdamai dengan orang lain, mutlak harus menghilangkan kesombongan.
Keempat, Karena untuk bahagia, kita tidak bisa sendiri, maka sholat mengajarkan kepada kita untuk bisa hidup bersama dalam kebersamaan tanpa memandang posisi dan status sosial. Aspek kebersamaan ini bisa kita lihat misalnya, pada gerakan sholat yang sama dan tidak ada perbedaan siapapun orangnya dan apapun status sosialnya. Contoh yang lain misalnya, ayat ‘iyyaka na’budu wa iyya ka nasta’in, ihdinash shirot al-mustaqim” yang kita baca. Pada kalimat ini menggunakan kata ganti kami (nahnu/kami, bukan ana/saya) meski kita sholat sendiri. Bahkan kalau kita rubah dengan kata ganti “ana” sehingga menjadi ‘iyya ka a’budu wa iyya ka asta’in ihdiniy shirot al-mustaqim”, misalnya maka sholat kita menjadi batal, meski secara kaidah nahwu (kaidah bahasa Arab) itu benar. Kenapa? Karena kita sudah melakukan tahrif, merubah ayat al-Qur-an.
Jadi kalau ingin bahagia ajak orang lain untuk berbahagia..itulah yang pada renungan sebelumnya disebut dengan “idkholu as-surus ‘ala qolbi al-mukmin” (membuat hati orang muknin berbahagia).
Dan bila kita mengajak orang lain berbahagia, in syaa Allah kita akan menjadi orang yang paling berbahagia.
من اسعد الناس ؟ من اسعد الناس
“Siapa orang yang paling bahagia? Orang yang membahagiakan orang lain.”
Untuk mengajak orang lain berbahagia, ya tentunya dengan menebarkan kebaikan. Itulah mengapa Allah memerintahkan kita untuk menebarkan kebaikan setelah melakukan sholat dan ibadah
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱرْكَعُوا۟ وَٱسْجُدُوا۟ وَٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمْ وَٱفْعَلُوا۟ ٱلْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebaikan, supaya kamu mendapat kebahagiaan/ kemenangan ( Q.S.al-Hajj : 77).
Wallahu a’lam.
Ditulis dalam perjalanan menuju STAI Imam Syafii Cianjur, mohon maaf bila ada salah.
Kita sambung lagi esok Shubuh in syaa Allah. Semoga bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh kedua puluh, 18062020)




