Oleh: Ust. Dr (C) H. Khairuddin Khairy, M. A
Sikap takut tidak mesti hanya berupa tanggapan emosi terhadap ancaman. Ada juga rasa takut yang timbul karena kerinduan sebagai bentuk kedalaman spritualitas seseorang. Salah satu bentuk takut yang mengkhawatirkan goncangan spritual seorang hamba adalah takut dalam ketaatan. Bukan takut terhadap laku maksiat.
Sebagian ulama berkata:
وجل العارف من طاعته أكثر من وجِلِه من مخالفته لأن المخالفة تمحوها التوبة والطاعة تطلب لتصحيح الغرض
“Ketakutan seorang Arif billah dari ketaatan yang ia lakukan lebih besar dari ketakutannya pada pelanggaran. Sebab, pelanggaran dapat dihapus dengan taubat, sedangkan ketaatan dituntut untuk memperbaiki niat/tujuan”
(Dinukil oleh para Imam, semisal al-Mawardi, Izzuddin bin Abdissalam, al-Qurthubi, dan lain-lain dalam tafsir mereka dengan sedikit perbedaan redaksi)
Maknanya, seseorang yang mengenal Allah dengan baik sehingga selalu mengerjakan perintah dan menjauhi larangannya serta menyibukkan diri dengan berbagai kebaikan, maka dia akan lebih mengkhawatirkan dirinya tidak ikhlas dalam melakukan ketaatan daripada mengkhawatirkan berbuat maksiat sebab memurnikan niat karena Allah sangatlah sulit, jauh lebih sulit daripada bertobat.
Bahkan, seorang yang beristighfar dengan suara dan lidahnya semata, khawatir malah menjadikannya makin jauh dari ampunan Allah Ta’ala karena ia tidak menghadirkan hatinya dan memenuhi syarat istighfar. Bahkan Rabiah Adawiyah, sebagaimana dikutip Imam Ghazzali dalam Ihya’, mengatakan استغفارنا يحتاج إلى استغفار كثير “istighfar kita perlu diistighfarkan lagi dengan istighfar yang banyak”.



