HIMMAH NW: TIMBUL DALAM ZAMAN ATAU SEBALIKNYA

HIMMAH NW: TIMBUL DALAM ZAMAN ATAU SEBALIKNYA

HIMMAH NW: TIMBUL DALAM ZAMAN ATAU SEBALIKNYA

Oleh Salman Faris

Akar terbentuknya Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan (HIMMAH NW) tidak dapat dilepaskan dari Muktamar ke-4 NW pada tahun 1966 (22 Juli s.d. 1 Agustus). Setelah itu, untuk mengukuhkan, Himmah NW mengadakan kongres pada tahun 1969, tepatnya 27-30 Juni. Tentu saja saya belum lahir ketika Himmah NW terbentuk. Oleh karena itu, saya hanya ingin menyinggung tentang pengamatan bersentuhan langsung dengan kegiatan Himmah NW. sebelum itu, saya ingin melihat pohon ideologis Himmah dengan melihat pesan sentral NW sebagai pion pendirian Himmah. Meskipun dalam garis tujuannya, Himmah NW merupakan badan otonom yang digerakkan oleh orang NW yang berstatus mahasiswa dan orang NW yang berjiwa manusia, namun sejatinya, ia tak dapat dilepaskan dari laju derap NW sebagai satu organiasi kemasyarakatan yang berkencanakan ahlusunnah wal jamaah. Maksudnya, otonom tak diartikan sebagai kemandirian untuk berpikir, bertindak, dan berpendapat untuk kemajuan NW melainkan, boleh saya katakan otonomi dalam konteks perkawinan Himmah dengan NW adalah terkoridori doktrin sami’na waato’na. situasi ini, bisa jadi sebagai salah satu sebab kenapa kibaran Himmah NW tidak sederas darah muda yang menakhodai organisasi kemahasiswaan tersebut.

Dalam bayangan saya, Himmah NW dengan basis ideologi ke-NW-an adalah kiblat pemikir yang mandiri yang, berkontribusi secara otonom juga kepada pengembangan NW. Dalam hal ini, posisi ideal itu mungkin dapat dilihat dalam analogi yang menggambarkan pesilat Himmah membuat dan menemukan jurus jitu dalam menagrungi zaman secara bebas namun nilai dan urat jurus tersebut tetap sealir-seulir dengan ke-NW-an. Namun rupanya, bayangan saya terlalu gelap dan terlelap karena saya sendiri belum melihat secara nyata jurus dalam analogi tersebut. Dengan kata lain, Himmah NW tetap memberlakukan otonomi itu sebagai permadani pengabdian secara ansih kepada NW. Dan ini saya maknakan Himmah NW sebenarnya sama saja dengan badan otonom yang lain, bahkan tak lebih dari sekadar jamaah NW.

Lantas apa sebenarnya masalah utama Himmah NW? jika menghukum roda organisasi, dapat dilihat bahwa Himmah NW berjalan sebagai sebuah perkumpulan. Mempunyai mekanisme dan platform pengurus yang jelas, bahkan terus dikembangkan hingga menjangkau sebagian daerah di Indonesia. Jadi, organisasi ini sebenarnya berjalan. Tak pernah berhenti bernafas meskipun kadang terlihat beriak dalam lumpur. Dengan begitu, secara keorganisasian, tidak ada masalah dalam raga Himmah NW. Maka saya menyentuh sedikit saja yang bagi pandangan saya, ini ialah masalah yang terus mengaliri Himmah NW. terbatasnya intelektual yang mempunyai kemampuan lengkap, baik sebagai intelektual maupun menjadi pencipta pasar intelektualitas. Jika merujuk kepada penjenjangan karir sebagai tokoh terpenting dalam perubahan Indonesia, maka intelektual adalah medan magnet. Namun karena intelektual Himmah NW terbatas, jadi hingga sekarang, belum mengemuka di remah medan magnet yang bernama Indonesia. Keterbatasan ini tidak saja menimbulkan redupnya sinar bintang, namun gelapnya medan magnet tempat pertarungan kaum intelektual karena rupanya intelektual yang ada di Himmah NW sangat lemah dalam mencipta apalagi merebut pasar. Pasar intelektual di Indonesia sudah jelas kodenya yakni sebagai pengamat atau sebagai penulis. Termasuk juga ialah forum intelektual yang bernada ganas dan kejam. Misalnya intelektual penderma penguasa (sejauh itu tak melanggar hukum, sudah banyak intelektual Indonesia yang seperti ini dan orang Indonesia fine-fine saja).

Kenyataan di atas bisa jadi ditimbulkan oleh habitus yang membentuk intelektual Himmah NW. Habitus pesantren yang sering disalahartikan dan disalahfungsikan. Sikap rendah hati diterjemahkan sebagai merendah diri sehingga begitu ada pasar di depan mata, intelektual Himmah lebih memilih menutup muka dengan sajadah dibandingkan terjun sebagai aktor utama di arena pertarungan intelektual Indonesia. Karena habitus rendah hati tersebut menyelimuti relung terdalam mereka, akhirnya daya intelektual tersebut berhenti dan hanya eksis di ruang senyap dan sempit. Dalam situasi seperti ini, saya membayangkan intelektual Himmah tampil di depan melontarkan pemikiran kritis tentang omnibus law, misalnya. Atau mengambil tempat di podium untuk melontarkan pemikiran kritis tentang keadaan negara dan sistem kebangsaan yang lagi ramai diperbincangkan oleh pemain liar di medan tempur. Dalam kasus ini, bagi pandangan saya, intelektual Himmah NW sudah waktunya mendorong diri di salah satu garis pertarungan, jika tidak, maka selamanya menjadi intelektual luar line-up.

Rupanya, situasi di atas pun nampak ketika saya menariknya ke dalam tubuh Himmah NW itu sendiri. Maksudnya, karena intelektual ini bermental ruang sempit, maka jadilah mereka sebagai intelektual payung, yakni hanya bertungku pada satu tiang hanya untuk menaungi tak berbilang manusia dan permasalahan. Jelasnya ialah, Himmah NW tak berani melahirkan tokoh, baik tokoh agama, tokoh sosial, tokoh budaya, tokoh ekonomi, tokoh politik, bahkan tokoh kontroversial. Dalam pengertian lain, meskipun kemampuan intelektual Himmah NW melebihi standar yang diperlukan dalam penokohan, mereka tak berani keluar dari cangkang. Mereka lebih memilih berpegang pada sentralitas dan pusat kekuatan dibandingkan menciptakan ruas baru untuk melahirkan kekuatan baru. Akibatnya. Himmah NW yang diharapkan sebagai lokomotif penerbitan tokoh baru, justeru lebih memilih kembali kepada dasar memulai: sami’na waato’na. Tentu saja, saya patut mencemaskan jika akhirnya Himmah NW menjadi beban NW juga.

Akhirnya, saya ingin mengatakan begini, saya berkeyakinan Himmah NW mempunyai intelektual yang berkapasitas lebih dari syarat yang diperlukan, namun keyakinan saya itu hanya tenggelam di congkak zaman jika akhirnya Himmah NW berada di payung sama hanya untuk membesarkan NW. Sungguah disayangakan karena pada dasarnya Himmah NW mampu menanam beribu-ribu tiang payung di lempengan dunia yang lain. Tentu saja payung yang saya maksudkan ialah NW. Lalu untuk apa Himmah NW didirikan kalau hanya untuk meneguk di remah yang itu-itu saja, tanpa membantu NW melahirkan sebanyak-banyak tokoh, sebanyak-banyak pemimpin, sebanyak-banyak intelektual, sebanyak-banyak kemungkinan, sebanyak-banyaknya peluang dan jalan?

Jadilah intelektual merdeka yang tidak hilang rasa hormat dan rasa bakti kepada NW.
Jadilah tokoh berdikari tanpa membuang sumpah dan bai’at yang sudah diresap di hadapan maulana.

Malaysia, 28/02/2020

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA