IKHLAS DALAM BERAMAL ADALAH KUNCI KEBAHAGIAAN
Oleh : Kyai Nopky Answara Pimpinan Ponpes Al-Halimiyyah NW Kuningan
عن ابي أمامة رضي الله عنه قال, قال رسول الله صل الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ تَعَالَي لاَ يَقْبَلُ مِنَ اْلعَمَلِ إِلاَّ مَاكَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتَغِيَ بِهِ وَجْهُهُ (رواه ابواداودوالنسائ)
“Dari Abi Umamah rahiallahu `anhu berkata, bersabda Rasulullah Shlallaahu `alaihi wa Sallam, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tiada akan menerima amal, kecuali yang mengerjakannya seorang yang ikhlas, dan dengan amal itu dicarinya adalah ridha-Nya (Allah)”. (HR.Abu Daud dan An-Nasai)
Untuk sababul wurud hadits di atas, di sebutkan oleh al-Imam An-Nasai dari Abu Umamah al-Bahili [2], beliau berkata bahwa ada seorang laki-laki datang menghadap Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam dan berkata, ”Bagaimana pendapat engkau tentang seorang laki-laki yang bertempur di jalan Allah dengan niat mencari pahala, nama, harta?. Dalam hal ini, Nabi bersabda; ”Dia tidak akan mendapat apa-apa!” Beliau ulang kalimat itu sampai tiga kali dan kemudian beliau tegaskan lagi dengan bersabda: ”Sesungguhnya Allah Ta’ala tiada akan menerima amal…dan seterusnya”.
Amal yang pasti diterima adalah yang dikerjakan dengan ikhlas, yakni amal yang semata mata hanya karena Allah subahanahu wa ta`ala dan tidak ada harapan kepada makhluk sedikit pun. Niat ikhlas, bisa dilakukan sebelum amal dilakukan dan bisa juga disaat melakukan amal atau setelah amal dilakukan. Salah satu karunia Allah Subhanahu wa ta`ala yang harus disyukuri adalah adanya kesempatan untuk beramal. Menjadi jalan kebaikan dan memberikan manfaat kepada orang lain. Karenanya, jangan pernah menunda kebaikan ketika kesempatan itu datang. Lakukan kebaikan semaksimal mungkin dan lupakan jasa yang sudah dilakukan. Serahkan segalanya hanya kepada Allah Subhanahu wa ta`ala. Dan itulah sebagai gambaran aplikasi dari amal yang ikhlas.
Sikap ikhlas dalam beramal merupakan sikap tiada mengharapkan tujuan lain selain dari pada untuk mendekatkan diri kepada Allah subahanahu wa ta`ala. Ikhlas dalam beramal tidak boleh diikuti dengan niat riya, yaitu mengharapkan pujian atau kehormatan dari sesamanya. Karena amal yang akan dibalas oleh Allah Subhanahu wa ta`ala, hanyaalah amal yang dilakukan karena mengharap kasih dan sayang-Nya, yaitu dengan keikhlasan di dalam hatinya.
Secara etimologis, kata ikhlas merupakan bentuk mashdar (invinitif) dari kata akhlasha yang berasal dari akar kata khalasha. Menurut Luis Ma’luuf, kata khalasha ini mengandung beberapa macam arti sesuai dengan konteks kalimatnya. Bisa berarti shafaa (jernih), najaa wa salima (selamat), washala (sampai), dan i’tazala (memisahkan diri). Maksudnya, didalam menjalankan amal ibadah apa saja harus disertai dengan niat yang ikhlas tanpa pamrih apapun. Sementara itu, pengertian ikhlas dalam syariat Islam adalah sucinya niat, bersihnya hati dari sirik dan riya serta hanya menginginkan ridha Allah Subhanahu wa ta`ala semata dalam segala kepercayaan, perkataan dan perbuatannya.
Ketika kita teliti lebih lanjut, untuk kata ikhlas sendiri sebenarnya tidak dijumpai secara langsung penggunaannya dalam al-Qur’an. Dan yang ada hanyalah kata-kata yang memiliki makna yang sama dengan kata ikhlas tersebut. Secara keseluruhan terdapat dalam tiga puluh ayat dengan penggunaan kata yang beragam. Kata-kata tersebut antara lain, kata khalashuu, akhlashnaahum, akhlashuu, astakhlish, al-khaalish, dan khaalish masing-masing sebanyak satu kali. Selanjutnya kata khaalishah sebanyak lima kali, mukhlish (tunggal) tiga kali, mukhlishuun (jamak) satu kali, mukhlishiin (jamak) tujuh kali, mukhlash (tunggal) satu kali, dan mukhlashiin (jamak) sebanyak delapan kali.
Sebagai contoh dalam QS Al-Bayyinah (98) ayat 5, disebutkan;
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam(menjalankan)agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.”( QS; Al-Bayyinah (98); 5)
Sebagai penegasan dalam ayat diatas adalah perintah untuk beribadah kepada Allah subahanahu wa ta`ala dan menaati ajaran-Nya dengan lurus, yakni ibadah tidak bercampur dengan sifat riya’ maupun syirik misalnya. Seseorang yang melaksanakan ibadah, tetapi masih mempercayai adanya kekuatan selain Allah, maka orang tersebut dikatakan syirik.
Selain ayat al-Qur`an seperti diatas, beberapa ayat lainnya yang memeiliki penekanan pada sikap ikhlas dalam beramal ini dengan tanpa ada riya misalnya, dalam al-Qur`an dapat kita perhatikan firman Allah Subhanahu wa ta`ala, berikut ini:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharap berjumpa dengan tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan jangan mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.”(QS; Al-Kahfi (18);110)
Dalam ayat lainnya, dapat kita perhatikan pada QS. Al An’am ayat 162-163, berikut ini;
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama tama menyerahkan diri (kepada Allah).”( QS. Al-An’am (6); 162-163)
Jika kita perhatikan dengan seksama, maka substansi dari ayat al-Qur`an diatas ini adalah ikhlas. Dalam hal ini, komitmen manusia dengan Allah Subhanahu wa ta`ala yang merupakan pernyataan sikap, baik hidup maupun mati yang semata mata untuk mendapatkan ridha dari-Nya.
Dalam hal ini, sebagai kewajiban manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta`ala adalah dengan ikhlas. Ikhlas disini berarti melaksanakan perbuatan semata mata untuk mendapatkan ridha dari Allah dengan tidak bercampur baur dengan hal-hal lainnya. Dalam menjalankan ibadah, seseorang tersebut tidak memasukkan unsur-unsur yang dapat mengurangi nilai ibadah seseorang, misalnya saja riya’. Sifat riya’ walaupun sedikit akan mengurangi nilai ibadah tersebut dan tidak dapat dikatakan ikhlas. Orang ikhlas banyak memperoleh manfaat dalam kehidupannya, misalnya, kesulitan hidupnya dapat terbantu oleh ibadah yang diterima oleh Allah Subhanahu wa ta`ala.
Menurut Zunun al-Mishri yang dikutip oleh al-Imam al-Qusyari menjelaskan bahwa ada tiga hal sebagai tanda-tanda seseorang yang ikhlas, sebagaimana dalam penjelasan beliau berikut ini:
ثَلَاثٌ مِنْ عَلَامَةِ اْلاِخْلَاصُ اِسْتَوَاءُ اْلمَدْحِ وَالذَّمِّ مِنَ اْلعَامَّةِ وَنِسْيَانِ رُؤْيَةِ اْلعَمَلِ فِى اْلاَعْمَالِ
وَاقْتِضَاءُ ثَوَابِ اْلاَعْمَالِ فِى اْلاَخِرَةِ
“Tanda ikhlas ada tiga tanda, yaitu pujian dan cercaan dari manusia sama saja baginya, melupakan amal yang telah dilakukannya, dan hanya mengharapkan ganjaran amalnya di akhirat”.
Salah satu hal yang sangat menganggu keikhlasan seseorang dalam beramal adalah riya. Dan hal inipun, memang sangat dikhawatirkan oleh Nabi Shallaallahu `alahi wa sallam, sebagaimana di sebutkan dalam salah satu haditsnya.
عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً[5]
dari [Mahmud bin Labid] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Riya`, Allah ‘azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka: Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan di dunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan disisi mereka?”(HR. Ahmad dengan sanad hasan.)
Hadis Nabi di atas mengandung pengajaran bahwa Rasulullah Shallallaahu`alihi wa sallam sangat mengkhawatirkan umatnya terjerumus kedalam dosa. Dan riya merupakan salah satu sifat syirik kepada Allah yang harus dijauhi oleh orang-orang yang beriman. Sementara itu, keharaman syirik sudah sangat jelas di dalam Al-Quran dan Sunnah. Dan kebanyakan orang memang menganggap bahwa riya` itu adalah masalah kecil, masalah yang tidak terlalu penting, padahal dosa dari riya` itu begitu besar sekali, sehingga riya` dapat mengantarkan seseorang itu ke dalam neraka. Seperti telah digambarkan jelas dalam hadis tersebut.
Oleh karenanya, menjaga sifat riya` “menempel” dengan amal kebajikan harus kita dihindari. Agar tidak terjadi kesia-siaan dalam amal ibadah kita. Apa gunanya melakukan amal ibadah tetapi malah menjerumuskan kita ke jalan kehancuran. Kehati-hatian dalam melakukan suatu amal kebaikan adalah hal yang harus kita lakukan, agar kita terhindar dari malapetaka dan kesia-siaan.
Untuk menghindari diri dari sifat riya` tersebut adalah dengan senantiasa bersifat ikhlas dalam melakukan amal ibadah tersebut. Ikhlas adalah ketetapan hati mencari keridhaan Allah Subahanahu wa ta`ala dan pahala dari-Nya dalam melakukan segala kebajikan. Jika kita dalam melakukan kebajikan dengan niat yang ikhlas, maka kita akan terbebas dari sifat riya`.
Dan selain itu sesungguhnya suatu amal akan diterimanya di sisi Allah Subhanahu wa ta`ala, jika memenuhi dua syarat, yaitu niat ikhlas dan mengikuti Sunnah. Oleh karena itu Allah Shallallaahu`alihi wa sallam akan melihat hati manusia, apakah ikhlas, dan melihat amalnya, apakah sesuai dengan tuntunan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan harta kamu, tetapi Dia (Allah) melihat hati kamu dan amal kamu”. (HR. Muslim)
Dalam pandangan salah seorang ulama, Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bahwa sikap ikhlas merupakan salah satu pilar strategis untuk mempertahankan iman dan taqwa. Dan beliau seringkali memberikan wejangan tentang pentingnya sikap ikhlas dalam beramal. Oleh sebab itu, beliaupun seringkali mengkritisi seseorang yang menjalankan aktivitas atau amaliahnya setiap hari itu dengan hanya untuk mengejar tiga Si, yaitu nasi basi, sambal terasi dan satu kursi. [6] Hal inipun, tentunya sangat mirip sekali dengan pertanyaan sahabat Nabi yang telah disinggung dalam asbabul wurud hadits tersebut. Dimana ada seorang laki-laki datang menghadap Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam dan berkata, ”Bagaimana pendapat engkau tentang seorang laki-laki yang bertempur di jalan Allah dengan niat mencari pahala, nama, harta? Maka Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda ”Dia tidak akan mendapat apa-apa!.
Selain itu, Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid telah memberikan contoh sikap ikhlas dalam beramal itu dengan menyebut sosok seorang sahabat Nabi yang bernama Khalid bin Walid. Sahabat yang satu ini adalah seorang jenderal atau panglima perang terkenal tangguh pada zaman Nabi yang pernah diberhentikan oleh Umar ibn Khatthab sebagai panglima perang, lantaran sesuatu dan lain hal. Meski demikian, bagi Khalid bin Walid tetap tegar dan konsisten ikut bertempur dan berjuang dengan ikhlas memperjuangkan dan membela agama Islam. Ilustrasi sosok pribadi Khalid bin Walid yang selalu bersikap ikhlas ini, direkam oleh Maulana Syaikh dalam karyanya; Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru, berikut ini;
“Manusia ikhlas ada tandanya
Tetap bejuang dengan setia
Dimana saja mereka berada
Tidak tergantung jadi pemuka
———-
Contohnya Khalid dipecat Umar
Di perang Yarmuk sedang berkobar
Jiwa beliau bertambah besar
bertambah ikhlas berjuang sabar”.
Setelah kita mengetahui bahwasannya, Ikhlas dalam beramal adalah sesuatu perkara yang sulit untuk dilakukan karena kuatnya godaan Syaitan dan Nafsu Syahwat dari setiap hamba itu sendiri yang jarang sekali orang bisa mengawalnya. Tetapi sebagai seorang muslim kita semua wajib untuk melatih diri sampai pada akhirnya kita dapat merasakan kemanisan dari keikhlasan tersebut, sehingga amal yang kita kerjakan tidaklah lagi menjadi kesia-siaan semata di sisi Allah Azza Wajalla. Dan juga riya adalah satu pembahasan perkara yang dapat merusakkan amal kita, dan nantinya akan meluas lagi jika kita tela’ah lebih jauh perkara-perkara yang dapat merusak amal kita, seperti Sum’ah dan sebagainya yang in syaa Allah kita akan temukan nanti.




