Jebakan Gibran-the Gibran Trap

Jebakan Gibran-the Gibran Trap

Yang menarik untuk menjadi bahasan kenapa Capres 02 performancenya lebih parah dibanding penampilannya pada debat pertama. Penilaian tentang performance capres dalam debat tersebut hasil penilaian telah di published dan dipaparkan oleh berbagai institusi dan analis yang memberikan penilaian bahwa Capres 01 tetap unggul/leading diikuti oleh Capres 03.

Menjadi tanda tanya besar kenapa kok Capres 02 seperti tidak siap memasuki arena debat yang merupakan event strategik. Apalagi debat ketiga ini tema debatnya seyogyanya menjadi milik Capres 02, karena tema debat menyangkut pertahanan keamanan.

Pertama, tentu saja bisa disebabkan oleh berbagai faktor, tapi yang menarik untuk disampaikan disini bahwa Capres 02 seperti nya terkena “the Gibran Trap”.
Kita teringat apa yang disampaikan oleh Gibran pada acara deklarasi cawapres yang dipilih mendampingi Prabowo Subianto. Pada acara tersebut Gibran mengatakan “Tenang pak Prabowo, tenang saja, saya sudah ada disini”. Ungkapan atau statemen itu ternyata sesuatu yang bergolak dalam benak dan pikiran yang tumbuh menjadi keyakinan menang sudah ditangan. Suasana seperti itulah yang memenuhi psikologis seorang Prabowo.

Masyarakat paham bahwa peran dan dukungan Jkw sangat vital dan strategik dan dianggap sangat menentukan kesuksesan capres yang didukung stau di-endorse oleh presiden incumbent.

Situasi itulah yang mungkin membuat Capres 02 sangat yakin bahwa dengan berpasangan dengan Gibran, anaknya Jkw, presiden yang dalam “survey” masih sangat populer dan punya pendukung akan memudahkan kemenangannya, sehingga Capres 02 takes it for granted, sangat yakin akan menang. Keyakinan berlebihan itu bisa jadi menyebabkan Capres 02 tidak terlalu perlu menyiapkan diri untuk menguasai rincian berbagai permasalahan bangsa dan penguasaan berbagai data strategik, serta persiapan untuk menguasai secara utuh visi missi yang sudah diserahkan ke KPU yang akan jadi arah, kebijakan dan program yang ditawarkan sebagai solusi pembangunan bangsa ke depan.

Kedua, “pola sikap dan pola tindak seseorang ditentukan dan dibentuk oleh background dan pengalamannya”. Capres 02 jelas pola sikap dan pola tindaknya dibentuk oleh kehidupan dalam keluarga berada, terhormat dan berpendidikan serta sebagian besar pengalamannya diisi didalam kehidupan militer, sebagai tentara. Seorang tentara dalam proses pekerjaan berdasarkan struktur dan sistem komando dimana para komandan atau petinggi tidak terlibat langsung dalam perumusan alternatif keputusan terhadap berbagai permasalahan, melainkan menerima hasil kerja dari bawahan.

Beda dengan pola tindak dan pola sikap Capres 01 yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang senang membaca dan mencari ilmu serta informasi, juga diperkuat oleh kultur keluarga pejuang kemerdekaan. Sehingga Capres 01 ini senang berdiskusi dan berdialog untuk mencari masukan dan memahami permasalahan ditengah masyarakat. Pola tindaknya sangat jelas dalam debat pertama dan kedua Capres 01 ingin mencari jawaban dan ingin memberikan solusi terhadap permasalahan yang riil yang diperkuat oleh data apa yang dihadapi masyarakat dan bangsa ke depan. Capres 01 itu berdebat dengan gagasan perubahan sehingga terkesan seperti menyerang. Sebenarnya Capres 01 tidak menyerang tapi ingin merubah kebijakan yang sedang berjalan yang membuat masyarakat belum sejahtera dan tidak merasakan adanya keadilan serta negara ini belum menjadi pemain di tataran global.

Oleh karena Capres 02 policynya meneruskan dan melanjutkan kebijakan presiden incumbent dan berbagai kebijakan itulah yang menjadi agenda perubahan Capres 01 dan disampaikan sebagai response dan pertanyaan yang diajukan dan dengan memakai berbagai data akurat kepada Capres 02 dan lainnya. Capres 01 terkesan menyerang karena posisi dan inti pertanyaannya ingin melakukan perubahan kebijakan dan berbagai pertanyaan itu diperkuat dengan gagasan dan data ilmiah.

Capres 02 terlalu terbuai oleh “dukungan” cawapresnya dengan segala kekuatan yang ada digenggaman bapaknya. Hal itulah yang menjadikan Capres 02 over confidence dan menganggap semua seperti “bisa diolah” dan diarahkan untuk mendukung kemenangannya. Capres 02 lupa bahwa debat itu forum langsung, live, untuk menguji performance kandidat. Debat itu forum ujian bagaimana penguasaan capres terhadap berbagai permasalahan bangsa. Jadi setiap capres yang berdebat harus siap dan menyiapkan diri secara paripurna.

Jebakan Gibran atau the Gibran Trap rupanya sedang menghantui Capres 02 sehingga dalam debat seolah seperti terjangkit “demam panggung” yang membuat penampilannya memprihatinkan atau poor performance.

Panggung debat capres 2024 merupakan panggungnya Capres 01. Mas Anies terlihat sebagai tokoh, tampil sebagai pemimpin paripurna – a complete leader, pemimpin yang akan membawa perubahan bagi bangsa dan negara ke depan.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA